Kamis, 23 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Bisnis

Rokok Dominasi Realisasi Investasi Jatim

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (DONNY SETIAWAN/RADAR KUDUS)

JawaPos.com – Nilai realisasi investasi tertinggi di Jatim pada semester pertama 2017 berasal dari perusahaan rokok. Realisasi investasi tidak hanya berlaku untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN), tetapi juga penanaman modal asing (PMA).

Berdasar data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Timur, realisasi investasi pada semester pertama untuk PMDN mencapai Rp 24,95 triliun.

Untuk realisasi investasi PMA di Jatim, jumlahnya sebesar Rp 8,97 triliun. Urutan pertama nilai realisasi investasi PMDN berasal dari PT Karyadibya Mahardhika di Pasuruan. Perusahaan itu merupakan produsen rokok yang baru saja dibeli Japan Tobacco.

Total nilai realisasi investasi perseroan mencapai Rp 891 miliar dengan tambahan penyerapan tenaga kerja berjumlah 804 orang.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Gudang Garam Tbk Heru Budiman menyatakan, jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar menjadi salah satu daya tarik bagi industri tersebut. ’’Clue-nya jika masih ada perusahaan asing yang berminat masuk ke sektor itu, kira-kira potensinya seperti apa?’’ ujar Heru.

Heru juga membantah bahwa PT Karyadibya Mahardhika merupakan anak usaha dari PT Gudang Garam Tbk. ’’Perusahaan tersebut bukan anak perusahaan kami dan tidak terafiliasi dengan Gudang Garam sama sekali,” ungkapnya. Saat ini PT Gudang Garam Tbk memiliki 27 anak perusahaan dengan kepemilikan langsung maupun tidak langsung.

Posisi kedua adalah industri makanan, yakni PT Tunas Baru Lampung. Perusahaan di Sidoarjo itu menggelontorkan dana investasi senilai Rp 721 miliar untuk pengolahan minyak nabati.

Lantas, posisi ketiga lagi-lagi diduduki perusahaan rokok, yakni PT Bentoel Internasional Investama Tbk, senilai Rp 284 miliar. Sayangnya, tambahan investasi tersebut tidak menyerap tambahan lapangan pekerjaan.

Sementara itu, untuk PMA, perusahaan rokok berada di posisi kedua dengan nilai realisasi investasi terbesar di Jatim. Yakni, PT Alam Indo Megah. Perusahaan yang bergerak di pembuatan bumbu rokok tersebut berasal dari Belanda dengan nilai realisasi investasi USD 32,697 juta.

Nilai investasi tertinggi ditanamkan produsen air minum dalam kemasan (AMDK) PT Tirta Investama dari Singapura yang mencapai USD 37,308 juta. Menyusul perusahaan bumbu masak asal Korea Selatan, Miwon, senilai USD 30,330 juta.

’’Untuk ke depan, memang industri rokok di tanah air masih menjanjikan sehingga masih ada yang mau berinvestasi di sektor tersebut. Terutama untuk Jawa Timur yang mampu memasok sebesar 60 persen terhadap total produksi rokok di Indonesia,’’ kata Ketua Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) Surabaya Sulami Bahar.

Indonesia masih menduduki peringkat kedua sebagai pasar terbesar untuk industri hasil tembakau setelah Tiongkok. Pada tahun lalu produksi rokok di tanah air tercatat mencapai 342 miliar batang. Sulami mengakui, industri rokok terus digempur kampanye negatif, kenaikan cukai rokok, maupun pembatasan dalam bentuk perda kawasan tanpa rokok.

’’Tetapi, industri ini tetap menjadi penyumbang perolehan cukai terbesar bagi pemerintah. Untuk kenaikan cukai tahun depan pun, kami harapkan hanya sebesar angka inflasi karena yang paling terpukul dengan kenaikan cukai justru industri rokok kecil,’’ tuturnya. (*)

(vir/c20/noe)

Sponsored Content

loading...
 TOP