Jumat, 24 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Genk Bekal Beranggota 1.300 Ibu, Anak Pamerkan Makanan Keliling Kelas

| editor : 

MENU SEHAT: Dari kiri, Yenny Hwieningsih, Iska Ningrum, Niken Puspitasari, Maulidia Tri, Nimah Garnis, dan Ukik Nazzal saling berbagi dan menunjukkan kreasi bekal untuk anak.

MENU SEHAT: Dari kiri, Yenny Hwieningsih, Iska Ningrum, Niken Puspitasari, Maulidia Tri, Nimah Garnis, dan Ukik Nazzal saling berbagi dan menunjukkan kreasi bekal untuk anak. (Nurul Komariyah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Membiasakan anak membawa bekal ke sekolah memiliki banyak manfaat. Selain lebih hemat, makanan yang dibawa lebih enak dan sehat. Namun, menunya harus bervariasi agar anak tidak bosan. Komunitas ibu-ibu ini menjadi wadah bertukar menu.

NURUL KOMARIYAH, Gresik

YENNY Hwieningsih sudah terbiasa memberi anaknya bekal makanan saat berangkat ke sekolah. Suatu saat dia buntu tentang ide menu makanan. Kemudian, perempuan 38 tahun itu membuat grup Facebook yang diberi nama Genk Bekal pada 10 Agustus lalu. Alasannya, kebingungan tersebut juga pasti dialami ibu-ibu lain.

Karena itu, Yenny membuat suatu wadah yang bisa menjadi ajang berkumpulnya para bunda. Mereka bisa saling berbagi resep masakan. Khususnya kreasi dan ide-ide makanan yang dibuat untuk bekal sekolah anak. Tak disangka, respons ibu-ibu sangat positif. ’’Sampai saat ini kurang lebih 1.300 anggota yang bergabung ke grup,” terang Yenny.

Anggota grup tersebut, imbuh Yenny, tidak hanya berasal dari Gresik. Ada juga yang berasal dari Bandung hingga Jakarta. Bagi ibu dua anak itu, membiasakan anak membawa bekal ke sekolah merupakan hal yang penting. Terlebih, dua anaknya yang masih duduk di bangku SD tersebut punya alergi.

Mereka tidak bisa mengonsumsi makanan yang mengandung MSG atau makanan yang diolah dari minyak goreng sisa. Dampaknya, mereka bisa batuk hingga mimisan. ’’Anak sekarang itu punya banyak kegiatan di sekolah. Harus diimbangi sama menu makanan sehat. Hati jadi tenang, ayem, dan lega kalau anak sudah membawa makanan dari rumah,” paparnya. Tidak hanya sehat, anak juga belajar menabung dari sisa uang saku yang jarang dibuat jajan.

Kebiasaan memberi anaknya bekal saat ke sekolah juga diterapkan Iska Ningrum. Menurut dia, agar suami dan anak-anak tidak bosan, menu makanan harus dipikirkan secara kreatif. Apalagi, buah hati Iska juga hanya bisa mengonsumsi makanan yang terbatas karena alergi pada saluran pernapasan.

’’Dulu itu, anakku kalau melihat temannya membawa cokelat ya nelongso. Sebab, dia kan nggak bisa makan kayak gitu. Akhirnya saya kepikiran bawain dia bekal yang dihias lucu biar semangat,” ungkap alumnus Komunikasi Unair tersebut.

Tidak hanya semangat, buah hati Iska juga bangga dengan bekalnya. ’’Kirana, anakku yang sekolah PAUD, suka mamerin bekalnya ke teman-temannya. Dia berkeliling kelas sambil nunjukin ini loh bekal yang dibuat bundaku,” terangnya.

Niken Puspitasari, anggota Genk Bekal yang lain, juga berkomitmen membawakan anak-anaknya bekal. Sebelum berangkat, Niken yang bekerja di bidang jasa ekspor-impor itu memasak bekal terlebih dahulu untuk anak-anaknya. ’’Aku kerja meninggalkan anak-anak. Jadi, aku juga harus ninggalin makanan buat mereka di rumah,” ujar Niken.

Genk Bekal pun punya satu anggota bernama Ukik Nazzal yang dikenal teladan. Sebab, masakan yang dibuat ibu dua anak tersebut selalu matang lebih dahulu daripada anggota lain. Saat anggota lain masih umek di dapur, pada pukul 05.30 Ukik sudah mem-posting hasil masakannya ke media sosial.

Bahkan, ada tiga macam masakan sekaligus. Itu membuat anggota lain terpacu dan ikut semangat. ’’Kalau nggak dibekali itu suka kepikiran, anakku membeli makanan apa ya di sekolah. Nggak tega juga kalau dia tiap hari jajan di kantin,” tutur perempuan 40 tahun tersebut.

(*/c7/dio)

Sponsored Content

loading...
 TOP