Rabu, 27 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Tes DNA Bayi Hasil Perkosaan Ini Tidak Sesuai dengan DNA Pelaku

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Pixabay)

JawaPos.com – Malang sekali anak perempuan berusia 10 tahun ini. Dia diperkosa, hamil, melahirkan, dan menjadi ibu termuda di India.

Belum usai derita itu, polisi kemudian membongkar lagi kasus tersebut. Alasannya, setelah dilakukan tes forensik, ternyata, sampel DNA bayi yang dilahirkannya tidak sesuai dengan DNA pamannya yang dituntut memperkosanya.

Korban mengatakan dia diperkosa beberapa kali dalam tujuh bulan terakhir oleh pamannya. Terdakwa, yang berusia 40-an tahun, kemudian ditangkap dan diadili di pengadilan khusus yang menangani kejahatan terhadap anak-anak. Dia dipenjara dan tidak menyangkal semua tuduhan itu.

Tetapi, setelah hasil DNA ini keluar timbul pertanyaan besar? Apakah korban sudah diperkosa oleh orang lain juga? Malangnya...

Ayah gadis itu mengatakan bahwa terdakwa tidak membantah tuduhan terhadapnya. Pun demikian pernyataan polisi. ”Sejauh ini tidak ada yang memikirkan kemungkinan lain. Gadis tersebut telah memberi kesaksian ke pengadilan. Dia dengan jelas menyebutkan pamannya dan mengungkapkan fakta tentang perkosaan yang dialaminya,” ujar seorang pejabat yang terlibat dalam penyelidikan tersebut.

Ibu gadis tersebut pun dilaporkan memaparkan kepada penyidik bahwa mereka tidak punya tersangka lain. Namun, dengan hasil ini, semuanya jadi berubah.

Pada Selasa (12/9), polisi dan konselor mengunjungi keluarga tersebut lagi untuk berbicara dengan korban. Seorang pejabat senior polisi mengatakan kepada BBC bahwa mereka akan meminta pemeriksaan ulang tes forensik untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam laporan DNA tersebut.

Kehamilannya baru diketahui pada pertengahan Juli lalu saat dia mengeluh sakit perut dan orang tuanya membawanya ke rumah sakit. Pengadilan setempat di Chandigarh menolak permohonan aborsi dengan alasan bahwa usai kehamilannya sudah tua.

Padahal, dokter menyarankan agar dilakukan aborsi karena ”terlalu berisiko.” Kasus itu kemudian banding ke Mahkamah Agung yang juga menolak memberikan izin aborsi.

Kasus tersebut mendominasi berita utama di India selama berminggu-minggu. Hukum India tidak mengizinkan aborsi setelah 20 minggu usia kehamilan kecuali dokter menyatakan bahwa kehidupan ibunya dalam bahaya.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pengadilan telah menerima beberapa petisi. Sebagian besar adalah anak-anak korban perkosaan yang berusaha mengakhiri kehamilan mereka meski sudah berusia 20 minggu.

Pada kebanyakan kasus, kehamilan ini ditemukan terlambat karena anak-anak sendiri tidak mengetahui kondisinya. Pekan lalu seorang gadis berusia 13 tahun, melahirkan bayi laki-laki di usia kandungan 32 minggu. Bayi itu kemudian meninggal dunia dua hari kemudian.

Pada bulan Mei, kasus serupa dilaporkan terjadi di negara bagian utara Haryana dimana seorang anak berusia 10 tahun, yang diduga diperkosa oleh ayah tirinya, diizinkan untuk aborsi. Dia hamil sekitar 20 minggu, kata dokter.

India adalah rumah bagi 400 juta anak-anak. Ironisnya, seorang anak di bawah 16 tahun diperkosa setiap 155 menit dan anak berusia di bawah 10 tahun setiap 13 jam sekali diperkosa. Pada 2015, lebih dari 10.000 anak diperkosa.(*)

(tia/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP