Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Otomotif

Kampus, BUMN, dan Swasta Harus Sinergi Realisasikan Molina

| editor : 

Gradfis kendaraan listrik

Gradfis kendaraan listrik (Errie Dini/Jawa Pos)

JawaPos.com- Semangat mewujudkan kendara listrik nasional tidak hanya bergelora di kalangan peneliti kampus. Sejumlah perusahaan swasta dan pelat merah pun sudah lama menyiapkan diri untuk meramaikan dan mendukung mobil listrik nasional (molina).

Misalnya, perusahaan baterai PT Nipress. Mereka sudah lama mempunyai road map memproduksi baterai lithium, yang dalam perjalanannya bisa mendukung kebutuhan kendaraan listrik. Investasi untuk itu pun sudah mereka gelontorkan.

Hermawan Wijaya, head research and development PT Nipress, menyatakan bahwa keterlibatan perusahaannya dalam percepatan kendaraan listrik nasional berawal dari keinginan Dahlan Iskan yang ketika itu menjabat menteri BUMN. Dahlan ingin Nipress memproduksi baterai lithium untuk prototipe mobil listrik.

”Kebetulan saat itu kami sudah punya road map untuk mengembangkan lithium. Kebetulan juga BUMN belum ada yang menggarap baterai,” katanya. Dari situ Nipress berhasil membuat baterai lithium untuk prototipe mobil listrik.

Namun, karena pasarnya hanya prototipe, masalah pun terjadi. Uang untuk investasi memproduksi lithium tidak sebanding dengan uang yang masuk. Beruntung, mereka menemukan pasar lithium di luar mobil listrik. Salah satunya untuk baterai base transceiver station atau BTS. Meski begitu, hingga sekarang Nipress masih mendukung percepatan kendaraan listrik nasional.

Hermawan juga melihat Universitas Sebelas Maret (UNS) telah berhasil membuat baterai lithium yang sebenarnya sangat layak dibuat mass production. ”Cuma, masalahnya untuk masuk ke industri, tantangannya pada harga. Kalau tidak ada perlindungan sama sekali, ya sudah kalah kita,” ujarnya.

Di sisi lain, perusahaan pelat merah seperti PLN dan Pertamina sudah menyiapkan kebijakan untuk mendukung percepatan kendaraan listrik. Ketua Tim Pengembangan Infrastruktur Kendaraan Listrik PLN Zainal Arifin mengatakan, sejak 2011 PLN melakukan riset tentang dukungan terhadap pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Salah satunya diwujudkan dengan mempersiapkan stasiun penyedia listrik umum (SPLU).

Saat ini ada 875 unit SPLU di seluruh Indonesia. Sebanyak 549 unit berada di Jakarta Raya. Jumlah ketersediaan SPLU di Jakarta Raya tahun ini direncanakan bertambah menjadi 1.000 unit.

Charging station juga akan disediakan Pertamina dengan sumber listrik dari EBT (energi baru terbarukan). Kini Pertamina terlibat dalam penyediaan battery pack untuk Gesits. Saat ini juga tengah dilakukan pengembangan superfast charging yang memungkinkan untuk pengisian selama 30 menit atau 20 menit untuk motor listrik.

Ketua Asosiasi Pengembang Kendaraan Listrik Bermerek Nasional (Apklibernas) Sukotjo Herupramono menyatakan, pihaknya tetap akan berjuang agar mimpi anak Indonesia memiliki kendaraan listrik nasional terwujud. Pemerintah akan terus didorong, setidaknya untuk membentuk segmentasi bagi kendaraan listrik bermerek nasional. Selama ini yang diperjuangkan Apklibernas ialah segmentasi berdasar daya kendaraan listrik. Mereka berharap kendaraan listrik dengan daya 60 kw ke bawah diberikan pada industri dalam negeri.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menampik kebijakannya menganaktirikan industri kendaraan listrik nasional yang sudah lama merajut mimpi. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin Yan Sibarang Tandiele menyatakan, pihaknya bukan tidak mendukung kepentingan nasional. Namun, Kemenperin mempunyai komitmen terkait kebijakan impor yang sudah diatur secara internasional.

Menurut Yan, Kemenperin tidak bisa membatasi impor. Kecuali barang atau kendaraan bekas yang bisa dihadang lewat regulasi. ”Kita mendukung, tapi piye carane (bagaimana caranya) dan dimulai dari mana?” kilahnya. Versi Yan, mendorong kemandirian teknologi kendaraan listrik nasional tak harus lewat peraturan presiden. Namun, itu bisa juga diwujudkan dalam peraturan menteri.

Dia setuju jika upaya mendorong industri kendaraan listrik nasional dibuat segmentasi. ”Mungkin disepakati dulu segmentasi kendaraan listrik seperti apa yang dibuat industri nasional. Dari situ nanti diatur insentifnya seperti apa lewat peraturan menteri,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Yan mungkin sulit diwujudkan. Terlebih jika visi para menteri dalam mewujudkan kendaraan listrik nasional masih seperti apa yang mereka sampaikan belakangan ini kepada publik.

(gun/c6/ang)

Sponsored Content

loading...
 TOP