Rabu, 13 Dec 2017
Logo JawaPos.com
Humaniora

Piawai Bisnis dan Lobi Sejak Muda, Nasib Setnov Kini Diujung Tanduk

| editor : 

Ketua DPR Setya Novanto

Ketua DPR Setya Novanto (Dok.JawaPos.com)

JawaPos.com - Ketua DPR Setya Novanto kini menjadi sorotan. Pasalnya, dia baru saja ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Lahir di Bandung, 12 November 1954, ternyata Setnov melalui proses panjang untuk mencapai posisi puncaknya saat ini sebagai orang nomor satu di DPR. Dia terbilang piawai dalam berbisnis.

Keahliannya di dunia bisnis terlihat sejak dia menjadi mahasiswa. Kuliah Jurusan Akutansi di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, Setnov mulai mencoba-coba untuk mencari uang sendiri.

Beragam pekerjaan dia santroni. Mulai dari berjualan beras dan madu dengan modal Rp 82.500. Akhirnya dia menjadi tengkulak dan bisa menjual dua truk yang langsung diambil dari pusat beras di Lamongan. Saat itu, dia juga punya kios di pasar Keputren, Surabaya. Sayang, usaha tersebut tak bertahan lama dan predikat juragan beras ditanggalkannya karena mitra usahanya mulai tidak jujur.

Lalu, dia mendirikan CV Mandar Teguh bersama putra Direktur Bank BRI Surabaya, Hartawan, dan pada saat yang sama ia ditawari bekerja menjual atau menjadi salesman mobil Suzuki untuk Indonesia Bagian Timur.

Ilustrasi Partai Golkar

Ilustrasi Partai Golkar (Radar Semarang/Jawa Pos Group/JawaPos.com)

Tak mau menyiakan kesempatan, Setnov muda pun mengambil tawaran tersebut dan memilih membubarkan CV yang didirikannya. Berkat kepiawaiannya akhirnya Novanto muda menjadi kepala penjualan mobil untuk wilayah Indonesia Bagian Timur.

Namun tak hanya piawai dalam berbisnis, Setnov muda pun sempat menjadi model, dan terpilih jadi pria tampan Surabaya pada tahun1975. Tak ayal, dia pun dikenal dan memiliki banyak sahabat.

Selepas kuliah di Widya Mandala, ia bekerja untuk PT Aninda Cipta Perdaba yang bergerak sebagai perusahaan penyalur pupuk PT Petrokimia Gresik untuk wilayah Surabaya dan Nusa Tenggara Timur. Adapun PT Aninda dimiliki oleh Hayono Isman, teman sekelas nya di SMA Negeri 9 Jakarta. Bisa dibilang, pertemanan mereka cukup erat.

Kembali ke Jakarta pada 1982, Setnov meneruskan kuliah jurusan akuntansi di Universitas Trisakti. Selama kuliah dia tinggal di rumah teman dan atasannya, Hayono, di Menteng, Jakarta dan tetap bekerja di PT Aninda Cipta Perdana.

Dia menjadi staf Hayono. Namun dia juga mengurus kebun, menyapu, mengepel, hingga menyuci mobil dan menjadi sopir pribadi keluarga Hayono.

Semasa kuliah, Novanto diingat oleh temannya sebagai seseorang yang rapi dan rajin, namun minim kegiatan sosial dan politik saat mahasiswa.

Sebagai pengusaha, dia dikenal sebagai salah satu binaan konglomerat Sudwikatmono. Berkat binaan tersebur, politikus asal Jabar tersebut diakui memiliki kemampuan lobi di atas rata-rata walaupun kurang matang.

Sementara itu, kiprah Setnov di dunia politik tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Hayono Isman. Dia lantas tertarik untuk menjadi kader organisasi sayap kanan Partai Golkar, Kosgoro di tahun 1974.

Hingga akhirnya dia menjadi anggota dari partai beringin itu. Melalui Partai Golkar lah, dia berhasil menduduki kursi di parlemen selama enam periode sejak 1999 sampai saat ini menempati posisi ketua DPR, meskipun sempat mundur dari jabatan itu gara-gara kasus ’’ Papa Minta Saham ‘’.

Tapi, Novanto berhasil bangkit dengan menjadi ketua umum Partai Golkar hingga akhirnya menjadi ketua DPR kembali.

Namun kini, nasib di puncak pimpinan DPR maupun di Partai Golkar bisa dibilang tengah diujung tanduk, usai KPK menetapkannya sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP.

Setnov dinilai bersama pihak lain terbukti turut serta memuluskan tahapan perencanaan, hingga pelaksanaan proyek e-KTP berjalan, sesuai dengan peran yang dipaparkan jaksa penuntut umum dalam dakwaan Irman dan Sugiharto.

Hal ini menyusul adanya pertemuan antara terdakwa Irman dan Sugiharto, Andi Agustinus, Diah Anggraini,  dan Setnov di Hotel Grand Melia Jakarta pada Februari 2010 silam, sekitar pukul 06.00 Wib.

Dalam pertemuan tersebut, para terdakwa meminta dukungan Setnov dalam proses penganggaran tersebut, dan Setnov menyatakan dukungannya terhadap proses penganggraan proyek e-KTP yang sedang berjalan di Komisi II DPR.

Selain itu, fakta hukum lain yang mengaitkan keterlibatan Setnov, juga adanya  pertemuan antara Andi Agustinus alias Andi Narogong bersama terdakwa satu, yang menemui Setnov di lantai 12 Gedung DPR RI, guna memastikan dukungan politisi ulung ini terhadap penganggaran proyek e KTP.

Dalam pertemuan tersebut Setnov mengatakan sesuatu. ''Ini sedang kita koordinaskan perkembanganya nanti hubungi Andi,’’ urai JPU KPK Mufti Nur Irawan dalam persidangan di Tipikor.

Atas kasus yang dialaminya, dia terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara, pasalnya disangka melanggar Pasal 3 atau pasal 2 ayat 1 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 KUHP.

Merujuk pada UU Tipikor, Pasal 2 ayat 1 menyebutkan, setiap orang yang secara sah melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun dan denda paling sedikit 200 juta rupiah dan paling banyak 1 miliar rupiah.

Sedangkan di Pasal 3, menyebutkan setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan  diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya, karena jabatan atau karena kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dan atau denda paling sedikit  50 juta rupiah dan maksimal 1 miliar.

(dna/JPC)

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP