Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Events

Gran Fondo Terbesar di Luar Jawa

| editor : 

SEGAR: Para peserta Mandiri Gran Fondo Jawa Pos Tondano 2017 saat melintas di pinggir Danau Tondano.

SEGAR: Para peserta Mandiri Gran Fondo Jawa Pos Tondano 2017 saat melintas di pinggir Danau Tondano. (Galih Cokro/Jawa Pos)

JawaPos.com- Sulawesi Utara baru tahun ini menjadi tuan rumah event bersepeda besar, tetapi langsung mendapat respons luar biasa. Mandiri Gran Fondo Jawa Pos Tondano 2017 Sabtu (26/8) merupakan ajang gran fondo (big ride) terbesar di luar Pulau Jawa. Di antara 500 peserta yang mendaftar, 485 orang mengikuti event yang menempuh jarak total 166 km tersebut.

Di luar Pulau Jawa, tidak ada event big ride non-competitive serupa yang memiliki jumlah peserta sebanyak itu. ’’Kami sudah menyelenggarakan atau men-support event seperti ini di banyak provinsi. Peserta kami juga banyak mengikuti event serupa di banyak tempat. Di luar Pulau Jawa, tidak ada yang pesertanya sebanyak ini,’’ kata Azrul Ananda, direktur utama PT Jawa Pos Koran, penyelenggara ajang ini bersama pemerintah dan kepolisian Sulawesi Utara serta Manado Post.

Azrul menambahkan, ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Dia menegaskan bahwa Manado dan Sulawesi Utara belum pernah menjadi tuan rumah untuk event seperti ini. ’’Padahal, logistiknya tidak mudah, karena belum ada budaya road cycling yang besar di sini. Tidak ada toko sepeda yang bisa memenuhi kebutuhan peserta, baik dalam hal penyediaan spare part maupun mekanik. Sehingga banyak yang harus disiapkan dari luar. Peserta pun untuk ikut tidak mudah, karena harus membawa sepeda dan segala perlengkapan sendiri,’’ jelasnya.

GOWES BARENG: Azrul Ananda ( tengah jersey merah ) saat bersama Wagub Sulawesi Utara Steven Octavianus Kandouw (dua dari kanan) di event Mandiri Gran Fondo Jawa Pos Tondano 2017.

GOWES BARENG: Azrul Ananda ( tengah jersey merah ) saat bersama Wagub Sulawesi Utara Steven Octavianus Kandouw (dua dari kanan) di event Mandiri Gran Fondo Jawa Pos Tondano 2017. (Galih Cokro/Jawa Pos)

Meski secara infrastruktur belum memenuhi kebutuhan road cycling secara penuh, Azrul dan para peserta memuji sambutan hangat dari semua pihak. Support dari pemerintah provinsi luar biasa, pengawalan dari kepolisian setempat istimewa. Plus, warga yang jalannya dilewati menyambut dengan sangat antusias. Bukan hanya anak-anak sekolah, warga ikut menyoraki di pinggir jalan. Mereka bahkan dengan sukarela menyediakan minuman dan makanan bagi peserta yang membutuhkan.

’’Dari semua event sepeda yang pernah saya ikuti, ini yang terbaik. Baik dari segi rute maupun sambutan masyarakatnya,’’ puji Go Siauw Hong, peserta dari Jakarta, mewakili komunitas id|selap.

Di antara semua peserta, hanya sekitar 30 orang yang datang dari Manado dan sekitarnya. Royke Hendra, road captain dari Manado, mengaku bangga dengan penyelenggaraan event ini. Dia menjelaskan, masyarakat setempat baru kali pertama melihat rombongan sepeda begitu banyak dan cepat. ’’Biasanya mereka hanya melihat maksimal sepuluh sepeda lewat,’’ katanya.

Soal rute, event ini memang tidak gampang. Bahkan, untuk event seperti ini, rutenya termasuk yang terberat. Sebab, dalam jarak 166 km tersebut, peserta harus menanjak total lebih dari 2.000 meter.

Dari awal sampai akhir, menu tanjakan dan jalan naik-turun menjadi santapan konstan. Ending-nya pun tergolong berat. Sebab, peserta harus menanjak melewati jalan di depan Patung Tuhan Yesus Memberkati, yang panjang totalnya hampir 1 km dengan kemiringan rata-rata sekitar 9 persen. ’’Dari semua event kami, selain Bromo 100, gran fondo menuju Danau Tondano ini memiliki rute terberat,’’ tegas Azrul.

Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu yang hadir langsung ikut diserbu para peserta untuk ber-selfie-ria. Mereka seolah tak ingin kehilangan momen mengabadikan pertemuan dengan pejabat yang terkenal karena berparas cantik tersebut. Christiany mengaku bangga lantaran daerahnya dilintasi para peserta dan menjadi lokasi pit stop 1.’’Ini luar biasa!’’ katanya.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Pol Royke Lumowa sepakat menyebut rute kali ini memang sangat menantang. ’’Tingkat kesulitannya setara di Bromo, tapi view-nya hampir mirip Gran Fondo Jawa Pos East Java Malang 2017,’’ ucap Royke. ’’Yang jelas lebih berat dari Suramadu. Kelebihannya, kawasan Tondano ini punya embusan angin yang dingin-dingin empuk. Jadi membantu saat gowes,’’ imbuhnya.

Rata-rata peserta minta tahun depan ajang ini diulangi lagi. Beberapa peserta dari Makassar dan Papua Barat juga berharap Gran Fondo Jawa Pos digelar di tempat mereka. Setelah dari Tondano, event Jawa Pos Cycling bergerak kembali, yakni ajang Gran Fondo Jawa Pos Suramadu yang akan terselenggara pada 14 Oktober mendatang.

(nes/c17/nur)

Sponsored Content

loading...
 TOP