Kamis, 21 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Ekonomi

Gigihnya Pengusaha Belanda Luluhkan Jonan untuk Loloskan Proyek Ini

| editor : 

Menteri ESDM Ignasius Jonan (tengah)

Menteri ESDM Ignasius Jonan (tengah) (Charlie/Indopos/JawaPos.com)

JawaPos.com - Pemerintah saat ini terus melakukan upaya dalam mengejar target bauran energi sebesar 23 persen pada 2025 mendatang. Saat ini, bauran energi baru mencapai 8-9 persen. Salah satu upaya dalam peningkatan bauran energi adalah melalui pembangunan sejumlah pembangkit listrik yang bahan bakarnya tidak menggunakan energi fosil.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menceritakan jika pihaknya mendapat penawaran dari Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya dan salah satu perusahaan asal Belanda untuk membangun pembangkit listrik tenaga arus laut. Sayangnya, penawaran tersebut ditolaknya, karena biaya pokok produksi per kWh yang ditawarkan tidak sesuai dengan keinginan pemerintah.

"Gubernur NTT membawa pengusaha Belanda menawarkan itu, saya tanya harganya berapa? Minimal 16 sen per kWh. Kalau 16 sen, silahkan minum dan silahkan pulang. Kalau di bawah 10 sen mari kita diskusi," ujarnya di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (13/9).

Menteri ESDM Ignasius Jonan didampingi Dirut PT PGN Jobi Triananda Hasjim

Menteri ESDM Ignasius Jonan didampingi Dirut PT PGN Jobi Triananda Hasjim (ADRIYANTO/INDOPOS/JawaPos.com)

Penolakan tersebut rupanya membuat perusahaan asal negeri kincir angin tersebut penasaran. Tidak lama dari penolakan tersebut, mereka kembali menyambangi Jonan dengan penawaran yang lebih baik.

Tidak hanya itu, penawaran yang mereka berikan juga dilakukan dengan melalui studi yang lebih mendalam. Studi tersebut meliputi besaran arus laut di Selat Larantuka yang merupakan rencana lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga arus laut itu.

"Kemarin, Selasa ke saya lagi, pak kita menawarkan kembali ini. Studinya segini pak. Ternyata studinya pertama di selat Larantuka kecepatannya di bawah 2,8 meter per detik. Setelah di studi mereka mendapat rata 4 meter per detik. Bahkan di beberapa lokasi itu bisa 5 meter per detik. Saya sudah studi lagi pak, mau nggak 7,18 sen per kWh?" jelas dia.

Melihat penawaran tersebut, Jonan langsung menyetujuinya. Menurutnya, harga tersebut sudah pasti akan dibeli oleh PT PLN Negara (Persero). Saat ini, hanya tinggal komitmennya saja yang perlu dilakukan. "Kalau 7,18 itu PLN pasti setuju," pungkasnya.

(cr4/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP