Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Hukum & Kriminal

Soal Rekrutmen Penyidik Independen, KPK Masih Pikir-pikir

| editor : 

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang (Dok.JawaPos)

JawaPos.com - Sejumlah pegiat antikorupsi meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menarik semua penyidik polisi atau pegawai
struktural yang berasal dari institusi lain.

Itu menyusul dugaan adanya konflik kepentingan di internal KPK yang ditengarai "memainkan" perkara, sebagaimana terungkap dalam sidang
Politikus Hanura Miryam S. Haryani.

Lantas, bagaimana reaksi KPK soal permintaan itu dan mulai merekrut penyidik independen?

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang mengungkapkan, terkait perekrutan penyidik independen memang memungkinkan. Sebab, itu juga diatur
dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.

"Ya kan itu memang sudah diminta seperti itu. Dalam undang-undangnya memungkinkan," kata Saut saat ditemui di gedung KPK, Jakarta,
Rabu (16/8).

Meski demikian, menurut Saut, proses perekrutan penyidik independen memerlukan waktu yang cukup panjang. Sebab, penyidik independen
juga harus memiliki bekal yang matang.

"Dari (program perekrutan) Indonesia Memanggil 11 dan 12 itu hampir dominan mereka di penyidikan dan penyelidikan. Kami siapkan di
situ. Nanti setelah matang mereka jadi penyidik kan," ujar Saut.

Sebelumnya, Miryam mengaku pernah diberitahu seorang anggota Komisi III DPR, bahwa ada tujuh orang dari unsur penyidik dan pegawai KPK
yang menemui anggota Komisi III DPR. Salah satunya, diduga unsur pimpinan setingkat direktur di KPK.

Hal itu diketahui saat jaksa KPK memutar video rekaman pemeriksaan Miryam dalam penyidikan kasus e-KTP. Rekaman diputar dalam
persidangan kasus pemberian keterangan palsu, yang menjerat Miryam di PN Tipikor Jakarta, Senin (14/8).

Dalam video, Miryam sedang diperiksa oleh dua penyidik KPK, yakni Novel Baswedan dan Ambarita Damanik. Miryam bercerita kepada Novel
bahwa ada tujuh orang dari unsur pegawai dan penyidik KPK, yang memberitahu mengenai jadwal pemeriksaannya kepada anggota Komisi III
DPR.

Dalam video tersebut, Miryam mengatakan kepada Novel, "Pak boleh enggak saya ngomong? KPK itu independen atau gimana sih, kok
kenyataannya enggak? Yang dilihat kami di anggota DPR, setiap anggota DPR punya masalah, dalam tanda kutip itu pasti langsung
dipanggil oleh Komisi III".

Novel juga sempat bertanya kepada Miryam siapa pejabat KPK yang dimaksud. Namun, Miryam mengaku tidak kenal orang tersebut.

Miryam menunjukkan sebuah catatan kepada Novel. Setelah membaca tulisan tersebut, Novel baru mengetahui bahwa pejabat KPK yang
dimaksud adalah seorang direktur di bidang penyidikan KPK. Miryam mengaku diminta menyerahkan uang Rp 2 miliar agar dapat diamankan.

(put/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP