Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Ekonomi

Rizal Ramli Geram Tim Ekonomi Jokowi Doyan ‘Ngeles’

| editor : 

Mantan Menko Maritim sekaligus Pakar Ekonomi Rizal Ramli.

Mantan Menko Maritim sekaligus Pakar Ekonomi Rizal Ramli. (JawaPos.com)

JawaPos.com - Pakar Ekonomi Rizal Ramli meminta agar tim ekonomi Presiden Joko Widodo berhenti untuk sering berkilah alias ngeles untuk menutupi kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang makin turun.

“Ini malah rajin ngeles. Kebijakan makro ekonomi super konservatif itu penyebab anjlok," kicau Rizal melalui akun twitter pribadinya @RamliRizal, Senin (7/8) sebagaimana dilansir dari rmol (JawaPos Group).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu merinci kebijakan makro ekonomi super konservatif yang dia maksud. 

Beberapa diantaranya, tim ekonomi Jokowi hanya memiliki prioritas utama bayar pokok dan bunga utang. 

"Rp 512 Triliun untuk tahun 2017, infrastruktur prioritas ketiga Rp 387 Triliun. Tidak ada kreatifitas untuk mengurangi beban utang dengan cara seperti 'Debt-to-Nature Swap','Loan Swap' dan lainnya," jelas Rizal.

Rizal yang pernah menjabat Mantan Menteri Koordinator bidang Maritim dan Sumber Daya itu juga menilai tim ekonomi Jokowi hanya fokus pada austerity (potong-potong/pengetatan). 

Padahal, kata dia, hal Itu dilakukan hanya sekedar untuk mengamankan kepentingan kreditors, pembayaran utang. 

"Tidak ada 'growth story', memacu sektor-sektor unggulan yang competitive dan cepat hasilkan devisa seperti tourism, electronics dan lainnya," kata Rizal

Mantan Kepala Bulog itu juga menilai tim ekonomi Jokowi melihat macro economics seolah-olah hanya soal inflasi dan APBN. Padahal banyak cara untuk memicu infrastruktur di luar APBN seperti revaluasi aset. 

Rizal pun bercerita dia berhasil mendorong asset BUMN naik Rp 800 triliun dan pajak Rp 32 triliun pada tahun 2016 lalu.

"Selain revaluasi aset juga harusnya lakukan sekuritisasi aset, BOT/BOO untuk infrastruktur di Jawa (daya beli dan pertumbuhan ekonomi relatif tinggi)," tambah Rizal.

Rizal juga menyayangkan pertumbuhan kredit di bawah tim ekonomi Jokowi yang hanya mencapai 10 persen. Menurut Rizal untuk mencapai target ekonomi tumbuh 6,5 persen maka kredit perlu tumbuh 15 hingga 17 persen. "Tapi harus tetap prudent," ujar Rizal.

Terakhir Rizal juga mengkritisi soal kebijakan pemotongan subsidi dan pajak yang diuber-uber. Ironisnya penguberan pajak itu termasuk untuk golongan menengah bawah seperti petani tebu dan yang memiliki akun Rp 1 miliar.

"Upaya turunkan batas minimum kena pajak Rp 4,5 juta. Kalau berani yang top 1 persen dong. Di negara yang lebih canggih pengelolaan makro ekonominya, mereka longgarkan fiskal, pajak dan moneter ketika ekonomi slowdown. Nanti kalau sudah membaik, baru diuber," pungkas Rizal.

Rizal pun mengaku mendapatkan data jika penjualan sepeda motor saat ini turun 5 persen. Selain itu, pertumbuhan konsumsi listrik hanya 2 persen yang biasanya bisa mencapai 9 persen. Pertumbuham omset semen pun disayangkan Rizal hanya mencapai 3 persen yang biasanya 10 persen.

Jadi, kata Rizal, dari pada ngeles, mungkin akan lebih simpatik jika berani untuk mengumumkan langkah-langkah yang akan diambil dan time-framenya. 

“Lebih asyik ndak perlu ngeles lagi. Sudah terang benderang, cari solusi keluar dari kebijakan makro ekonomi konservatif," demikian Rizal.

(dms/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP