Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Travelling

ZPB Bangsring, Melindungi Alam Hingga Peroleh Kalpataru

Kini Menjadi Wisata Andalan Para Nelayan

| editor : 

Rumah apung Bangsring, kawasang ZPB  Bangsring, Kecamatan Wongsorejo

Rumah apung Bangsring, kawasang ZPB Bangsring, Kecamatan Wongsorejo (dok/rendra/jawapos radar Banyuwangi)

JawaPos.com  – Zona Perlindungan  Bersama (ZPB) di kawasan Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, makin populer saja pariwisatanya. Apalagi setelah kawasan tersebut mendapat penghargaan Kalpataru dari Kementerian KLH 3 Agustus lalu, makin mempekokoh kawasan itu sebagai kawasan konservasi maupun kawasan wisata bahari bawah laut.

Para wisatawan  mendapatkan berbagai suguhan menarik terkait keindahan pantai Bangsring dan pesona bawah laut, dengan keindahan terumbu karangnya yang terawat dengan baik. Maka tak heran penggemar olahraga selam, baik menggunakan snorkel maupun peralatan diving selam, bisa menyaksikan si ikan kecil nemo (clown fish) lalu lalang diantara anemon laut dan celah celah terumbu karang perairan laut dangkal Bangsring.  

Bahkan para wisatawan yang hobi diving bisa berenang bersama ikan hiu. Tentu saja ikan hiu berada dalam penangkaran. Sehingga tetap ada batas transparan antara ikan hiu dan para penyelam. Namun, ini yang menarik bagi wisatawan, karena bisa selfie bersama ikan hiu. ‘’ Ikan itu memang dalam penangkaran karena tidak sengaja terjaring jala nelayan Bangsring ketika menangkap ikan,’’ kata Sukirno, Ketua Pokdarwis  Desa Bangsring.

Berenang bersama Ikan ihu di penangkaran kawasan bahwa laut ZPG Bangsring

Berenang bersama Ikan ihu di penangkaran kawasan bahwa laut ZPG Bangsring (dok/rendra/jawapos radar Banyuwangi)

Menurut Sukirno, ikan hiu itu saat tertangkap jala nelayan dalam kondisi luka. Lalu dibeli ZPB untuk ditangkarkan. Setelah kondisinya sehat ikan hiu itu dilepas kembali ke laut bebas. ‘’Ya sekalian untuk hiburan para wisatawan yang punya hobi diving,’’ ujarnya.

Nama ZPB Bangsring makin terkenal bagi wisatawan dalam dua tahun terakhir. Bahkan kawasan itu, menjadi inpirator  bagi para nelayan yang hidup di pesisir pantai di kawasan Banyuwangi lainnya untuk membuka lokasi wisata dan pemeliharaan terumbu karang.  

Terbukti beberapa kawasan pesisir pantai di sepanjang pantai di Banyuwangi, mulai tumbuh kesadaran untuk melindungi terumbu karang di pantainya. Mereka juga mencontoh konsep ZPB Bangsring.

Tentu saja denyut wisata di Bangsring ini juga menjadi pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat nelayan di Bangsring. Selain sebagai nelayan, mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan meski tidak melaut.

Tempat wisata di Bangsring ini dengan suasana pantai yang teduh dan wisata bawah laut yang mempesona bukan begitu saja terjadi. Namun ini merupakan kerja keras para nelayan selama hampir 10 tahun terakhir.

Menurut Sukirno, yang juga ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Bangsring, tahun 2008, pantai pesisir di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo ini terlihat gersang. ‘’Pantai terlihat tandus. Terumbu karang rusak, karena memang tidak terawat,’’ katanya.

Atas inisiatif sejumlah nelayan yang dimotori Sukirno, akhirya diundanglah sekitar 100-an nelayan Desa Bangsring. Dari 100 nelayan itu, hanya 27 nelayan yang aktif. Awalnya mereka melakukan penanaman cemara pantai.

Dari 50 bibit sumbangan pemerintah, ternyata hanya 12 yang tumbuh. Namun para telayan yang tergabung dalam pengurus Zona Perlindungan Bersama (ZPB) tak putus asa. Pada tahun 2010 dari 12 pohon cemara yang tumbuh dan besar itu, mereka akhirnya melakukan pencakokan.

Usaha pencakokan itu membuahkan hasil. Maka, kini sepanjang pesisir pantai dan di kawasan perkampungan nelayan sudah tumbuh subur cemara pantai. ‘’Kami waktu itu melakukan monitoring setiap 3 bulan sekali,’’ Kata Sukirno, menambahkan.

Tak hanya itu, bersamaan melakukan penanaman pemeliharaan pohon cemara, pada tahun 2010 mereka mulai melakukan penanaman dan pemeliharaan terumbu karang yang rusak di sepanjang pantai Bangsring. Terumbu karang itu ditanam pada dasar laut  dengan kedalaman 2 – 5 meter dari permukaan laut.

Akhirnya pada tahun 2014, kawasan ZPB dibuka untuk umum sebagai kawasan wisata konservasi pantai dan laut. Dari tiket masuk yang hanya Rp 1000 dan parkir kendaraan Rp 5000 itu, kini para nelayan mampu memperbaiki ekonomi mereka. Bahkan bila nelayan tak melaut karena cuaca buruk, para nelayan tak repot lagi, karena sudah terbantu dengan komersialisasi ZPB.

Bahkan dulu yang hanya 27 nelayan aktif, kini hampir 100 persen nelayan Bangsring aktif terlibat di konservasi ZPB. Bahkan untuk pengurus ZPB mendapatkan gaji bulanan berkisar antara Rp 1,4 juta – Rp 2 juta. Tak hanya itu, beberapa sarana bermain seperti jetski, banana boat, perahu dayung, dan persewaan diving, merupakan investasi dari sejumlah nelayan setempat.

Tak heran bila partisipasi mandiri segenap masyarakat nelayan Bangsring itu mendapatkan hasil. Yakni penghargaan Kalpataru. ‘’Ya awalnya kami hanya melakukan konservasi, karena prihatin rusaknya terumbu karang. Kalau kemudian mendapat Kalpataru dan sekarang jadi jujukan wisatawan, itu efek samping saja. Tapi prinsipnya kami ingin konservasi perlidungan terumbu karang dan pelestarian pantai tetap terus berlanjut,’’ ujar Sukirno.

Suksesnya Desa Bangsring sebagai kawasan konsenvasi mandiri dan mendapat pengharagaan Kalpataru  itu juga menjadikan Desa Bangsring menjadi destinasi wisata untuk konservasi pantai dan terumbu karang. ‘’Pemkab sudah menetapkan 10 desa menjadi destinasi wisata di Banyuwangi dengan tema berbeda. Salah satunya Desa Bangsring,’’ kata M Yanuar Baramuda, PLT Disparta Banyuwangi.

Keberadaan Desa Bangsring dengan konservasi ZPB itu diakui Baramuda, menginspirasi desa pantai di Banyuwangi. ‘’Beberapa desa pantai di Banyuwangi kini mulai berbenah dan mencontoh sukses dari Desa Bangsring,’’ pungkasnya.

(mik/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP