Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Travelling

Yadnya Kasada, Ritual Suci Umat Hindu Tengger

| editor : 

Pertunjukkan kisah Roro Anteng dan Joko Seger saat melihat Putra bungsunya Jaya Kusuma dikorbankan untuk meredam dahsyatnya letusan gunung Bromo. Awalnya Roro Anteng dan Joko Seger bernazar jika dikaruniai 25 Anak maka si Bungsu akan mereka korbankan.

Pertunjukkan kisah Roro Anteng dan Joko Seger saat melihat Putra bungsunya Jaya Kusuma dikorbankan untuk meredam dahsyatnya letusan gunung Bromo. Awalnya Roro Anteng dan Joko Seger bernazar jika dikaruniai 25 Anak maka si Bungsu akan mereka korbankan. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

JawaPos.com- Purnama di bulan Kasada adalah malam penuh makna bagi umat Hindu Tengger. Itu saat mereka membalas pengorbanan suci (yadnya) Puja Kusuma. Melanjutkan ritual syukur yang diturunkan oleh moyang mereka.

Hari itu jatuh pada 10 Juli. Hari Yadnya Kasada. Bertepatan dengan bulan kesepuluh kalender Tengger.

Menurut legenda, pada malam yang sama beratus-ratus tahun silam, Roro Anteng dan Joko Seger memenuhi nazarnya pada dewa. Jika dikaruniai 25 orang anak, si bungsu akan mereka korbankan untuk dewa.

Namun, tidak mudah buat orang tua untuk menyerahkan anaknya begitu saja. Apalagi, Puja Kusuma atau Kesuma, dalam dialek Jawa Tengger, merupakan putra kesayangan. Sang dewa muntab.

Tak ingin rakyat menjadi korban, Kesuma mengorbankan diri. Dia menceburkan diri ke kawah Gunung Bromo. Satu permintaan diwariskannya pada anak-cucu: anak cucunya harus mengirimkan sesaji setiap hari ke-14 bulan Kasada.

Tapi, tanggal itu tak baku. Tahun ini, Yadnya Kasada jatuh pada hari (tanggal) ke-16. ’’Selama masih tengah bulan, masih purnama, upacara Kasada berlangsung,’’ kata Suyitno, dukun pandita Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Karena itu, dini hari di 10 Juli terasa beda. Hening. Tidak ada suara penduduk yang menawarkan homestay. Sejak pagi, banyak warung yang tutup.

Sunyinya malam baru pecah pada 01.45. Rombongan gamelan, diiringi alat musik tiup slompret,berara menuju rumah Mojo, pinisepuh (tetua) Desa Jetak. Dua di antara rombongan itu lantas mengusung ongkek dan tetuwuhan dari ruang tamu Mojo.

Jika ada salah satu penduduk desa yang meninggal setidaknya 44 hari sebelum hari Yadnya Kasada, ongkek pantang dibuat. Sebab, arwah mendiang yang belum mencapai alam baka bakal menjadi halangan diterimanya doa dan hajat penduduk. ’’Desanya nggak boleh nglabuh ongkek. Keluarga almarhum juga enggak. Tapi, penduduk lainnya boleh nglabuh sesaji sendiri-sendiri,’’ papar Suyitno.

Di balai desa, ongkek dibariskan. Di depan ongkek, ada anglo (tungku tanah) berikut makanan berikut hasil bumi yang diletakkan di atas tampah. Suyitno duduk bersila di hadapan sesaji tersebut, didampingi Kermat, kepala Desa Jetak. Mulutnya mengucap mantra. Menghaturkan doa buat leluhur pendahulu dan anak cucu para lurah, pinisepuh, serta penduduk desa dalam bahasa Jawa kuno.

Sekali waktu, Suyitno berhenti. Selendang kuning dengan kerincingan dia angkat. Air suci dicipratkannya ke sesaji yang ada di hadapannya. Penutupnya, dia menyatukan tangan di depan wajah lalu diangkat setinggi kepala. Ritual itu selesai sesuai perkiraannya. Pas pukul 02.00.

’’Sudah. Digawa dulu,’’ ucapnya. Ongkek diusung, sementara sesaji dikumpulkan dalam satu buntalan kain. Seluruhnya dimuat di bagian belakang pikap, bersama dengan alat musik dan umat. Para perempuan dan umat dari Desa Jetak lainnya diangkut dengan hardtop.

Ritual itu terbilang singkat. Tidak sampai 10 menit. Namun, harus dilaksanakan. ’’Kami pamit pada leluhur di sini, mengabarkan kalau kami menunaikan Yadnya Kasada,’’ ucap Suyitno. Setelah diupacarakan di balai desa, perjalanan dilanjutkan ke Dusun Cemoro Lawang. Salah satu ongkek dilabuh di punden (sanggar pemujaan) di sana.

’’Buat desa brang wetan (di timur Bromo, Red), panji atau pintu masuk ke Laut Pasir Bromo ada di Cemoro Lawang. Kami kulo nuwun, minta izin masuk di sini dengan nglabuh ongkek,’’ imbuhnya.

Perjalanan dilanjutkan ke Pura Luhur Poten di Laut Pasir Bromo. Rombongan Desa Jetak disambut dengan kabut bercampur debu.

Di bagian Mandala Utama atau ’’aula’’ utama tempat sembahyang di Pura Luhur Poten, puluhan dukun pandita berpakaian putih dengan selendang kuning telah bersila. Ongkek, sesaji, serta anglo kembali digelar. Di belakangnya, umat dengan pakaian serba hitam berbalut sarung –plus udeng untukpria– ikut bersila menyimak tuturan para dukun pandita.

Ritual inilah yang jadi ’’jantung’’ Yadnya Kasada. Acara dibuka oleh Sutomo, dukun pandita Desa Ngadisari sekaligus ketua Paruman Dukun Pandita Tengger. Dia membacakan sejarah upacara Yadnya Kasada dan Puja Stuti dari lembaran lontar, dalam bahasa Jawa kuno. Terselip pula doa untuk penduduk Tengger supaya selalu pinaringan padhang pengiringan lestari, rahayu slamet seger waras (diberikan cahaya yang kekal dalam hidup, tenteram, selamat, dan sehat bugar).

Setelah upacara mekakat atau penutupan, tabuhan gamelan dan slompret kembali terdengar. Rombongan pemusik itu mengawal ongkek serta umat yang akan nglabuh. Saat itulah, terasa semangat umat melaksanakan ibadahnya. Para pengusung ongkek maupun mereka yang membopong sesaji hasil bumi dan ternak berjalan cepat. Tanpa henti. Bahkan, tidak sedikit yang lantas nekat mengambil jalur trabasan di samping tangga di kaki Bromo.

’’Bisa ibadah dan ngirimi leluhur itu syukurnya luar biasa, Mbak. Apa pun isi sesajinya, nggak ada yang asal-asalan. Semuanya dipilih yang bagus, ditata rapi,’’ papar Suyitno. Umat Hindu Tengger dari beragam penjuru terlihat antusias. Dengan berpakaian serba hitam dan sarung melilit di tubuh, mereka berhenti di tiap arca.

Masing-masing memberikan sesaji. Ada yang berupa takir (nampan kecil dari daun) berisi makanan, bunga, maupun rajangan pandan dan mawar merah-putih dengan uang koin. Meski suasana ramai, mereka menyempatkan menyalakan dupa, lalu sembahyang. ’’Kalau miturut wong ngisor (orang di bawah kaki Bromo yang bukan keturunan Tengger, Red), seperti nyekar,’’ ucap Suyitno.

Lalu lalang umat tidak terhenti meski matahari sudah menyapa di ufuk timur. Hingga jelang tengah hari, banyak penduduk yang datang membawa sekresek hasil bumi. Mulai bawang daun, kentang, tomat, hingga ayam.

Kasada mengajarkan umat untuk selalu bersyukur atas jalan dan berkah yang diberikan Sang Hyang Widhi Wasa. ’’Tanpa bersyukur, apa pun yang diberi oleh-Nya nggak akan terasa, malah rekasa (sengsara). Sesedikit apa pun, berikan apa yang didapat. Sang Hyang Widhi akan membalas, bahkan lebih besar dari yang kita beri,’’ tutup Suyitno. (fam/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP