Kamis, 19 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

"Saya Warga Dekat Sini, Kenapa Anak Kami Tak Diterima"

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dery Ridwansyah/Jawa Pos)

JawaPos.com - Sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang diputuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada beberapa waktu lalu ternyata belum menguntungkan orang tua siswa.

Masih banyak orang tua tidak bisa menyekolahkan anaknya di sekolah negeri, kendati lembaga pendidikan itu dekat dengan rumahnya. Jumlah orang tua siswa yang tidak bisa menyekolahkan anaknya di sekolah dekat rumah ternyata tidak sedikit.

Akibatnya mereka melakukan penyegelan terhadap sekolah yang dianggap tidak mengakomodir kepentingannya. Seperti yang terjadi di SMPN 27 Sagulung, Batam. Sekolah itu digeruduk seratusan warga yang berdiam di sekitar lingkungan sekolah, pada Senin (17/7).

Mereka protes karena anaknya tak diterima di sekolah tersebut. Imbasnya, aktivitas pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru sempat terganggu.

Ratusan warga tersebut sudah memadati lokasi sekolah sejak pukul 08.00. Mereka kecewa dan mempertanyakan kepada pihak sekolah kenapa anak-anak mereka tak diakomodir di sekolah tersebut.

"Kami warga dekat sekolah pak. Saya sendiri di Kaveling Kamboja, jaraknya cuman 200 meter dari sekolah ini. Kenapa anak saya tak masuk dan kenapa pula anak-anak yang jauh malah masuk," protes Suhaimi, salah seorang warga.

Aksi warga tersebut sempat memanas, karena pihak sekolah sempat tak memberikan tanggapan. Warga yang sudah tersulut emosi akhirnya bergerak masuk hingga ke halaman sekolah.

"Anak kami harus diterima di sekolah ini, kalau tak tutup saja biar tak ada sekolah di sini. Percuma saja ada sekolah kalau akhirnya anak kami tak bisa sekolah," teriak sejumlah warga.

Aksi orang tua calon siswa itu langsung ditanggapi pihak kepolisian Sagulung yang turun mengamankan situasi. Setelah melalui upaya mediasi, pihak sekolah bersama pihak Kelurahan Seipelenggut akhirnya mendata semua warga Seipelenggut yang anaknya hendak masuk ke SMPN 27 tersebut. "Kami data dulu, setelah itu baru diserahkan ke Disdik agar dipertimbangkan lagi," kata Kepala SMPN 47 Batam, Borbor Pasaribu, kemarin.

Borbor mengaku belum bisa langsung menanggapi permintaan orang tua murid.  Itu karena daya tampung SMPN 27 saat ini sudah penuh, bahkan lebih dari daya tampung ideal.

"Awalnya hanya enam lokal, tapi belakangan ditambah lagi dua lokal dengan siswa per kelas 40 orang. Total yang sudah diterima sebanyak 320 siswa, jadi mau gimana lagi kami buat. Terpaksa ini kami koordinasi lagi dengan dinas biar dapat solusi yang tepat," jelasnya.

Borbor juga belum bisa pastikan apakah seratusan calon siswa yang berada di sekitar lingkungan sekolah itu akan diakomodir atau tidak. "Itu tergantung keputusan Kadisdik nanti, gimana," tambahnya.

Meskipun belum mendapatkan kepastian, namun pendataan dan upaya pihak sekolah untuk menyampaikan persoalan itu ke Disdik Batam dihargai ratusan warga yang protes. Sebelum membubarkan diri, mereka berharap agar Disdik Batam bisa memberikan kepastian agar anak mereka bisa diterima di sekolah tersebut.

"Kalau tak diterima di sekolah ini, anak kami jelas tak bisa lanjut sekolah pak. Kami tak mampu ke sekolah swasta. Tahulah pak gimana situasi ekonomi saat ini," ujar Hendra, warga lainnya.

Situasi yang sama juga terjadi di SMPN 21 Batuaji dan SMPN 47 Batam di Marina. Ratusan warga yang tak lain adalah warga di sekitar lingkungan sekolah juga menggelar aksi protes serupa.

Mereka tak terima jika anak mereka tidak bisa sekolah di sekolah yang ada di dekat lingkungan tempat tinggal mereka. Aksi protes para orangtua itu cukup beralasan. Sebab sesuai dengan kebijakan baru dari Kemendikbud seharusnya sekolah lebih mengutamakan siswa di sekitar lingkungan sekolah.

Namun itu tidak terjadi di Batam khususnya di SMPN-SMPN yang ada di wilayah Batuaji dan Sagulung. Pada PPDB jalur online justru banyak mengakomodir anak-anak dari luar lingkungan sekolah. Imbasnya anak-anak di sekitar lingkungan sekolah tak kebagian meja belajar di sekolah tersebut.

(iil/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP