Jumat, 22 Sep 2017
Features

Jejak Wirdjo si Pembantai dari Banyuwangi (4)

Pilih Mati Gantung Diri, Pemakamannya Ditonton Lautan Manusia

| editor : 

Sutedjo menunjukan makam Wirdjo sang pembantai yang berdekatakan dengan makam kedua orang tuanya di pemakaman keluarga.

Sutedjo menunjukan makam Wirdjo sang pembantai yang berdekatakan dengan makam kedua orang tuanya di pemakaman keluarga. (Niklaas Andries/Radar Banyuwangi)

JawaPos.com - Aksi sadis Wirdjo di April 1987, yang tega membantai 37 orang tampaknya menjadi peristiwa yang sulit dilupakan bagi warga Banyuwangi, Jawa timur, terutama yang melihat langsung kejadian berdarah-darah itu.

Meski dikenal dengan kota santet, namu dibulan itu Banyuwangi mendadak horor dari apa yang pernah dirasakan warganya. Tentu saja, pembantaian itu menghadirkan teror dan ketakutan masyarakat. 

Tak hanya warga kampung tempat tinggal Wirdjo dan desa-desa sekitarnya, rasa takut juga terasa seantero kota Banyuwangi kala itu.

Tim Radar Banyuwangi (JawaPos Group) yang mencoba menelusuri jejak kelam itu kembali menemukan penggelan kisah kelam itu. 

Selain masyarakat biasa, aparat kepolisian yang bertugas memberikan rasa aman kepada masyarakat kala itu juga diliputi kondisi ketakutan yang sama. Cukup maklum, bila Wirdjo yang saat itu berusia 35 tahun mampu memberikan teror psikis bagi warga setempat.

Keterbatasan informasi termasuk ciri yang melekat pada Wirdjo juga membuat aparat kepolisian minim data soal pemuda yang memiliki tingkah nyeleneh dan pelahap darah sapi itu. “Polisi yang jaga di desa dan perempatan jalan juga diliputi ketakutan,” kenang Sutedjo, 65, paman Wirdjo.

Sutedjo menggambarkan, ada polisi yang saat itu meminta dirinya untuk mengantarnya keluar dari desa di sekitar rumah Wirdjo. Dia pun sempat heran, karena polisi dibekali senjata api yang bisa digunakan untuk menjaga diri.

Namun melihat alasan yang diberikan, barulah dia memaklumi ketakutan yang muncul. “Saat itu tidak ada yang tahu wajah Wirdjo itu seperti apa. Takutnya, dia jalan seperti orang biasa tapi bisa menebas dari arah mana pun,” ujarnya.

Setelah kejadian berdarah itu, Sutedjo menjadi orang yang paling sibuk. Sebelum Wirdjo ditemukan, dia harus menelusuri jejak lokasi keponakannya itu beraksi. Ini juga yang membuat polisi menempel ketat Sutedjo hingga Wirdjo akhirnya ditemukan.

Kengerian terhadap aksi Wirdjo pun masih tergambar meski dia sudah ditemukan tewas gantung diri. Beberapa masyarakat yang kenal langsung dengan Wirdjo sampai tidak enak makan dan tidur.

“Saya sudah bilang sama mereka, makan saja. Tapi banyak yang nggak enak makan, tenggorokan serasa menolak nasi, hati rasanya degdegan terus,” katanya.

Bahkan saat jenazah sang pembantai itu akan dikuburkan, Sutedjo pun harus bekerja keras. Soalnya Mudin yang biasa memandikan jenazah menolak menjalankan tugasnya karena takut.

Terpaksa, dengan tangannya sendiri, Sutedjo pun memandikan jenazah keponakannya itu. Dibantu tujuh orang penggali kubur, Wirdjo pun akhirnya dimakamkan di kuburan keluarga di tengah makam kedua orang tuanya.

Meski diliputi ketakutan, rasa penasaran masyarakat untuk menyaksikan prosesi pemakaman itu cukup besar. Areal makam yang berdekatan dengan sawah dan sungai, tampak penuh dengan lautan manusia.

“Sampai banyak helm dan kacamata yang saya temukan karena tertinggal oleh pemiliknya yang tadi ikut nonton Wirdjo dimakamkan,” ucapnya.

Sehari sebelumnya, usai berkelana sehari mencari korban, Wirdjo sore harinya terlihat di dekat sebuah sungai masuk daerah Dusun Delik dan Gerangan di Desa Kemiren, Glagah. Lokasinya kurang lebih berada tidak jauh dari sungai dekat bagian timur Wisata Osing saat ini.

Keberadaannya sempat diketahui seorang pemanjat kelapa. Wirdjo masuk ke saluran air di sungai yang banyak ditumbuhi tanaman liar. “Saya sempat diberi tahu dan datang ke lokasi itu. Tapi saya biarkan dulu di sana,” ujar Sutedjo.

Tanggal 16 April 1987, Sutedjo dibantu polisi dan tentara menyisir daerah itu. Di sanalah, kemudian keponakannya itu sudah ditemukan tidak bernyawa dengan posisi gantung diri. Dia mengenakan celana pendek tanpa baju dan kakinya terendam di aliran sungai. (bersambung)

(dms/jpr/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP