Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Music & Movie

The Sam Willows, Band Singapura yang Kini Jadi Perbincangan

| editor : 

The Sam Willows di kantor Sony Music Indonesia, Wisma GKBI, Jakarta, Senin (17/7).

The Sam Willows di kantor Sony Music Indonesia, Wisma GKBI, Jakarta, Senin (17/7). (Dedi Yondra/JawaPos.com)

JawaPos.com - Band asal Singapura, The Sam Willows terus menyebarluaskan karya ke seluruh penjuru dunia. Lagu terbaru yang dipromosikan adalah single berjudul Keep Me Jealous. 

Grup yang diisi kakak beradik Benjamin Kheng (vokal/gitar) dan Narelle Kheng (vokal/bass) serta dua kawannya Sandra Riley Tang (vokal/keyboard/perkusi) dan Jonathan Chua (vokal/gitar) itu cukup tampil beda pada single ini. The Sam Willows mencoba menghadirkan nuansa pop dance pada sepanjang Keep Me Jealous. 

Dalam produksi, mereka dibantu produser Litens Anton Nilsson dan Fedrik Haggstam. Nama terakhir merupakan produser yang telah berkerja sama dengan musisi papan atas seperti Kygo, Girls Generation, dan The Chainsmokers.

"Kami sedikit mengubah musik di sini. Sementara lagunya bercerita soal sikap jealous dalam sebuah hubungan," kata Benjamin Kheng saat ditemui di kantor Sony Music Indonesia, Wisma GKBI, Jakarta, Senin (17/7).

Lagu Keep Me Jealous menjadi terobosan segar buat band ini. The Sam Willows ingin keluar dari zona nyaman di mana selama ini mereka identik dengan musik pop dengan sentuhan folk. Tapi di lagu tersebut empat anak muda asal Singapura itu ingin lebih banyak menunjukkan eksplorasi dalam bermusik. Sebab lagu Keep Me Jealous akan menjadi gambaran betapa berwarnanya album baru The Sam Willows ke depannya.

"Lagu ini akan masuk dalam album baru kami, yang rencananya dirilis Oktober mendatang," jelas Benjamin Kheng. 

Setelah diperkenalkan sejak Mei 2017 lalu, lagu Keep Me Jealous sukses menjadi viral di media sosial. Tidak hanya di Singapura tapi juga di luar negeri. Seperti di Amerika Serikat, Swedia, Norwegia, termasuk Indonesia. Lagu tersebut sempat bertahan lama dalam jajaran playlist teratas di Spotify dan Amerika Serikat.

Khusus bagi Indonesia, The Sam Willows memang ingin terus menyebarkan karya-karya di sini. Sebab menurut Benjamin Kheng, Narelle Kheng, Sandra Riley Tang dan Jonathan Chua, mereka mendapat antusias sangat baik di sini. Musik yang diusungnya dinilai bisa diterima di tanah air maupun kawasan Asia lainnya.

"Kami ingin menyebar musik ke Indonesia, Malaysia, hingga Filipina. Kami juga mendapat respons besar di sini. Orang di sini terbuka dengan karya dari luar," ungkap Benjamin Kheng. 

"Kami suka Indonesia, makananya, hingga orangnya. Musik di sini juga bagus," sambung Jonathan Chua.

The Sam Willows memulai karier di dunia musik internasional sejak 2012 lalu. Dalam tahun itu juga, Benjamin Kheng cs mendapat penghargaan Gibson Artist of the Month. Selanjutnya mereka juga masuk nominasi MTV EMAs 2014 dan 2015.

Selain di Asia, The Sam Willows juga telah melebarkan sayap ke panggung dunia. Pemilik album Take Heart itu juga pernah beraksi di SXSW Music Festival 2013 di Austin, Canadian Music Week di Toronto, dan lainnya. 

Sepak terjang The Sam Willows adalah contoh generasi milenial yang merasakan legitnya dunia digital. Lewat konten dan karya yang disebar di YouTube, mereka menjelma menjadi salah satu band asal Asia yang kini diperbincangkan. (ded/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP