Minggu, 24 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Otomotif

Bersiap Menyambut EURO 4, Waktunya Setop Jual Premium?

| editor : 

Ilustrasi dispenser pertalite dan premium di SPBU Jakarta

Ilustrasi dispenser pertalite dan premium di SPBU Jakarta (RAKA DENNY/JAWA POS)

JawaPos.com - Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 mewajibkan penerapan bahan bakar sekelas EURO 4. Namun, kualitas tinggi bahan bakar minyak (BBM) belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Pemerintah diminta untuk serius menghapus premium terlebih dahulu.

Saat ini, Indonesia masih menggunakan BBM dengan standar Euro 2. Standar itu, sudah diterapkan sejak 2005. Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman menyebut, sudah saatnya Indonesia beralih ke yang lebih baik. Yakni menghilangkan BBM oktan 88 atau premium.

’’Mumpung harga minyak dunia sedang rendah, kita tunggu keberanian Pemerintah. Ini (Masalah penghapusan Premium) soal goodwill dari Pemerintah,’’ ujarnya. Yusri menilai, tinggal pemerintah beranti atau tidak dalam mengambil sikap.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dengan diterbitkannya aturan soal EURO 4, otomatis BBM dengan oktan rendah sudah tidak relevan digunakan. Di Indonesia, oktan rendah itu masih dijual dengan merk premium. ’’Tahun depan sudah masuk era EURO 4. Padahal untuk EURO 2 saja, Premium tidak memenuhi syarat,” kata Yusri. 

Selain itu, Tim Reformasi Tata Kelola Migas juga sudah merekomendasikan penghapusan Premium pada akhir 2017. Saat memberikan rekomendasi, Ketua Tim Faisal Basri menyebut BBM jenis premium sudah tidak ada lagi di pasar internasional. Kalau tetap memaksakan impor premium, bisa memicu maraknya mafia migas.

Lebih lanjut Yusri mengatakan, saat ini Pertamina sudah memproduksi Pertalite yang memiliki kualitas baik. Harganya juga lebih terjangkau karena terpaut sedikit dengan premium. Jadi, bisa menjadi pengganti ketika premium memang tidak perlu lagi dijual.

’’Saya saja tak mau kembali pakai Premium. Saya beralih ke Pertalite karena kualitasnya lebih baik dan ternyata lebih irit,” kata Wahyu Kartika, seorang warga Jakarta.

Penghapusan Premium juga sejalan dengan kebijakan industri otomotif yang saat ini merancang kendaraannya dengan standar emisi EURO 4. Toyota Astra Motor (TAM) misalnya, sudah siap untuk menyediakan kendaraan berstandar emisi EURO 4 di Indonesia. Dibuktikan dengan dilakukan ekspor kendaraan dengan standar tinggi itu.

“Semua fasilitas produksi kami siap. Ekspor kami sudah EURO 4, dan semua dari pabrik di tanah air,” ujar Executive General Manager TAM Fransiskus Soerjopranoto.

Tidak hanya untuk ekspor. Menurut Fransiskus, Toyota juga memperbanyak produksi kendaraan berstandar emisi EURO 4 untuk pasar Indonesia. TAM mengaku, memprioritaskan mobil buatan dalam negeri untuk mengisi celah pasar tersebut. “Kalau bisa untuk pasar sendiri kami akan produksi di sini. Apakah produk baru, atau modifikasi, apakah ganti mesin atau modifikasi lainnya,” ungkap Fransiskus. 

(dim/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP