Jumat, 15 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Health Issues

Perlunya Persiapan dan Pengetahuan Kesehatan saat Mudik

| editor : 

VISITE: dr Muhammad Valeri Al Hakim SpM, saat memeriksa kesehatan mata Arif Santoso di RS Mata Undaan, Surabaya.

VISITE: dr Muhammad Valeri Al Hakim SpM, saat memeriksa kesehatan mata Arif Santoso di RS Mata Undaan, Surabaya. (Galih Cokro/Jawa Pos/JawaPos.com)

Setiap Idul Fitri, selalu ada tradisi mudik. Pulang kampung. Sebagian memilih menempuh perjalanan dengan kendaraan pribadi. Ada baiknya sebelum berangkat, persiapkan semua dengan baik. Termasuk memiliki kemampuan dan pengetahuan basic life support (BLS).

MUDIK dengan kendaraan pribadi, bagi sebagian orang, dirasa lebih baik. Supaya ketika di kampung, tidak perlu repot ketika akan bepergian. Namun, perjalanan mudik dengan kendaraan pribadi memiliki risiko.

Karena itu, fisik sopir harus prima. Terlebih soal penglihatan. Tak jarang harus menyetir saat dini hari atau malam. Jika penglihatan terganggu karena refraksi atau katarak, perjalanan akan terpengaruh.

Tempat datar yang bisa digunakan untuk pijat jantung

Tempat datar yang bisa digunakan untuk pijat jantung (Galih Cokro/Jawa Pos/JawaPos.com)

Sayangnya, beberapa orang tidak menyadari bahwa matanya memiliki gangguan.

”Beberapa kasus kecelakaan lalu lintas disebabkan pengemudi tidak bisa melihat dengan sempurna. Kadang 6 meter saja sudah tidak jelas penglihatannya,” ucap spesialis mata RS Mata Undaan dr Muhammad Valeri Al-Hakim SpM.

Sayangnya, pemeriksaan mata jarang dilakukan oleh pemudik. Valeri menyarankan sebelum mudik, sebaiknya sopir memeriksakan mata dahulu ke dokter. Terutama untuk mereka yang akan menjadi pengemudi. Entah pengemudi sepeda motor atau mobil. ”Mereka yang kalau malam silau, harus periksa,” ujar dokter alumnus Unair itu.

Penyebab mata silau saat malam memang banyak. Misalnya, karena usia tua, katarak, atau ada kelemahan di saraf mata. Mereka yang memiliki riwayat hipertensi dan diabetes memiliki peluang lebih banyak. Sebab, penyakit tersebut bisa melemahkan saraf mata. ”Katarak tidak selalu berpenampang putih,” tuturnya. Untuk itu, pemeriksaan ke dokter harus dilakukan. Sebab, dalam pemeriksaan, bisa dilihat kondisi seluruh bola mata.

Selain masalah gangguan penglihatan, yang harus diperhatikan lagi adalah keadaan mata selama perjalanan. Bagi pengemudi sepeda motor, mata yang terkena angin dan debu berisiko mengakibatkan mata kering. Begitu pula bagi pengemudi mobil yang menyalakan AC. ”Mata kering menyebabkan tidak nyaman. Akhirnya dikucek, malah bisa infeksi,” beber Valeri. Biasanya, infeksi tersebut ditandai dengan mata merah, lalu nyeri.

Untuk menanggulangi mata kering, Valeri menyarankan setiap pemudik untuk membawa air mata buatan. Dengan demikian, ketika sudah terasa kering, mata bisa ditetesi air mata buatan tersebut. Air mata buatan bisa didapatkan di apotek atau dokter mata. ”Yang penting, kalau mata sudah tidak perih, jangan ditetesi lagi,” sarannya.

Selain mata, hal lain yang seharusnya diperhatikan pemudik adalah kemampuan basic life support (BLS). Kejadian gawat darurat, henti jantung misalnya, bisa terjadi sewaktu-waktu. BLS bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

Dokter anestesi RSUD dr Soetomo Pesta Parulian Maurid Edwar SpAn menyebut, BLS dilakukan bagi mereka yang sudah henti napas dan tidak merespons. ”Langkah pertama jika menemukan orang yang henti napas, lehernya ditengadahkan,” katanya. Tujuannya membuat jalan napas lancar.

Setelah ditengadahkan lehernya, korban ditepuk-tepuk untuk melihat apakah dia merespons atau tidak. Jika tidak, Pesta menyarankan segera dipijat jantung. Caranya membaringkan tubuh korban di tempat yang datar. ”Kemudian, bagian dada ditekan-tekan dengan menggunakan dua telapak tangan,” ucap Pesta.

Yang terpenting, harus ada yang menelepon petugas medis. Harapannya, pertolongan segera datang. Untuk itu, ada baiknya mempelajari kondisi jalur yang akan dilewati. Di mana letak klinik atau rumah sakit terdekat, kantor polisi, maupun rest area. (lyn/c6/jan)

Sponsored Content

loading...
 TOP