Rabu, 18 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Humaniora

Kasus Tewasnya Bocah SD, Mensos Minta Sekolah Tanggung Jawab

| editor : 

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (Dok.JawaPos)

JawaPos.com - Kasus tewasnya siswa SD Longkewang, Sukabumi, Jawa Barat, SR (8), harus dijadikan pelajaran bagi seluruh pihak, terutama institusi pendidikan.
Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pihak sekolah harus bertanggungjawab atas kejadian tersebut.

Guru, kata dia, bukan hanya mentransformasikan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan etika dan adab kepada anak-anak.

"Karena terjadi di lingkungan sekolah maka pihak sekolah dalam hal ini guru kelas dan kepala sekolah harus bertanggung jawab," kata Khofifah seusai pencairan Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III di Kabupaten Bandung Barat, Kamis (10/8), dilansir RMol Jabar (Jawa Pos Grup).

Khofifah mengatakan kasus seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi jika guru lebih awas dan peka dalam memonitor sikap dan perilaku seluruh murid didiknya. Ia yakin kejadian tersebut adalah puncak konflik akibat saling ejek yang berujung dengan perkelahian.

"Semestinya, guru bisa langsung merespons. Bisa dengan menengahi kedua anak itu, atau memanggil orangtuanya. Apabila sudah tidak bisa lagi, maka harus dicari solusi efektif sampai kemungkinan mengembalikan kepada orang tua," tuturnya.

Seperti diketahui, SR meninggal dunia diduga setelah terlibat perkelahian dengan temannya, Selasa (8/8). SR diduga menjadi korban perundungan atau bullying.
Saat ini peristiwa nahas tersebut sedang diselidiki jajaran Polres Sukabumi. Tak hanya dipukul, telinga SR disumbat menggunakan keripik, dan disiram dengan minuman ringan.

Ditanya soal hukuman kepada pelaku, Khofifah mengatakan karena pelaku adalah anak-anak maka bentuk hukuman yang diberikan berdasarkan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA).

"Proses hukum tetap bisa dilakukan, namun tetap harus mempertimbangkan hak-hak anak. Meskipun, dari aspek pidana, jelas ini sebagai bentuk kejahatan," pungkasnya.

(mam/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP