Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
Hijrah Ramadan

Maghfirah

Kisah Eko Wahyu, Pemuda yang Insaf setelah Tiga Tahun Dibui (2)

Ramadan dalam Penjara, Nangis Disambangi Ibu

| editor : 

BERTANGGUNG JAWAB: Eko Wahyu kini bekerja sebagai teknisi komputer untuk menghidupi dirinya.

BERTANGGUNG JAWAB: Eko Wahyu kini bekerja sebagai teknisi komputer untuk menghidupi dirinya. (Nurul Komariyah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Eko Wahyu Bahtiyar mengaku menjalani hari-harinya di Rutan Cerme dengan sabar. Setelah divonis 5 tahun penjara karena mengeroyok kakak kelas di SMK pada 2011, dia akhirnya bebas pada 2014. Cukup tiga tahun.

SATU kenangan yang tidak terlupakan, kata pemuda yang kini sudah berusia 22 tahun tersebut, adalah puasa pertama dalam penjara. Rindu rumah sangat menyiksa. Ketika sang bunda, Sriani, datang membesuk, air mata tumpah bercucuran. ’’Aku nggak tega melihat ibu menangisi kondisiku waktu itu,’’ ujar sulung di antara dua bersaudara tersebut.

’’Wis pikiren le sing mbok lakoni. Ojo dibaleni. Mene lek onok opo-opo diomongno sik ben gak onok masalah. (Kamu pikirkan Nak apa yang sudah kamu lakukan. Jangan diulangi ya. Kalau ada apa-apa diomongkan dulu biar tidak terjadi masalah).’’ Itulah kata-kata sang ibu yang diingat Wahyu sampai sekarang. Wahyu menirukannya dengan mata berkaca-kaca.

Dia juga masih ingat menu spesial selama berada di rutan: mi instan. Kalau sedang punya mi, dia tinggal beli air panas di kantin. Mi direndam hanya sampai setengah matang. Cukup sudah buat mengisi perut. ’’Kalau sedang tidak punya uang, mi instan itu sudah paling istimewa,’’ ungkapnya.

Menyesalkah dia dengan semua itu? Secara naluri, Wahyu mengaku memang merasa terkekang. Kebebasannya hilang. Namun, di balik itu, sel penjara berperan mendewasakan dirinya sebagai manusia. Di dalam penjara, Wahyu belajar banyak hal. Terlebih, dia diminta membantu bagian pelayanan tahanan untuk memasukkan data.

Bahkan, pada tahun ketiga, dia ditunjuk sebagai kepala kamar (Palkam) khusus pelayanan tahanan. Dia tahu pasal-pasal dalam KUHP. Misalnya, kasus pencurian dan narkotika. Ada banyak. ’’Pasal mencuri malam hari atau siang hari bisa beda,’’ ujarnya.

Pengetahuan tentang pasal-pasal itu menanamkan sesuatu tekad kepada Wahyu. Yaitu, berkomitmen tidak melanggar hukum lagi. Harus berpikir panjang sebelum melakukan suatu hal.

Keluar penjara pada 2014, Wahyu menjadi pribadi baru. Dia bersyukur. Meski berstatus mantan napi, dia tidak sulit mencari nafkah dan bersosialisasi. Asal perilaku baik, jalan pasti mulus. Sesekali, dia juga sowan ke rutan untuk silaturahmi. Dia disukai penghuni rutan maupun teman-teman di dunia bebas. Termasuk teman-temannya saat masih SMK dulu.

Setelah meninggalkan bui, Wahyu mencari nafkah sebagai teknisi komputer. Dia hidup mandiri selayaknya pemuda lain. Bahkan tergolong sangat rajin dan bertanggung jawab. Baik kepada diri sendiri maupun keluarga.

Punya rencana menikah? Wahyu mengaku tidak pernah bermasalah dengan gadis-gadis kenalannya. Beberapa malah tergolong dekat. Namun, hal itu terjadi sebelum dia tersandung masalah.

Setelah berstatus mantan napi, dia pernah gagal. Beberapa perempuan yang pernah datang langsung menghilang tanpa berkabar. Sebab, Wahyu selalu berterus terang pernah menjalani hukuman di penjara. Tetapi, kata dia, tidak ada yang perlu disesali. Seorang napi itu bukanlah selalu penjahat. Ada mereka yang salah jalan. ’’Memang pahit, tapi ini pelajaran hidup yang paling berharga,’’ tutur lelaki asal Menganti tersebut. (nurul komariyah/c14/roz-habis)

Sponsored Content

loading...
 TOP