Senin, 25 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Ekonomi

Seberapa Besar Pemerintah Mampu Menerapkan Cukai Kantong Plastik?

| editor : 

Industri Plastik

Industri Plastik (Dok JPNN)

JawaPos.com - Wacana pengenaan cukai plastik kembali muncul ke permukaan. Hal itu sesuai dengan rencana pemerintah yang menargetkan cukai plastik dalam penerimaan negara sebesar Rp 500 miliar di RAPBN 2018.

Wacana tersebut kembali memunculkan pertanyaan, apakah mampu pemerintah benar-benar menerapkannya?

Pasalnya, pada 2016 lalu, kebijakan tersebut pernah dilakukan dalam rentang waktu hampir Februari 2016 hingga akhir tahun. Pada saat itu, masyarakat dibebankan biaya sebesar Rp 200 untuk setiap penggunaan kantong plastik saat mereka berbelanja.

Alasannya, kantong plastik yang mereka gunakan adalah kantong plastik yang mudah diuraikan oleh tanah sehingga pembuatannya tidaklah murah. Disisi lain, hal itu juga sebagai bagian dari kesepakatan bahwa ritel tidak dibebankan secara keseluruhan cukai plastik.

Tujuan pemerintah memang baik dan benar, yakni untuk mengurangi penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan. Hanya saja, kebijakan tersebut menuai banyak penolakan dari masyarakat, bahkan juga ritel.

Hingga akhirnya, kebijakan tersebut menguap begitu saja tanpa ada kejelasan.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai, jika kebijakan cukai plastik kembali dilakukan pemerintah, tingkat keberhasilannya ada di tangan masyarakat sebagai konsumen.

Bukan tanpa alasan konsumen memegang peranan penting dalam kebijakan itu. Sebab, plastik kresek banyak digunakan di pasar-pasar tradisional.

Jika plastik kresek disingkirkan dan diganti dengan bahan yang ramah lingkungan, seberapa jauh masyarakat mau mengeluarkan biaya tambahan untuk plastik tersebut. Apalagi, mereka yang berbelanja di pasar tradisional kebanyakan dari ekonomi kelas menengah.

"Itu tergantung konsumen. Persoalannya kan plastik itu yang termurah. Kebanyakan di pasar tradisional. Kalau kertas itu di kelas atas," kata Airlangga kepada JawaPos.com di Jakarta, Kamis (17/8).

Untuk itu, saat ini Kementerian terkait harus saling bersinergi untuk menyiapkan solusi dari kebijakan tersebut yang tidak menuai kontra. Salah satu caranya bisa dengan menggunakan bioplastik maupun kertas.

Sayangnya, butuh investasi besar untuk beralih ke bioplastik dan juga kertas. Selain itu, beban yang ditanggung konsumen pastilah tidak akan murah.

"Nah tantangannya bagaimana kita menyiapkan kantong dari kertas untuk menggantikan yang plastik ini dengan harga terjangkau," pungkasnya.

(cr4/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP