Minggu, 24 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Ratusan Ribu Masyarakat Kalsel Belum Merdeka Dari Kemiskinan

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok.JawaPos.com)

JawaPos.com - Momentum hari kemerdekaan, ternyata belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan penduduknya. Sebagai contoh, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, warga Banua belum merdeka dari garis kemiskinan.

Berdasarkan data tersebut, jumlah penduduk miskin di Kalsel dalam beberapa bulan terakhir malah mengalami peningkatan. Pada September 2016, angka penduduk miskin sebesar 184 ribu orang. Sedangkan perhitungan terakhir di bulan Maret 2017, jumlahnya bertambah 10 ribu menjadi 194 ribu orang.

Kepala BPS Kalsel Diah Utami melalui Kabid Statistik Sosial Agnes Widiastuti mengatakan, peningkatan jumlah penduduk miskin terbanyak berada di daerah pedesaan. Dari data tersebut, sebelumnya tercatat 123.261 orang, meningkat menjadi 131.323 pada bulan Maret.

Ilustrasi: Potret Kemiskinan

Ilustrasi: Potret Kemiskinan (Ivan/Lombok Pos/Jawa Pos Group/JawaPos.com)

"Sedangkan untuk diperkotaan, peningkatannya relatif kecil. Yaitu, dari 60.898 menjadi 62.596," terangnya kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group).

Menurutnya, salah satu penyebab meningkatnya jumlah warga miskin di pedesaan lantaran menurunnya harga jual gabah dalam beberapa bulan terakhir. Selain murahnya harga gabah, faktor lain yang menyebabkan masyarakat di desa masuk dalam garis kemiskinan ialah gagal panen.

"Bertani masih menjadi pekerjaan utama di desa, kalau harga gabah menurun tentu akan mempengaruhi penghasilan mereka," jelasnya.

Sementara, faktor yang mempengaruhi meningkatnya masyarakat miskin di daerah perkotaan, dipicu karena sempat tersendatnya pendistribusian Raskin yang dilakukan oleh Bulog. "Mungkin sekarang Raskin sudah didistribusikan," katanya.

Terpisah, ketika diminta tanggapanya perihal meningkatnya angka kemiskinan di Kalsel, pengamat sosial dan kebijakan publik Nurul Azkar menguatakan, penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan selama ini ialah minimnya penghasilan.

"Kalau di desa, biasanya penghasilan mereka dari pertanian dan perkebunan," ungkapnya.

Dia menuturkan, biasanya kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dalam berkebun dan bertani adalah menurunnya harga jual. Serta, gagal panen. "Ini harus ada peran dari pemerintah, bagaimana agar harga jual petani tak menurun," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang petani di Desa Lok Buntar, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, M Yusri membenarkan jika harga jual gabah tahun ini menurun dibandingkan dengan tahun lalu. "Sekarang satu blek harganya hanya Rp50 ribu, padahal tahun lalu Rp70 ribu," ucapnya.

Dia menduga, menurunnya harga karena disebabkan oleh maraknya beras yang masuk dari luar daerah. "Sekarang, pembeli juga berkurang. Mungkin, karena ada beras dari luar yang masuk," pungkasnya.

(wnd/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP