Kamis, 21 Sep 2017
JawaPos.com Icon
Internasional

Sesama Mantan Bergandeng Tangan demi Gulingkan Pemerintahan

| editor : 

Anwar Ibrahim

Anwar Ibrahim (FREEANWARNOW.COM)

JawaPos.com - Koalisi penguasa Malaysia, Barisan Nasional, sebenarnya berada dalam posisi sangat rapuh menjelang pemilu tahun depan. Persoalannya, di kubu oposisi, keluarga Anwar Ibrahim belum sepenuhnya percaya Mahathir Mohamad.

Relasi Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim adalah contoh betapa memang tak ada kawan dan lawan abadi di politik. Yang abadi di politik hanyalah kepentingan.

Dari dulu orang nomor satu dan dua di pemerintahan Malaysia. Kemudian menjadi rival paling sengit, dan kini bergandengan tangan lagi dalam koalisi Pakatan Harapan (PH). Semuanya demi kepentingan menggulingkan rezim Perdana Menteri (PM) Najib Razak.

Bagi pakar Asia Tenggara asal Amerika Serikat Bridget Welsh, bersatunya kembali Mahathir dan Anwar itu menandakan kegentingan politik di Malaysia. ”Dua orang penting tersebut sampai sanggup mengesampingkan pertikaian pribadi mereka demi mengatasi tantangan politik yang sedang dihadapi Malaysia saat ini,” ujar Welsh.

Di PH, Mahathir menduduki jabatan chairman. Menjadi kepanjangan tangan Anwar sebagai pemimpin de facto yang sampai saat ini masih berada di balik jeruji besi. Sedangkan Wan Azizah Wan Ismail, istri Anwar, ditempatkan sebagai presiden.

PH juga menampung beberapa politikus lain yang menghendaki Najib lengser lewat pemilu. Di antaranya, Muhyiddin Yassin dan Mukhriz Mahathir.

”Barisan sakit hati” itu bersatu karena megakorupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB) ternyata tidak mampu melengserkan Najib. Padahal, dia dan keluarga serta kroni diyakini terlibat.

Seperti Anwar, Muhyiddin dahulu juga orang kedua di pemerintahan Malaysia. Namun, politikus 70 tahun itu kehilangan jabatan setelah berkomentar soal 1MDB. Pada 2015, dia meminta Najib jujur kepada publik dan mengakui kesalahannya terkait dana 1MDB.

Kemarahan Najib memuncak setelah dalam sebuah pertemuan rahasia dengan beberapa politikus, termasuk Mukhriz, Muhyiddin mengatakan bahwa sang PM memang terlibat dalam skandal 1MDB.

Begitu kabar tersebut tersiar, Najib pun langsung memecatnya dari jabatan wakil PM. Beberapa bulan kemudian, UMNO, partai dominan dalam Barisan Nasional (BN), koalisi penguasa Malaysia sejak 1957, juga mencopot jabatannya sebagai wakil ketua.

Begitu pula dengan Mukhriz. Putra Mahathir itu sampai Februari 2016 menjabat chief minister Kedah. Dia terpaksa lengser setelah kehilangan dukungan dalam voting mosi tidak percaya oleh parlemen. Sebelumnya, dia juga beberapa kali kena tegur karena terlalu vokal mengkritik pemerintahan Najib.

”Mereka sudah berhasil melewati tantangan terberat untuk bersatu. Kini koalisi oposisi harus bisa terus bersinergi agar tujuan mereka tercapai,” terang Khaw Veon Szu, pengamat politik Malaysia.

Tapi, benarkah mereka sudah benar-benar bersatu? Luar dalam? Sebab, seperti dilansir The Star, ada bom waktu berupa kepercayaan. Keluarga besar Anwar masih belum sepenuhnya percaya kepada Mahathir yang dahulu merupakan sosok pertama yang menjebloskan Anwar ke penjara dengan tudingan sodomi dan homoseksual.

Meski Mahathir dan Anwar saling berjabat tangan dan melempar senyum dalam pertemuan perdana mereka pascakasus sodomi tersebut, keluarga Anwar tidak serta-merta berbaikan dengan Mahathir. ”Pembahasan kepemimpinan PH berlangsung alot. Mahathir sempat hendak menarik dukungan partainya, Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), jika tidak dijadikan chairman,” kata sumber The Star.

Saat ini PH didukung empat partai: PPBM, Parti Keadilan Rakyat (PKR), Parti Tindakan Demokratik alias DAP, dan Amanah. Amanah merupakan pecahan dari PAS (Partai Islam Se-Malaysia). Sedangkan PPBM adalah sempalan dari UMNO.

PKR, DAP, dan PAS dulu bersatu dalam Pakatan Rakyat. Koalisi oposisi yang dipimpin Anwar itulah yang membuat raihan suara Barisan Nasional, koalisi penguasa di bawah komando UMNO, terus merosot. Itu terjadi dalam dua pemilu terakhir.

Penurunan suara di dua pemilu terakhir tersebut, ditambah guncangan skandal 1MDB, sebenarnya membuat posisi BN sangat rentan dalam pemilu tahun depan. Mungkin yang terentan sejak Malaysia merdeka pada 1957.

Apalagi, yang dihadapi adalah oposisi di bawah komando dua pemimpin karismatik, Mahathir dan Anwar. Hanya, persoalannya itu tadi, bisakah para pentolan PH meredam ego dan ketidakpercayaan satu sama lain untuk merealisasikan tujuan melengserkan Najib?

PH harus benar-benar solid jika ingin mengalahkan BN yang sudah demikian mengakar. Saking lamanya berkuasa, sudah ada semacam anggapan di kalangan akar rumput Malaysia bahwa BN adalah negara.

Pertanyaan penting lainnya, mampukah PH merebut suara anak-anak muda yang merupakan pemilik 40 persen vote di pemilu tahun depan? Sebab, jajaran pemimpin sudah demikian senior. Harapan terbesar bagi PH untuk merebut simpati anak-anak muda hanya kepada Nurul Izzah, putri Anwar yang memang aktif berpolitik di lapangan maupun dunia maya.

Persoalannya, belum apa-apa, Tan Sri Abdul Aziz Rahman, presiden Dewan Mantan Legislator Malaysia, di hadapan diskusi yang diadakan parlemen mahasiwa belum lama berselang, sudah mengingatkan anak-anak muda agar tidak terkecoh langkah PH.

”Mereka (PH) akan melakukan apa saja demi kekuasaan. Anak-anak muda harus hati-hati dengan informasi yang ada di media sosial,” katanya. (thestar/freemalaysiatoday/malaymailonline/malaysiakini/hep/c10/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP