Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
Travelling

Perjalanan Telusuri Pulau Mengare (7-habis)

Hamparan Pasir Putih Terancam Abrasi

| editor : 

DITERJANG OMBAK: Kawasan mangrove di Pulau Mengare menjadi pertahanan untuk melawan abrasi terhadap daratan tersebut.

DITERJANG OMBAK: Kawasan mangrove di Pulau Mengare menjadi pertahanan untuk melawan abrasi terhadap daratan tersebut. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Wisata pantai yang dimiliki Pulau Mengare berada dalam ancaman serius. Penyebab utamanya adalah abrasi. Dari tahun ke tahun, daerah pantai Pulau Mengare mengalami pengikisan yang cukup luas.

PANTAI Pulau Mengare cukup indah, membentang di sisi utara Benteng Lodewijk dan sisi selatan. Pasirnya putih, bersih. Pada hari-hari tertentu, terutama saat weekend, pantai tersebut ramai pengunjung. Terutama anak-anak sekolah. ”Waktu yang tepat untuk berkunjung memang bulan Juni–Agustus. Masih musim timur,” kata pemandu wisata Pulau Mengare Gatot Winarko.
Saat musim timur, lanjut dia, ombak laut cukup tenang sehingga pengunjung bisa berwisata sekaligus mandi. Namun, gelombang ombak sangat tinggi saat berlangsung musim barat. Yakni, sekitar Desember, Januari, dan Februari. Nah, gelombang tinggi itulah yang mengancam keindahan pantai Pulau Mengare. Banyak bagian yang terkena abrasi. Pengikisan daerah pantai terlihat jelas saat Jawa Pos melakukan penyusuran dengan menggunakan perahu nelayan pada Jumat (14/7). Kondisi tersebut terlihat di wilayah Desa Tanjungwidoro.
Di satu titik sisi selatan muara Sungai Cemara, masih terdapat satu batang pohon mangrove di tengah laut. Jarak pohon dengan darat mencapai 1,5 kilometer. ”Ini dulu masuk daratan. Namun, sekarang sudah menjadi laut lepas,” jelas Ahmad Ja’far, nelayan yang mengantar Jawa Pos.
Selain pantai, tambak warga terkena dampak abrasi. Ratusan hektar tambak kini berubah menjadi laut lepas. Salah satunya adalah tambak milik Zuhri. Penambak 65 tahun asal Dusun Sisir Barat, Tanjungwidoro, itu mengaku telah kehilangan 400 hektar tambak. Pengikisan berlangsung sejak 2000. Pada 2007, 400 hektar tambaknya lenyap. ”Sekarang tambak jadi laut,” ungkap kakek tiga cucu tersebut.
Kondisi serupa menimpa puluhan penambak lain. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa atas amukan alam itu. Kini daratan Desa Tanjungwidoro terus mengikis.
Kepala Desa Tanjungwidoro Mastain menyatakan, dulu luas daratan desanya mencapai 2.400 hektar. Namun, saat ini, luas daratan desa tinggal 738 hektar. Artinya, wilayah darat yang sudah berubah menjadi laut mencapai 1.662 hektar. ”Terutama musim angin barat, gelombang laut sangat besar,” ucap Mastain.
Dia menyatakan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk menanggulangi gejala abrasi. Sekitar 2006, ujar dia, warga pernah menanam mangrove secara bergotong-royong. Tapi, usaha itu sia-sia. Tanaman bakau tersebut kembali hanyut digempur ombak.
Tim pengelola wisata Benteng Lodewijk sangat prihatin dengan kondisi itu. Ketua Tim Pengelola Gatot Winarko mengaku berkonsentrasi agar fondasi benteng tidak sampai tergerus ombak. Upaya tersebut dilakukan dengan melingkari area benteng dengan menggunakan batu karang. ”Upaya kami masih sangat terbatas,” tuturnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gresik Soemarno mengaku belum memiliki anggaran untuk pencegahan abrasi laut. Dia sangat berharap peran perusahaan melalui CSR. Selain itu, pihaknya akan mengusulkan bantuan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dia pun berharap instansi pimpinan Menteri Susi Pudjiastuti itu bisa memberikan bantuan mangrove. ”Pantai Mengare adalah potensi wisata yang harus dijaga kelestariannya,” jelasnya. 

(*/c23/roz)

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP