Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Detik-Detik Operasi Mata Penyidik KPK Novel Baswedan di Singapura

| editor : 

Dukungan keluarga : Penyidik senior KPK Novel Baswedan ditemani istrinya Rina Emilda dan anak bungsunya usai salat Duhur di sebuah masjid di pusat kota Singapura, Selasa(15\8).

Dukungan keluarga : Penyidik senior KPK Novel Baswedan ditemani istrinya Rina Emilda dan anak bungsunya usai salat Duhur di sebuah masjid di pusat kota Singapura, Selasa(15\8). (Agus Dwi Prasetyo/Jawa Pos)

JawaPos.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan akan menjalani operasi besar mata kiri tahap pertama di Singapura tepat di Hari Kemerdekaan RI, Kamis (17/8). Menjelang operasi medis itu, Novel intensif melakukan persiapan jasmani maupun rohani. Berikut laporan wartawan Jawa PosAgus Dwi Prasetyo yang ikut mendampingi Novel di sana.

SEORANG bayi laki-laki tampak tertidur pulas di kereta dorong (stroller) mungil di dekat sebuah masjid di pusat kota Singapura, siang kemarin (15/8).

Matanya tertutup rapat. Mulutnya sedikit menganga. Sesekali, kedua tangannya terlihat bergerak mengibas wajah untuk membersihkan serat-serat benang baju dan debu halus yang menempel. 

Ajak foto bersama : Penyidik KPK Novel Baswedan diminta foto bersama oleh Istiqom, warga Kudus yang bertemu di sebuah masjid di pusat kota Singapura.

Ajak foto bersama : Penyidik KPK Novel Baswedan diminta foto bersama oleh Istiqom, warga Kudus yang bertemu di sebuah masjid di pusat kota Singapura. (Agus Dwi Prasetyo/Jawa Pos)

Disamping bayi tersebut, ada ibu dan neneknya yang menjaga. Bocah berusia 7 bulan itu terlihat nyaman meski banyak orang wara-wiri di sekitarnya.

”Alhamdulillah nggak rewel,” kata Rina Emilda, istri Novel Baswedan sekalgus ibu bayi tersebut.

Sambil menjaga sang anak, Emil-sapaan Rina Emilda- bersama sang mertua (atas permintaan, nama ibu Novel Baswedan tidak dipublikasikan) berbincang ngalor-ngidul.

Topiknya khas ibu-ibu. Mulai menu makan yang akan disajikan untuk Novel hingga perbedaan harga kebutuhan pokok di Singapura yang dua kali lipat lebih mahal dibanding Indonesia.

Di sela obrolan, seorang perempuan paruh baya menghampiri mereka. Perempuan berambut ikal dan berkacamata itu meminta izin untuk berfoto bersama.

”Boleh foto bareng mbak ?,” ucapnya kepada Emil yang mengenakan gamis pink dan jilbab syar’i berwarna hitam.

”Boleh bu, silahkan,” kata Emil menjawab permintaan tersebut.

Tidak lama kemudian, Novel yang baru saja menunaikan ibadah salat Zuhur di masjid tersebut langsung menghampiri mereka.

Namun, belum sampai satu menit, ada lagi seorang yang meminta berfoto bersama. Kali ini, seorang pria.

”Pak Novel, boleh minta foto ?,” ujar Istiqom(42).

”Foto ini mau saya tunjukan ke istri,” ujar pria asal Kudus, Jawa Tengah yang tengah mengantarkan adik kandungnya berobat di Singapura.

Baru-baru ini, meladeni permintaan foto bersama menjadi agenda tambahan Novel usai salat berjamaah di masjid (demi keamanan, nama masjid dirahasiakan) di Singapura.

Mayoritas yang meminta berfoto merupakan warga Indonesia yang kebetulan singgah di masjid dekat pusat perbelanjaan Singapura itu.

”Beliau ini kan legenda,” timpal Istiqom yang terlihat bahagia usai berfoto bersama Novel.

Sejak diperbolehkan tinggal di penginapan di luar rumah sakit beberapa bulan lalu, Novel memang rutin salat lima waktu berjamaah di masjid tersebut. Dia biasanya ditemani seorang pegawai KPK dan saudara.

Terkadang, Emil juga ikut menemani Novel bila sedang berada di Singapura seperti beberapa hari belakangan ini.

”Sekalian jagain anak,” tutur Emil kepada Jawa Pos.

Penginapan Novel berlokasi tidak jauh dari masjid. Sekitar 3 kilometer (km). Menjelang operasi besar Kamis (17/8) besok, dia lebih sering berjalan kaki menuju rumah ibadah ketimbang berkendara.

Sebab, saran dokter rumah sakit Singapura, sebisa mungkin tubuh dalam kondisi elastis saat operasi nanti.

”Di penginapan juga sering jalan muter-muter (penginapan), biar (tubuh Novel) nggak kaku,” kata Emil.

Aktivitas berjalan kaki yang dilakukan Novel sempat direkam orang tidak dikenal dan menyebar di media sosial (medsos). Beberapa caption video mencibir penyidik andalan KPK tersebut jalan-jalan di pusat kota Singapura, bukan menjalani perawatan seperti lazimnya orang sakit.

”Padahal jalan mau ke masjid, kok dibilang jalan-jalan (liburan) di Singapura,” ungkap ibu 5 anak tersebut.

Operasi mata besok diperkirakan bakal menguras fisik Novel. Bila gagal, operasi beresiko membuat fungsi penglihatan mantan Kasatreskrim Polres Bengkulu tersebut terganggu.

Karena itu, perhatian dan dukungan dari pihak keluarga serta orang terdekat semakin besar. Bahkan, Emil yang biasanya hanya sepekan per bulan menemani Novel di Singapura, kini bertambah intens menemani sang suami.

Selama di Singapura, Emil menjadi perawat dadakan untuk Novel. Perempuan yang menggeluti bisnis gamis tersebut selalu mengingatkan jadwal makan sang suami. Termasuk jadwal minum obat.

Saat ini, ada 4 jenis obat yang wajib dikonsumsi Novel. ”Waktu awal-awal ada 7 (jenis obat),” bebernya.

Begitu juga ibu Novel. Sejak awal Agustus lalu, dia sudah berada di Singapura untuk menemani anak keduanya tersebut. Hampir setiap hari, dia selalu memasak untuk Novel.

Beberapa bahan masakan dibawa khusus dari Jakarta. Seperti buncis, timun, tempe, tahu, kaldu ayam, minyak goreng dan beras. ”Karena kalau beli disini (Singapura, Red) mahal,” katanya.

Novel termasuk orang yang fleksibel dalam memilih menu makanan. Mayoritas masakan Indonesia dia lahap. Apalagi, bila sang istri dan ibunya yang menyediakan. Misal, tempe orek, sayur buncis dan sayur lodeh.

Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK itu juga menyukai olahan daging, seperti iga panggang, domba Afrika dan kambing panggang.

Dukungan untuk Novel bukan hanya datang dari pihak keluarga. Jamaah dan pengurus masjid di tempat Novel salat berjamaah juga ikut mendoakan kelancaran pria kelahiran Semarang itu.

Meskipun, sebagian besar tidak mengenal Novel secara dekat. ”Tapi kami tahu kalau dia (Novel) sakit mata dan dirawat di rumah sakit,” kata ustad Ismail bin Hashim, pengurus masjid.

Sebagian besar jamaah di masjid tersebut melihat Novel sebagai muslim yang taat. Sebab, sejak pertengahan Juli lalu, Novel hampir tidak pernah absen salat lima waktu berjamaah di masjid yang berdiri sejak 30 tahun lalu itu. Dia selalu mengambil saf paling depan ketika salat.

”Banyak orang Indonesia juga yang singgah disini (masjid),” terangnya.

Novel sendiri sudah siap menjalani operasi besok. Sesuai rencana, penyidik KPK yang sering menangani kasus-kasus besar korupsi itu akan menjalani operasi artifisial atau transplantasi kornea pada mata sebelah kiri.

Operasi itu merupakan opsi terakhir karena tim dokter tidak melihat pertumbuhan yang signifikan di mata kiri Novel selama 4 bulan proses perawatan. ”Doakan semoga lancar,” ujarnya.

Setelah operasi, mata Novel akan ditutup perban selama 2 bulan agar kornea buatan tersebut bisa tumbuh maksimal. Untuk itu, dia berharap operasi berjalan sukses dan bisa kembali memberantas korupsi di tanah air. Bukan hanya itu, Novel juga bisa segera kembali ke rumahnya di Kelapa Gading dan menemani anak-anaknya. Terutama putera bungsunya yang kini masih berusia 7 bulan. 

(tyo/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP