Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Armand van Kempen Bersiap Bertualang ke Labuan Bajo Menunggang Jetski

| editor : 

BERPETUALANG: Armand van Kempen (kiri) bersama kawan-kawannya berangkat ke Labuan Bajo.

BERPETUALANG: Armand van Kempen (kiri) bersama kawan-kawannya berangkat ke Labuan Bajo. (Drian Bintang Suryanto/Jawa Pos)

Sabtu (17/6) ini wartawan Jawa Pos DRIAN BINTANG SURYANTO mendapat kesempatan menyusuri perairan Surabaya hingga ke Labuan Bajo. Menemani Armand van Kempen, penggemar olahraga ekstrem. Karena itu, perjalanannya pun ekstrem: naik jetski.

ARMAND van Kempen punya satu ide gila yang belum tercapai. Yakni, mengendarai jetskinya dalam jarak jauh.

Lelaki yang menggemari olahraga ekstrem sejak umur 19 tahun itu memang suka gila-gilaan. Pada akhir tahun lalu dia mengendarai jetski dari Surabaya menuju Sendang Biru, Kabupaten Malang. Untuk itu, tentu dia harus menyusuri pantai timur Surabaya, melewati pantai utara Pasuruan–Probolinggo–Situbondo, memutar Banyuwangi dan Lumajang, hingga akhirnya sampai di Malang.

Namun, perjalanan kali ini tetap tak main-main. Armand ingin pergi ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tentu, dia tidak sendiri. Armand juga akan ditemani beberapa kru yang terus mendampinginya. ’’Anak saya juga ikut. Yang paling kecil ini malah niatnya mau setir sendiri,’’ ujarnya penuh kebanggaan.

Perjalanan yang dimulai pagi ini akan menerjunkan dua regu. Satu tim, beranggota sepuluh orang, meluncur di air dengan memakai jetski dan black boat. Lalu, dua orang menempuh jalur darat.

Armand membawa tiga jetski. Masing-masing akan diisi dua orang. ’’Nanti sisanya naik kapal karet ini,’’ ujarnya sembari menunjuk salah satu kapal hitam untuk mengangkut logistik.

Sebelum memulai perjalanan menuju Labuan Bajo, Armand dan tim melewati serangkaian persiapan. Soal peralatan. Juga soal kesehatan. ’’Kalau tidak kuat, bisa tidak keruan nanti di perjalanan,’’ kata lelaki yang lahir pada 17 Februari 1973 itu.

Tak bosan-bosannya dia mengingatkan seluruh kru untuk tetap menjaga stamina. Selain itu, latihan fisik tetap harus dilakukan untuk menunjang kinerja tubuh selama mengikuti perjalanan. ’’Harus intensif renang, lari, renang, lari. Biar badan bisa terbiasa dengan air. Terutama laut,’’ imbuh pria kelahiran Surabaya itu.

Armand memang tak mau ada gangguan apa pun dalam perjalanannya menuju Labuan Bajo. Karena itu, rencana perjalanan disusun rapi. Misalnya, memecah perjalanan menjadi tiga etape. Yakni, Surabaya–Bali, Bali–Sumbawa, dan Sumbawa–Labuan Bajo.

Dengan jarak yang begitu jauh, Armand merasa mustahil bisa menuntaskan perjalanan dalam sehari. ’’Kalau saya sih bisa-bisa saja. Yang lainnya bagaimana?’’ ujarnya, lantas terkekeh.

Jarak Surabaya–Labuan Bajo mencapai 459 nautical mile. Jika dikonversikan ke meter, satu nautical mile sama dengan 1.852 meter. Jadi, jarak yang harus ditempuh Armand dan tim sekitar 850 km.

Tiap etape, yang berjarak 150–163 nautical mile, akan dituntaskan dalam sehari. Setelah itu, Armand dan kru beristirahat.

Dalam persiapan petualangan tersebut, Armand bukannya tidak menemui kendala. Pada Minggu (11/6), dia merencanakan latihan ke Pulau Kambing, Madura. Tapi, latihan itu batal. Salah satu jetski yang baru saja dia beli kemasukan sampah. Asap mengepul ketika jetski tersebut hendak dinyalakan. Tidak ada daya dorong sama sekali. Alhasil, Armand pun harus mengurungkan niatnya kala itu menggunakan tiga jetski untuk latihan.

Itu terjadi lantaran Armand tidak memperhitungkan banyaknya sampah yang memenuhi perairan Selat Madura. Warga Gayungsari itu pun mewanti-wanti agar dalam perjalanan ke Labuan Bajo, jetski baru dinyalakan ketika air pasang. ’’Kalau tidak, pasir akan masuk semua ke mesin. Itu merusak sekali,’’ tegasnya.

Pada latihan perdana tersebut, Armand dan tim menyusuri Pelabuhan Tanjung Perak hingga Kenjeran. Jawa Pos pun berkesempatan menjajal naik jetski untuk kali pertama.

Masih terngiang kata-kata Armand untuk mendeskripsikan sensasi naik skuter air itu. ’’Rasanya cuma seperti naik sepeda motor yang tidak ada shockbreaker-nya di jalan berlubang,’’ ungkap pebisnis pengangkutan kapal tersebut.

Tapi, yang terjadi jauh lebih mengerikan dari itu. Naik jetski sama dengan bermain jungkat-jungkit. Namun, kawan bermain Anda adalah orang yang sedang murka. Karena itu, Anda tidak berkesempatan mempersiapkan diri, kapan naik dan kapan turun.

Ketika kali pertama meluncur dari Poras Ditpolair Polda Jatim, Armand terlihat santai. Saat itu jetski yang dibawanya merupakan yang paling besar di antara tiga jetski yang hendak dibawa. Dua penumpang pun diangkutnya sekaligus. Yakni, saya dan Piet van Kempen yang bertindak sebagai navigator.

’’Kalau di laut, kita tidak tahu mana kanan mana kiri. Harus ada GPS-nya,’’ kata Piet, karyawan Armand, sebelum berangkat.

Di jetski satunya, terdapat anak ketiga Armand dan temannya, yakni Nikolas Frederick Rama Putra van Kempen dan Charista Ahmad Zikri. Rama, siswa kelas 1 SMP itu, adalah pengemudi jetski tersebut.

Mendekati lautan lepas, Armand mulai menjajal kemampuannya. Jetski yang ditumpanginya dibuat berputar membentuk huruf O. Setelah puas berputar, dia melajukan jetskinya dengan kecepatan tinggi.

Sesekali dia mengalihkan wajah ke anaknya yang masih berada di belakang. Awalnya, dia memang melakukan hal tersebut untuk memastikan Rama, anaknya, tidak tertinggal terlalu jauh. Namun, semakin mendekati lautan, Armand semakin gila. Tengokan ke anaknya itu dia lakukan untuk memastikan bahwa dirinya masih memimpin di depan.

Perseteruan antara ayah dan anak pun terjadi. Sesekali Rama menduduki posisi pertama. Tapi, tak jarang juga Armand menyalipnya dengan telak. ’’Coba kalau aku tahu arahnya, sudah aku dahuluin tadi,’’ celetuk Rama yang tak mau kalah.

Pada hari kedua persiapan keberangkatan ke Labuan Bajo, Armand dan tim memutuskan untuk memasang beberapa aksesori di black boat-nya. Meskipun terlihat kukuh, kapal sepanjang 9 meter itu sebenarnya hanya terbuat dari karet. ’’Ini buatan saya sendiri,’’ tegas Armand dengan bangga.

Tugas kapal tersebut adalah memuat logistik untuk keperluan selama dalam perjalanan. Mulai bahan bakar untuk jetski, peralatan untuk memperbaiki, hingga makanan kecil.

Aksesori perahu juga menunjang perjalanan. Misalnya, lampu navigasi berwarna merah dan hijau di kanan-kiri kapal. Lampu tersebut berfungsi untuk memberi tanda kapal-kapal di depannya. ’’Tapi, kalau sudah melaju wuuussss, udah nggak perlu itu lagi. Paling kami komunikasikan lewat marine radio,’’ terang Armand.

GPS juga dipasang menjadi satu di sebelah radio. Dengan demikian, mereka terus tahu arah. Life donut, semacam ban pelampung, dan tabung pemadam kebakaran juga disediakan di dalam kapal. ’’Kalau kapal ini terkena api, wah sudah bubar jalan. Makanya harus segera dipadamkan,’’ tambah Armand.

Pagi ini tim Armand bersiap melakukan perjalanan. Tim darat mulai bersiap untuk berangkat lebih dahulu tadi malam (9/6). Tim yang ikut jalur laut akan berangkat pada pagi buta. ’’Nanti kalau matahari sudah terlihat sedikit saja, kita langsung berangkat,’’ ujar Armand. (*/c5/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP