Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
Hukum & Kriminal

Waspada, Sel ISIS Banyak di Daerah Penyangga

| editor : 

Tim Gegana Jihandak menjinakkan benda diduga bom di depan Mabes Polri, Jumat (30/6).

Tim Gegana Jihandak menjinakkan benda diduga bom di depan Mabes Polri, Jumat (30/6). (Dery Ridwansyah/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pengamat teroris Universitas Indonesia (UI) Al Chaidar mengatakan sel-sel teroris kelompok radikal ISIS di Jabodetabek merupakan jumlah terbesar di Indonesia. Daerah perbatasan atau penyangga Ibu Kota merupakan jumlah paling banyak dari kota lainnya di indonesia.

"Seperti di daerah perbatasan Jakarta, yakni Depok, Tangerang dan Bekasi merupakan daerah yang paling banyak sel anggota ISIS-nya," terang dia kepada Jawa Pos.

Menurut dia, serangan yang menimpa anggota Polri merupakan pernyataan sikap dari ISIS, kelompok mereka siap melancarkan serangan mematikan secara bertubi-tubi.

"Daerah perbatasan adalah lokasi-lokasi dimana banyak jamaah mereka yang sudah menyatakan siap untuk melakukan serangan habis-habisan. Serangan mematikan,” ujarnya.

Terkait hal ini, lanjut Al Chaidar, ISIS telah menyiapkan lebih dari 1.500 pasukannya untuk bunuh diri dengan tentunya memiliki tujuan teror kepada masyarakat.  "Mereka mengambil strategi bunuh diri,"ungkap dia.

Aparat kepolisian mensterilkan jalan Margonda Raya untuk mengamankan tas yang diduga bom di depan ITC Depok.

Aparat kepolisian mensterilkan jalan Margonda Raya untuk mengamankan tas yang diduga bom di depan ITC Depok. (Febry Febrian/Jawa Pos)

Menurut dia, serangan penusukan yang terjadi di dekat masjid Falatehan, Kebayoran Baru Jakarta Selatan tersebut bukan serangan pamungkas.

Al Chaidar berpendapat jika rentetan serangan yang terjadi merupakan serangan masif yang tengah dilancarkan ISIS. "Saya rasa bukan serangan terakhir, masih akan ada serang lagi nantinya. Makanya harus terus waspada," ucap dia.

Dia mengatakan, ISIS masih akan melakukan serangan dengan pola yang sama, yaitu dengan menggunakan senjata tajam. "Pola dengan melakukan serangan sendiri ini disebut lone wolve dan masih akan dilakukan,"sebutnya.

Pola ini sambung dia, diambil karena ISIS semakin terdesak dan mereka saat ini kekurangan persenjataan dan uang untuk melancarkan aksi. "Apalagi nantinya sudah ada fatwa untuk melakukan penyerangan dengan cara apapun. Ini juga yang harus diantisipasi," jelas dia.

Al Chaidar mengatakan, Polisi merupakan target utama diikuti dengan tentara dan pusat perbelanjaan yang menjadi lambang kapitalisme. Target polisi dan tentara karena mereka dianggap Thogut atau setan.

"Jika nanti tujuan utamanya rakyat sipil, pola yang dilakukan juga akan berubah, yakni biasanya dengan menabrakan kendaraan ke krumunan warga sipil. ISIS akan melancarkan serangan dengan cara apapun," ujar dia.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombespol Argo Yuwono saat dihubungi Jawa Pos enggan membahas masalah ini terlalu jauh.

Dia meminta semua elemen masyarakat ikut membantu pihak Kepolisian untuk memberikan informasi tentang terorisme di wilayah masing-masing. "Semua elemen masyarakat diharapkan ikut membantu memberikan informasi berkaitan dengan ISIS,"terang dia singkat. (bry/JPK)

Sponsored Content

loading...
 TOP