Jumat, 23 Feb 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Pendidikan

Hilmar Farid: Sastra Pintu Masuk Efektif untuk Eratkan ASEAN

| editor : 

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid (kiri) bersama Sekretaris Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Nono Adya (kanan) saat membuka ASEAN Literary Festival, di Kota Tua, Jakarta, Kamis (3/8)

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid (kiri) bersama Sekretaris Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Nono Adya (kanan) saat membuka ASEAN Literary Festival, di Kota Tua, Jakarta, Kamis (3/8) (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

JawaPos.com - Perhelatan akbar sastra se-Asia Tenggara, ASEAN Literary Festival (ALF) 2017 yang dihelat di Taman Fatahillah, kawasan Kota Tua, Jakarta, mulai Kamis (3/8) hingga Minggu (6/8) menjadi ajang perekat masyarakat ASEAN.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Hilmar Farid saat membuka ALF menuturkan, ”Sastra merupakan pintu masuk yang efektif untuk saling belajar satu sama lain, menyelesaikan masalah-masalah sosial dan menjalin koneksi yang kuat sesama negara ASEAN. Sejarah telah membuktikan itu,” papar Hilmar.

Hilmar menyampaikan dukungan Kemendikbud terhadap inisiatif ALF meningkatkan solidaritas dan persaudaraan antar negara melalui sastra. ”Peran festival ini sangat penting, terutama dalam kaitannya untuk meningkatkan koneksi yang lebih erat di kalangan grass root, masyarakat secara langsung, tidak hanya di kancah hubungan diplomatik,” lanjut Hilmar.  

Senada dengan yang disampaikan Direktur Program ASEAN Literary Festival Okky Madasari. ”Sebagai komunitas, artinya saling mengenal budaya masing-masing, termasuk mengenal akrab produk-produk sastra dan buku dari masing-masing negara anggota,” ujar peraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2012 untuk novel ketiganya, Maryam itu.

Yang istimewa, penyelenggaraan kali keempat ALF yang mengambil tema Beyond Imagination ini bertepatan dengan 50 tahun berdirinya The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), asosiasi bangsa-bangsa se-Asia Tenggara.

ALF 2017 berlangsung hingga Minggu (6/8). Hari keempat festival menyuguhkan sesi 50 Years of ASEAN yang menghadirkan pembicara-pembicara berpengaruh seperti Direktur Regional Asia di Center of Humanitarian Dialogue Michael Vatikiotis yang buku terbarunya mengulas konflik agama, Nasir Tamara, Suu Mi Aung, dengan moderator Abdul Khalik.

Ada pula sesi The Future is Feminist yang diisi wartawan senior peraih Yap Thiam Hien Award Maria Hartiningsih, Clara Chow (Singapura), Tra Nguyen (Vietnam), Alanda Kariza, dimoderatori Kate Walton.

Sejak tahun lalu, ALF menggelar program residensi yang tahun ini diikuti 12 penulis dari Asia Tenggara dan Jepang. Selain itu, ada program baru di tahun ini, Jambore Nasional Sastra untuk pelajar. Kelas diisi oleh para penulis muda di antaranya Lala Bohang, Ira Lathief, hingga Alanda Kariza yang berbagi proses kreatif mereka.

(nor/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP