Senin, 25 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Bilqis Callista Maharani, Balita yang Hidup dengan Satu Ginjal karena Kanker

| editor : 

TETAP CERIA: Bilqis Callista Maharani saat bermain di taman anak-anak RSUD dr Soetomo, Surabaya.

TETAP CERIA: Bilqis Callista Maharani saat bermain di taman anak-anak RSUD dr Soetomo, Surabaya. (DWI WAHYUNINGSIH/Jawa Pos)

Belum genap berusia 2 tahun, Bilqis Callista Maharani harus hidup hanya dengan satu ginjal. Pada 7 Agustus, ginjal kirinya diambil akibat Wilms tumor. Kini untuk memastikan kanker tidak kembali, Bilqis masih harus menjalani 20 kali kemoterapi di RSUD dr Soetomo.

DWI WAHYUNINGSIH, Surabaya

KECERIAAN Bilqis Callista Maharani memancar saat dengan begitu lincah naik turun tangga perosotan di taman bermain ruang rawat inap anak RSUD dr Soetomo, Surabaya, Selasa (29/8). Ditemani sang ibu, bocah yang genap berusia 2 tahun pada 23 September itu tampak sehat.

Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Sesekali dia berteriak manja kepada sang ibu ketika kesulitan untuk menaiki tangga. Tidak akan ada yang menyangka bahwa Bilqis kini hanya memiliki satu ginjal.

Bukan karena gagal ginjal. Melainkan karena Wilms tumor. Tumor yang menyerang ginjal, terutama pada anak-anak. Orang lebih mengenalnya nefroblastoma.

”Tetangga di rumah juga tidak ada yang percaya Bilqis kena tumor ginjal. Enggak kelihatan sakit soalnya,” ujar Waras Santoso, sang ayah. Waras sendiri baru tahu bahwa putrinya mengidap Wilms tumor pada Maret.

Semua berawal dari kecurigaan Catur Desi Kurniawati, sang ibu, saat melihat perut kiri putrinya mengeras dua bulan sebelumnya. Terlihat seperti orang hamil sebelah.

Dikira hanya kembung, Nia, sapaan akrabnya, membawa sang putri ke tukang pijat. Hampir sebulan Bilqis rutin dipijat. Namun, perutnya yang mengeras tidak juga sembuh. Dia pun mulai curiga ada hal lain yang menjadi penyebab perut putrinya terasa keras.

”Kami USG untuk memastikan. Di sana terlihat ada benjolan, tapi belum jelas apa,” kenang Nia. Hasil USG tersebut lantas dibawa ke dokter anak. Bilqis disarankan untuk menjalani CT scan. Hanya dengan sekali lihat, dokter langsung memvonis bahwa putri bungsunya terkena Wilms tumor.

Dunia Waras dan Nia seolah runtuh ketika mendengar diagnosis tersebut. Pasalnya, semasa kehamilan tidak ada tanda-tanda kelainan. Saat lahir pun, Bilqis normal. Pertumbuhannya juga sesuai anak seumurannya. Hanya berat badannya yang tidak bertambah.

”Sempat dikira gizi buruk. Badannya kan kurus dan beratnya tetap,” lanjutnya. Raut wajah Nia terlihat sendu ketika mengingat perjalanan Bilqis hingga didiagnosis mengidap Wilms tumor.

Hasil diagnosis tersebut dijadikan dasar untuk membawa Bilqis ke RSUD Ibnu Sina di Gresik. Tiga hari dirawat dan dicek darah, akhirnya dia dirujuk ke RSUD dr Soetomo untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

”Sampai di RSUD dr Soetomo, dilakukan berbagai tes laboratorium selama sebulan. Hasilnya, kanker sudah besar. Jadi, dokter tidak berani melakukan operasi,” ujar ibu dua anak tersebut. Bilqis pun disarankan untuk melakukan sepuluh kali kemoterapi terlebih dahulu. Tujuannya memperkecil ukuran tumor hingga akhirnya bisa dioperasi.

Pada kemo pertama hingga kesembilan, tidak ada reaksi berlebihan yang dialami Bilqis. Hanya mual dan sulit makan. Efek itu normal dan sering dialami orang-orang yang melakukan kemoterapi. Satu kantong darah juga pernah masuk ke tubuhnya pada kemo kedua. Namun, pada kemo kesepuluh, efek dahsyat dialaminya.

Tubuh mungil itu lemah tak berdaya setelah menjalani kemo terakhir. Tangan dan kakinya tidak mampu digerakkan. Hanya matanya yang sesekali melirik ke kanan dan ke kiri. Rambutnya pun mulai rontok. ”Sudah pasrah waktu itu. Kami kira dia lumpuh, ndak bisa ngapa-ngapain lagi,” lanjut Nia yang berfokus menjaga putrinya.

Ceritanya sesekali terhenti ketika Bilqis terus bergerak naik ke atas tangga menuju perosotan. Tingkah aktifnya memang membuat banyak orang meragukan bahwa dia baru saja menjalani operasi pengangkatan ginjal pada 7 Agustus. Bekas luka operasi di perut kanannya pun masih tampak jelas baru kering.

”Sayangnya, kemo yang dilakukan tidak banyak membawa perubahan. Jadi, mau tidak mau tetap harus dioperasi. Kami diberi tahu bahwa keberhasilan operasinya 70 banding 30. Yang 70 itu gagal,” kenang perempuan yang berulang tahun setiap bulan Desember tersebut.

Tangis tak dapat dibendung Nia kala itu. Rasanya, dia seperti ikut dalam sebuah arisan. Tinggal menunggu waktu kapan putrinya akan diambil Yang Mahakuasa. Dia pun pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Doanya hanya satu. Jika memang masih diberi kepercayaan, mereka akan menjaganya hingga dewasa.

Dua kali Bilqis dijadwalkan menjalani operasi. Saat rencana tindakan pertama, tidak ada darah yang tersedia. Operasi pun terpaksa dibatalkan. Nia dan Waras berusaha keras mencari donor agar sang putri bisa segera dioperasi. Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil. Darah tersedia, operasi bisa berjalan.

”Alhamdulillah, operasinya lancar. Rasanya lega. Darah yang diminta untuk disiapkan pun tidak terpakai,” ujarnya. Binar kelegaan tampak di wajah Nia ketika mengingat detik-detik setelah Bilqis mendapatkan tindakan. Sempat hampir putus asa, keceriaan dan ketegaran Bilqis akhirnya membuat ibu rumah tangga itu kembali bersemangat.

Meski begitu, kelegaan tidak sepenuhnya mengisi hati pasangan asal Gresik tersebut. Dokter mengatakan, diperlukan waktu lima tahun sebelum Bilqis benar-benar dinyatakan bebas dari kanker. Kemoterapi pun harus terus dijalani Bilqis untuk membersihkan sisa-sisa kanker yang mungkin masih ada di dalam tubuhnya.

’’Ini harus kemo lagi. Kemarin sudah satu obat masuk. Sekarang lima obat lagi untuk kemonya,” imbuhnya. Bilqis pun tampak tidak seceria biasanya. Dia memilih digendong sang ibu sambil menyusu. Kebiasaannya ketika baru saja mendapat tindakan. Entah itu dikemoterapi atau diambil darah untuk melihat kadar trombosit dan hemoglobinnya. Tindakan tersebut dibutuhkan untuk memprediksi butuh tidaknya transfusi darah.

Bilqis juga harus kembali menginap di RSUD dr Soetomo selama beberapa hari ke depan untuk mendapatkan tindakan tersebut. Total ada 20 kemo lagi yang harus dijalani bocah penyuka jeli itu setelah operasi. ”Biasanya, seminggu. Tapi, bergantung kondisi anaknya juga. Mudah-mudahan terus stabil. Jadi, ndak perlu lama,” harap Nia.

(*/c6/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP