Kamis, 19 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Jati Diri

Manuver Menyejukkan AHY-Gibran

| editor : 

MENYEJUKKAN: Presiden Jokowi dan putranya Gibran Rakabuming Raka menerima kedatangan Agus  Harimurti Yudhoyono.

MENYEJUKKAN: Presiden Jokowi dan putranya Gibran Rakabuming Raka menerima kedatangan Agus Harimurti Yudhoyono. (Fathra/JPNN)

MANUVER politik di Indonesia tak selamanya berisi saling sindir, yang kemudian diikuti saling cerca buzzer pihak masing-masing. Setidaknya itulah yang terjadi saat putra mahkota Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertandang ke Istana Negara kemarin.

Tidak hanya ditemui Presiden Jokowi, tetapi juga oleh Gibran Rakabuming Raka. Si putra presiden begitu mendengar AHY datang langsung meminta ikut datang. Kemudian, dengan gayanya yang khas, Gibran malah memasakkan gudeg dan bubur lemu. Menu makanan khasnya. Yang kemudian disambut pujian oleh AHY.

Setelah pertemuan, Gibran dan AHY mengadakan jumpa pers bersama. Keakraban, suasana yang cair, dan kemudian saling jabat tangan antara kedua anak penguasa itu seperti meredam tensi panas menjelang Pilpres 2019.

Dunia politik Indonesia membutuhkan manuver-manuver yang menyejukkan seperti itu. Rivalitas politik memang tak terelakkan. Tapi, ya itu memang esensi politik, memperebutkan kekuasaan. Namun, yang ditunjukkan AHY dan Gibran memperlihatkan bahwa cara itu bisa diraih dengan jalan yang elegan, sejuk, dan tidak membuat pertentangan di masyarakat.

Yang terpenting adalah menghargai mereka-mereka yang ingin bersama-sama memajukan Indonesia. Dengan cara yang baik, dengan cara yang tidak membelah masyarakat, dengan cara yang tidak memajukan identitas seperti yang secara vulgar terlihat pada pilgub DKI lalu.

Rakyat sudah jenuh gontok-gontokan. Masyarakat sudah muak dengan manuver politisi. Mereka bersama-sama mengeluarkan pernyataan yang sepintas terlihat santun. Tapi, sebenarnya sangat provokatif membakar massa pendukung mereka. Dan cerita selanjutnya bisa diketahui. Saling cerca di media sosial. Membuat polarisasi yang ada menjadi semakin tajam. Padahal, luka akibat Pilpres 2014 masih belum kering. Kemudian, dibuat semakin menganga oleh pilgub DKI dan perkembangan-perkembangan politik yang terjadi.

Untuk itu, kedatangan AHY ke Istana Negara selama 1,5 jam, yang kemudian diikuti pernyataan bersama AHY-Gibran yang saling memberikan apresiasi, adalah seperti hujan yang menyegarkan. Menunjukkan bahwa cara berpolitik anak muda Indonesia kian dewasa dan kian matang. Sesuatu yang belum bisa dilakukan generasi di atas mereka.

(*)

Sponsored Content

loading...
 TOP