Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Nasional

Kasus Kematian Bayi Debora, IDI: Ini Bukan Salah Dokter, Tapi...

| editor : 

Karena kejamnya birokrasi internal RS Mitra Keluarga, Bayi Debora Tiara meninggal dalam keadaan membutuhkan perawatan PICU.

Karena kejamnya birokrasi internal RS Mitra Keluarga, Bayi Debora Tiara meninggal dalam keadaan membutuhkan perawatan PICU. (Facebook)

JawaPos.com - Debora Tiara, bayi malang berusia empat bulan meninggal dunia karena terlambat mendapatkan penanganan ruang PICU saat ditangani di RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat. 

Debora datang dipelukan ibunya, Henny Silalahi dalam keadaan batuk-batuk dan sesak nafas pada 3 September lalu. Namun, meski sudah ditangani kegawatdaruratannya di ruang IGD, kondisi bayi Debora tetap kritis dan memerlukan perawatan ruang PICU.

Parahnya, pihak internal RS Mitra Keluarga tak memberikan pelayanan itu karena alasan belum bekerja sama dengan BPJS. Sebab bayi Debora merupakan peserta BPJS.

Saat itu sang ibu karena panik, hanya berusaha membawa buah hatinya ke rumah sakit terdekat dan tak berpikir urusan birokrasi BPJS atau bukan. 

"Hal seperti ini menjadi fenomena gunung es, yang jika birokrasi internal RS tidak dibenahi akan semakin banyak kasus bayi Debora lainnya," tegas Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi kepada JawaPos.com, Minggu (10/9).

Adib meminta dalam kasus ini semua pihak tidak menyalahkam dokter yang menangani Debora. Dokter saat itu sudah menjalani tugas dengan benar dan memberikan assessment berupa penanganan lanjutan di ruang PICU.

“Ini Bukan salah dokter. Assessmentnya pasien harus dibawa ke ruang PICU. Namun karena birokrasi internal membuat pasien tak bisa ditangani. Ini harus manajemen rumah sakit langsung yang turun," tukas Adib.

Adib menambahkan pihak manajemen semestinya bisa memberikan keringanan kepada pasien. Caranya dengan memberlakukan kebijakan mengizinkan pasien ditangani terlebih dahulu di ruang PICU sambil menunggu orang tua dan rumah sakit menemukan fasilutas yang sama di RS yang bekerja sama dengan BPJS. 

"Kan bisa ditangani dulu, keputusan manajemen rumah sakit bisa membuat pasien ditangani sambil menunggu urusan biaya nomor dua dan administrasi lainnya. Ini karena berbicara life saving (penyelamatan nyawa)," jelasnya.

Apalagi, kata Adib, pasien saat dirujuk harus dalam kondisi stabil. Adib memahami sistem rujukan memerlukan waktu yang tidak singkat dengan pasien dalam keadaan memungkinkan untuk dirujuk.

"Pasien itu saat dirujuk nantinya harus stabil, bukan dalam keadaan buruk. Karena itu baiknya ditangani dulu," papar Adib.

(ika/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP