Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
Travelling

Perjalanan Eksotis Telusuri Pulau Mengare (2)

Sensasi Menuju Benteng Lodewijk

Oleh: Umar Wirahadi dan Guslan Gumilang

| editor : 

HAMPIR PUNAH: Kondisi Benteng Lodewijk rimbun oleh pepohonan. Beberapa susunan bangunan mulai hilang. Salah satu penyebabnya abrasi pantai.

HAMPIR PUNAH: Kondisi Benteng Lodewijk rimbun oleh pepohonan. Beberapa susunan bangunan mulai hilang. Salah satu penyebabnya abrasi pantai. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Sampai di Mengare, rasanya tidak sabarsegera mengeksplorasi potensi pulau mungil itu. Destinasi pertama yang kami datangi adalah Benteng Lodewijk. Yakni, benteng pertahanan tentara Belanda yang berdiri sejak 1808.

PERJALANAN menuju areal Benteng Lodewijk bisa ditempuh dengan dua cara, jalur darat dan laut. Perjalanan jalur darat melewati jalan kampung Dusun Sisir Barat, Desa Tanjungwidoro. Sekitar 150 meter dari jalan utama desa, pengunjung harus melintasi jalan tambak yang sudah dibeton sepanjang 500 meter. Jalan tersebut hanya bisa dilintasi sepeda motor karena lebarnya 1,5 meter.

Di ujung jalan, pengunjung menyeberangi Sungai Cemara dengan perahu tambang. Lebar sungai 18 meter. Tarif per orang plus sepeda motor hanya Rp 2 ribu. Sukses menyeberangi sungai, pengunjung akan melintasi jalan tambak. Sisi kiri-kanan berupa tambak dan dipenuhi tanaman mangrove. Jalannya berliku-liku sepanjang 1,5 kilometer. ’’Meski agak panjang, kami sudah pasang tulisan petunjuk ke arah benteng agar pengunjung tidak tersesat,” kata Gatot Winarko, pemandu wisata areal Benteng Lodewijk.

Selain hijaunya alam, pengunjung tidak akan bosan karena suara burung dan aneka satwa bersiul-siul mengiringi perjalanan. Burung-burung terbang rendah di pematang tambak. Selain itu, ada gerombolan kera yang kerap bergelantungan di pohon mangrove.

Sepeda motor harus berhenti di ujung pematang tambak yang berbatasan langsung dengan garis pantai. Kendaraan diparkir dengan tarif Rp 3 ribu. Dari titik parkir, pengunjung berjalan kaki sekitar 150 meter menuju lokasi benteng. ’’Bisa masuk melalui pintu barat atau barat daya,” ucap Gatot.

TANTANGAN:   Perjalanan menuju tempat ini harus menyusuri hutan mangrove.

TANTANGAN: Perjalanan menuju tempat ini harus menyusuri hutan mangrove. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Untuk jalur laut, pengunjung bisa menyewa perahu nelayan. Tarifnya, Rp 150 ribu untuk pulang-pergi. Pemberangkatan dilakukan dari Dermaga Tanjungwidoro ke arah benteng dan sebaliknya.

Perahu akan menyusuri Sungai Cemara. Udaranya sejuk. Pengunjung akan dimanjakan oleh hutan mangrove yang tumbuh lebat di sepanjang sungai. Beberapa batang, akar, dan dahannya menjuntai ke tengah sungai. Burung-burung terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Suaranya mengiringi deru mesin perahu. Pertunjukkan alam tersebut benar-benar tampak harmoni.

Keluar dari mulut sungai, kapal langsung bertemu dengan hamparan laut lepas. Dari mulut sungai, terlihat gugusan Pulau Madura. Pada musim angin timur seperti saat ini, guncangan ombak tidak terlalu besar. Ombak tidak bersahabat pada Desember, Januari, dan Februari.

Selain menggunakan perahu nelayan, ada alternatif lain untuk menikmati pemandangan Benteng Lodewijk. Yaitu, paket wisata dengan tarif Rp 25 ribu per orang. Biaya tersebut sudah termasuk ongkos perahu plus pemandu wisata. ’’Semua pengunjung bilang sangat murah. Nggak apa-apa. Sebab, tujuan awalnya, kami ingin potensi wisata alam Mengare dikenal lebih dahulu,” ujar Gatot.

Nah, dengan mencoba jalur darat atau laut menuju areal benteng, sama sekali tidak ada ruginya. Semua sama-sama asyik.

*****

Begitu pengunjung menginjakkan kaki di areal Benteng Lodewijk, perasaan menjadi campur aduk. Ada rasa takjub, penasaran, sekaligus heran.

Benarkah ini sebuah benteng? Bagaimana bentuk awal benteng ini? Bagaimana cara membuatnya? Berbagai pertanyaan langsung menyeruak di benak kami.

Sebab, jangan dibayangkan Benteng Lodewijk masih berupa bangunan yang tinggi dan kukuh. Benteng tersebut hancur sejak tentara Belanda tidak memfungsikan Benteng Lodewijk pada 1857. Tahun itu tentara Belanda pindah tempat dan mendirikan benteng serupa di Surabaya.

Yang terlihat di dalam benteng itu, rerimbunan pohon dan semak belukar. Memang masih ada beberapa jejak yang berupa bekas bangunan di dalamnya. Antara lain, dua sumur, gundukan tembok pintu masuk benteng di sisi selatan, serta tembok fondasi yang melingkari bangunan benteng. ’’Ini benar-benar pengalaman berpetualangan yang sangat menyenangkan. Sangat langka,” ucap Abdul Manaf, salah seorang pengunjung. (*/c20/dio)

Sponsored Content

loading...
 TOP