Kamis, 19 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Derita Istiarah, Penyandang Tumor Ganas Menunggu Bantuan Pemerintah

| editor : 

DERITA TUMOR: Penyakit tumor pada bagian pelopak mata Istiarah terlihat  semakin besar, hingga menutupi seluruh penglihatannya, sehingga dikhawatirkan jika tidak segera dioperasi akan semakin membesar.

DERITA TUMOR: Penyakit tumor pada bagian pelopak mata Istiarah terlihat  semakin besar, hingga menutupi seluruh penglihatannya, sehingga dikhawatirkan jika tidak segera dioperasi akan semakin membesar. (JALALUDIN/RADAR LOMBOK/JPG)

JawaPos.com - Belasan tahun sudah Istiarah mengidap tumor ganas pada bagian mata, hingga menyebabkan matanya tertutup total. Meski demikian, dia sama sekali tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dia juga tidak memegang kartu Jemkesmas atau KIS,  padahal  keluarganya tak mampu membiayainya berobat.   

Awalnya tumor yang dideritanya hanya  tumbuh berupa benjolan kecil seperti jerawat pada bagian luar kelopak mata sebelah kiri Istiarah. Namun  semakin lama semakin membesar,  hingga menutup seluruh bagain mata kirinya. Meski telah beberapa kali ke dokter namun tidak kunjung sembuh.     

"Saat masih SD hanya tumbuh berupa benjolan kecil dan karena tidak merasakan apa-apa sehingga saya tidak menghiraukan,"tutur Istiarah (24),  gadis asal Desa Timba Gading, Kecamatan Sembalun Lombok Timur ini.    

Demikian pula dengan orang tuanya, menganggap itu hanya benjolan kecil dan tidak mengganggu ataupun berbahaya sehingga diabaikan. Terlebih sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit hingga tidak mengganggunya dalam beraktivitas atau main sehingga diabaikan.  

Baru disadari ketika Istiarah lulus SMP. Benjolan yang awalnya berupa jerawat perlahan terus tumbuh dan membesar hingga mengganggu penglihatannya.      

Istiarah mulai merasa minder dan bahkan enggan bergaul dengan teman-teman sebayanya. Begitu pun saat lulus SMP, dia tidak mau mengambil ijazahnya lantaran dianggap percuma lantaran tidak akan melanjutkan.         

"Saya tidak ambil ijazah karena percuma, buat apa saya ambil karena saya tidak melanjutkan," katanya sedih sebagaimana dilansir Radar Lombok (Jawa Pos Group), Sabtu (17/7).   

Sama dengan anak-anak seusianya, Istiarah-pun sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Namun penyakitnya yang kian parah dan terus merasakan sakit sehingga tak memungkinkannya untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.   

Ia hanya dapat meratapi nasibnya kala melihat rekan-rekannya berangkat atau pulang sekolah. Tak jarang ia menangis manakala melihat rekan-rekannya memakai seragam SMA. Saat kondisi ini ia hanya bisa pasrah dan berdo’ a semoga penyakitnya segera sembuh sehingga ia akan mengambil ijasahnya dan melanjutkan sekolahnya.   

Benjolan di matanya malah kian membesar dan semakin sakit. Istiarah beberapa kali memeriksakan diri  ke dokter di Selong, namun sama sekali tidak ada hasilnya, hingga ia pasrah menjalani hidupnya sehari-hari bersama penyakit yang diderita.

Meski mengalami sakit yang tergolong parah, namun ia tetap membantu orang    tuanya bekerja di sawah, demi dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga rasa sakit yang menusuk-nusuk terutama saat menunduk terpaksa ditahan demi baktinya pada kedua orang tuanya dan membantu pekerjaan di sawah. Namun manakala sakit tak tertahankan ia terpaksa istirahat dan pulang untuk istirahat.  

Sementara ayahnya, Amaq Asti mengaku sedih menyaksikan derita anak gadisnya tersebut. Sebagai orang tua tentu memiliki harapan yang tinggi pada anaknya sehingga bisa sekolah tinggi agar menjadi anak pintar dan memiliki masa depan yang cerah.    

"Saya berharap ada orang atau pihak yang mau membantu anak saya berobat sehingga bisa sembuh dari penyakitnya," kata Amaq Asti.

Amaq Asti khawatir tumor yang diderita anaknya tersebut akan semakin membesar. Dia  juga takut jika merembet ke bagian lain. Dia sangat berharap sekali ada pihak yang mau membantu anaknya untuk menjalani perawatan hingga penyakitnya sembuh.     

Selama ini anaknya tidak pernah mendapatkan fasilitas atau jaminan kesehatan dari pemerintah baik berupa kartu Jamkesmas ataupun KIS. Bahkan saat masih sekolahpun dikatakan anaknya sama sekali belum pernah tercatat sebagai penerima BSM.         

"Bagaimana bisa dibawa berobat sementara kami sama sekali tidak memiliki biaya, sementara jaminan kesehatan baik Jamkesmas ataupun KIS tidak punya, padahal orang-orang kaya justeru banyak yang dapat kartu," tuturnya  seraya  berharap anak gadisnya  dapat dibantu pihak-pihak terkait, sehingga sembuh dari deritanya.(Jalaludin/nas/JPG)    

Sponsored Content

loading...
 TOP