Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
Features

Jejak Wirdjo si Pembantai dari Banyuwangi (1)

Nyeleneh, Makan 2 Kg Cabai hingga Mencekoki Sapi dengan Ular Beracun

| editor : 

Sutedjo menunjukkan makam alm Wirdjo di lingkungan Watubuncul, kelurahan Boyolangu, Banyuwangi.

Sutedjo menunjukkan makam alm Wirdjo di lingkungan Watubuncul, kelurahan Boyolangu, Banyuwangi. (niklaas andries/radar banyuwangi)

JawaPos.com - Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) yang saat ini dikenal dengan geliat pariwisatanya yang tak henti dibanjiri pelancong, dahulunya pernah menjadi daerah yang menyimpan kisah kelam kekejam seorang pria bernama Wirdjo. 

Tragedi yang telah menewakan belasan orang dan melukai puluhan lainnya itu terjadi pada 12 Juli 1987. Tim Radar Banyuwangi (JawaPos Group) mencoba menelusuri jejak kelam yang terjadi pada 30 tahun silam itu. 

Kejadian berdarah itu terjadi di Lingkungan Watu Buncul, Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Sebuah kampung yang masih menyimpan potensi alam yang asli. Aliran airnya masih tampak jernih. Pematang sawah sejauh mata memandang cukup mampu menyejukkan mata.

Di kampung itu, tinggalah seorang pria bernama Wirdjo, usianya saat itu masih sekitar 35 tahun. Namun sepak terjang pria ini, membuat ribuan warga yang tersebar di Desa Olehsari (Kecamatan Glagah), Desa Kemiren (Kecamatan Glagah), Desa Boyolangu (Kecamatan Giri), hingga Desa Kelir (Kecamatan Kalipuro) diliputi ketakutan yang teramat sangat. 

“Banyak yang nggak enak makan dan tenang saat itu,” kenang Sutedjo, paman Wirdjo.

Waktu pria yang saat ini berusia 65 tahun ini tinggal tidak jauh dari kediaman Wirdjo. Bisa dikatakan Ia adalah saksi mata atas tragedi berdarah itu.

Usianya kala itu tidak terpaut jauh dengan keponakannya tersebut. Lewat penuturannya, kepingan puzzle yang tercecer dalam sejarah kasus berdarah itu mulai tersingkap.

Wirdjo sendiri merupakan pemuda asli kampung Watu Buncul. Dia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dari buah pernikahan pasangan Soenar dan Mak Jas.

Meski anak desa, Wirdjo sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar semasa kecilnya. Di kampungnya, dia dikenal sebagai sosok yang keras, temperamental, dan terkadang sering berperilaku nyeleneh.

Sikap keras dan temperamental Wirdjo ini pun tampak tergambar jelas saat bersama sang istri. Dia pun tidak segan naik darah, saat ada orang yang memandang istrinya. 

Sumbu pendek Wirdjo yang mudah meledak ini pula, yang rupanya dimaklumi oleh istrinya. Saat berjalan dengan sang suami, dia hanya bisa menunduk dan berjalan di belakang Wirdjo tanpa banyak bicara.

“Papasan lihat istrinya saja, dia bisa marah. Istrinya juga sudah tahu, makanya dia tidak berani jalan di sampingnya. Dia biasanya jalan di belakangnya,” beber Darmi, istri Sutedjo.

Wirdjo juga pernah menjadi bagian dari kejayaan PT Kertas Basuki Rahmat. Dia bekerja di sana sebagai sopir forklift (alat berat pengangkut barang). Cukup lama dia bekerja di pabrik kertas.

Namun perjalanan karirnya di pabrik harus berakhir dengan pemecatan dari pihak manajemen perusahaan. Ulahnya menabrakkan forklif ke tembok, membuat dia diberhentikan dari pekerjaan di pabrik. Sejak itulah, dia kemudian beralih profesi sebagai petani. Sawah sang kakak yang cukup luas menjadi jujukan kelanjutan roda perekonomian keluarganya.

Sikap nyeleneh Wirdjo rupanya tidak hanya terjadi di tempat kerja. Sutedjo masih ingat benar perilaku keponakannya semasa hidup yang dinilainya tidak seperti pemuda kebanyakan. Wirdjo saat itu pernah membuat dirinya heran, saat membuat rujak kecut dari dua buah pepaya. Rujak yang dibuatnya dalam ukuran tidak wajar yakni satu ember.

Bahkan, yang membuat Sutedjo geleng-geleng kepala adalah campuran cabai yang digunakan Wirdjo untuk rujak kecut itu. Dia membuat rujak kecut dengan cabai sebanyak dua Kilogram.

“Dia sampai teler karena habis setengahnya. Saya cuma ngomel, perutnya bisa terbakar gara-gara cabai segitu,” ujarnya.

Melihat keponakannya itu kelengar, Sutedjo sempat meminta istri Wirdjo, Ndara, untuk membelikan es. Lagi-lagi, Wirdjo menunjukkan sikap nyeleneh.

Rasa pedas yang dirasakannya justru dinetralisirnya mempergunakan 50 butir telur pindang. Sutedjo pun kembali dibuat geleng-geleng keheranan.

Cerita nyeleneh Wirdjo pun terus berlanjut. Kali ini, dia memotong sapi yang digunakannya untuk membajak sawah. Alasannya sederhana, sapi yang digunakan kurang gesit dan tidak kuat untuk dipakai membajak sawah. Dia kemudian memberi makan ternak itu dengan ular luwuk.

“Sapinya akhirnya teler diberi makan ular luwuk. Lah ularnya sendiri beracun. Pas sapinya sekarat karena efek diberi makan ular itu, baru dipotong sama dia sapinya,” katanya.

Belum cukup, Wirdjo juga dikenal sebagai pemanjat pohon kelapa yang ulung. Tapi caranya memang di luar orang pada umumnya.

Saat akan memetik buah kelapa, Wirdjo membawa kasur miliknya hingga ke bawah pohon. Ketika sudah berada di atas, buah kelapa kemudian dijatuhkan persis di atas kasur yang dibawanya.

Sutedjo dan istrinya, Darmi pun sempat keheranan saat Wirdjo memanggul kasur dari kamarnya. Meski tidak wajar caranya, alasannya cukup masuk akal.

Bila kelapa sampai pecah maka tidak laku dijual di pasaran. Kasur berfungsi untuk meminimalkan benturan buah kelapa dengan tanah. Kelapa yang jatuh ke kasur pun utuh, dan kemudian layak untuk dijual.

Selain sering bertingkah nyeleneh, Wirdjo juga dikenal dengan selera makan yang luar biasa. Masih ingat dalam benak Sutedjo, bagaimana keponakannya itu menanak nasi dari lima kilogram (5 Kg) beras. Bermodal satu botol minyak goreng, dia kemudian memasak nasi goreng dari hasil menanak nasi 5 Kg itu. (bersambung)

(dms/jpr/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP