Rabu, 18 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Ekonomi

Minyak Anjlok, Saudi Cari Utangan Dan Jual Perusahaan Minyaknya

| editor : 

Ekonom UGM Tony Prasetiantono

Ekonom UGM Tony Prasetiantono (Hana Adi Perdana/JPC)

JawaPos.com - Siapa yang akan menyangka jika negara sebesar Arab Saudi mencari utang? Tentu sulit membayangkannya. Sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar, sulit dicapai nalar rasanya jika Saudi harus mencari pinjaman. Sayangnya, kenyataan pahit itu memang terjadi.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Komisaris Independen PT Bank Permata Tbk Tony Prasetiantono menjelaskannya. Saat ini perekonomian Saudi tengah dalam kondisi kembang kempis.

Beberapa tahun silam saat harga minyak dunia mencapai USD 100 per barel, Saudi begitu terlena. Sayangnya, kondisi itu berbalik saat harga minyak dunia saat ini meyentuh USD 47 per barel. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mereka tidak dapat memenuhi pembiayaan dalam negeri. Sungguh sebuah ironi.

"Siapa yang membayangkan Saudi cari utang ? nggak membayangkan kan ? saudi itu punya minyak, ketika harga minyak USD 100 per barel mereka foya-foya, sekarang ketika harga minyak USD 47 per barel, apa yang terjadi ? APBN-nya jebol," ujarnya dalam sebuah diskusi di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (2/8).

Keadaan tersebut, lanjut Tony, membuat pemerintah Saudi putar otak. Penawaran umum perdana saham (IPO) Aramco menjadi pilihan. Mereka berencana melepasnya ke publik sebesar 5 persen.

Jika di valuasi, diperkirakan pundi-pundi yang masuk ke kas pemerintah Saudi mencapai USD 100 miliar atau setara Rp 1.333 triliun. Jumlah tersebut akan mencatatkan Aramco sebagai perusahaan dengan IPO terbesar mengalahkan Alibaba yang sebesar USD 25 miliar atau sekitar Rp 333,4 triliun.

"Dan mereka harus melakukan divestasi saham di perusahaan minyak terbesar namanya Saudi Aramco. Tahun depan Aramco itu mau dijual, mungkin 5 persen atau 2,5 persen dan itu jadi the largest IPO in the world. Itu akan mengalahkan IPO-nya Alibaba. Bayangkan, Saudi saja berhutang, APBN-nya jebol," pungkasnya.

(cr4/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP