Sabtu, 16 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Hijrah Ramadan

Ekspedisi Cheng Ho

170 Anak Buah Cheng Ho Terbunuh di Majapahit

| editor : 

Patung api yang menjadi penunjuk jalan bagi naga terpajang di atap Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang. Kelenteng ini memiliki koleksi dewa terlengkap

Patung api yang menjadi penunjuk jalan bagi naga terpajang di atap Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang. Kelenteng ini memiliki koleksi dewa terlengkap (Boy Slamet/Jawa Pos)

Jawa menjadi salah satu tujuan utama ekspedisi Cheng Ho. Enam di antara tujuh pelayarannya menyinggahi pulau tersebut. Itu tak mengherankan. Sebab, di Jawa Dwipa berdiri kerajaan besar dengan kekuasaan yang meliputi seluruh Nusantara dan memiliki pengaruh hingga Thailand. 

Itulah Majapahit. 

---

BAGI Cheng Ho, bumi Jawa seolah menjadi tempat istimewa. Bagaimana tidak, di sepanjang pantai utara Jawa saja, ada de­lapan tempat yang dia singgahi. Mulai Sunda Kelapa (Ancol), Cirebon, Semarang, Demak, Lasem (kini masuk Rembang), Tuban, Gresik, hingga Surabaya. Dari Pelabuhan Ujung Galuh (Surabaya), Cheng Ho berlayar menyusuri Kali Brantas menuju Trowulan (Mojokerto), ibu kota Majapahit. 

Cheng Ho menginjakkan kaki di ibu kota Wilwatikta itu pada 1406. Itu berarti setahun setelah angkat jangkar dari Suzhou, Tiongkok. Setelah singgah di Champa, Ayutthaya, Malaka, Ancol, Cirebon, Semarang, dan beberapa pelabuhan di Jateng serta Jatim. 

Di Jawa, Cheng Ho sering berinteraksi dengan masyarakat maupun penguasa. Karena itu, dia dan pasukannya meninggal­kan banyak jejak, kemudian dianggap sebagai legenda. Namun, yang paling menonjol adalah sifat cinta damainya. Cheng Ho lebih mengutamakan perundingan daripada pertempuran. 

Itu terlihat ketika dia sempat terlibat perang saudara di masa akhir kejayaan Majapahit. "Waktu itu Majapahit memang akan runtuh," kata Tan Ta Sen, presiden Komunitas Cheng Ho Internasional. Perang saudara yang dimaksud adalah perang antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabumi (Blambangan, sekarang Banyuwangi). Literatur sejarah Tiongkok menyebutkan perang antara Raja Barat dan Raja Timur di Zhua Wa (Jawa). 

Ketika itu Cheng Ho mengirimkan 170 anak buahnya ke kawasan dekat Semarang. Raja Wikramawardhana mengira pasukan itu sebagai bala bantuan untuk Bhre Wirabumi. Pasukannya langsung menghabisi 170 tentara Tiongkok tersebut. 

Untung, meski sangat gusar, Cheng Ho tidak menurutkan nafsu. Alih-alih langsung menyerbu dengan 27 ribu tentaranya, Cheng Ho malah datang dengan sejumlah kecil pengiring. Karena menyadari kesalahannya, Wikramawardhana langsung minta maaf. 

Untuk itu, Wikramawardhana berjanji membayar ganti rugi 60 ribu tael emas. Cheng Ho setuju. "Lalu, Cheng Ho datang lagi pada pelayaran kedua," kata Tan Ta Sen. Namun, Wikramawardhana tak membayar penuh. Hanya 10 ribu tael emas. 

Hebatnya, Cheng Ho tak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, Wikramawardhana sudah mengaku bersalah dan itu semua terjadi karena kesalahpahaman belaka. "Sejak itu, hubungan antara Jawa dan Tiongkok selalu baik," terangnya. 

Tan Ta Sen juga mengutip dua catatan sejarah Tiongkok karya Ma Huan dan Fei Xin (dua sekretaris yang selalu menyertai perjalanan Cheng Ho) tentang Jawa. "Ada yang spesifik menyebut budaya dan sejumlah daerah di Jawa," terangnya. Dia mengutip Ma Huan dalam catatannya, Ying Ya Sheng Lan. Menurut Ma Hua, pria Jawa pada masa lalu berambut panjang terurai dan perempuan bersanggul. 

Ke mana-mana, pria Jawa selalu membawa keris. Senjata itu terbuat dari besi terbaik dengan pegangan dari emas, cula badak, atau gading yang terukir halus. Selain itu, salah satu pantangan paling keras bagi orang Jawa adalah kepala. Tak boleh sembarangan memegang kepala orang karena bisa berujung tikam-menikam dengan keris. 

Sejumlah daerah di Jawa Timur sempat masuk catatan dua penulis muslim yang dibawa Cheng Ho tersebut. Yang pertama adalah Tuban. Menurut Ma Huan, uang kepeng dari Tiongkok yang terbuat dari kuningan ternyata diterima di Tuban. Di kawasan itu, banyak perantau Tionghoa yang berasal dari Guangdong dan Zhangzhou, Fujian. Oleh para perantau, Tuban disebut Xin Cun, yang berarti kampung baru. 

Dari Tuban, para perantau berlayar setengah hari menuju timur dan akan sampai di daerah yang disebut Gresik. Yang menarik, saat itu lurah Gresik adalah perantau Tiongkok dari Guangdong. 

Setelah itu Surabaya. Dengan menumpang kapal kecil sejauh 40 km, mereka sampai di Trowulan, ibu kota Majapahit. Di­sebutkan, istana raja Jawa itu dikelilingi tembok setinggi 10 meter yang melingkar lebih dari 1 km. (*/c11/nw) 

Pengunjung berpose dengan pakaian perempuan Tiongkok di Kelenteng Sam Poo Kong.

Pengunjung berpose dengan pakaian perempuan Tiongkok di Kelenteng Sam Poo Kong. (Boy Slamet/Jawa Pos)

Sponsored Content

loading...
 TOP