Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Otomotif

Tenaga Setara Porsche 911, Perawatan Cuma Rp 130 Ribu

| editor : 

MOBIL LISTRIK: Tesla model X type 75D dipamerkan di Jakarta Convention Center.

MOBIL LISTRIK: Tesla model X type 75D dipamerkan di Jakarta Convention Center. (Muhammad Ali/Jawa Pos)

JawaPos.com- Perkembangan teknologi memaksa semua sektor berevolusi. Tak terkecuali sektor otomotif. Mesin internal combustion berbahan bakar minyak kini terlihat kuno. Mobil listrik dengan segala kelebihannya mulai menjadi tumpuan mobilitas.

Pada eranya, mesin empat langkah menggeser kejayaan mesin dua tak karena lebih efisiensi dan emisi gas buang yang lebih hijau. Namun, mobil listrik terbukti menjadi kendaraan yang jauh lebih efisien, jauh lebih bertenaga, serta lebih canggih.

Dari sekian banyak prototype dan model mobil listrik yang pernah dikembangkan, Tesla Motorcars mampu membuktikan kendaraan bermotor listrik mampu bersaing dengan mobil bermesin konvensional.

Perusahaan yang didirikan miliuner Elon Musk itu berhasil menjual sekitar 13.450 unit Tesla Model S dan 11.550 unit Tesla Model X di Amerika Serikat saja. Total unit yang diproduksi Tesla selama tiga bulan terakhir mencapai 25.418 unit. Penjualan mengilap itu membawa market value Tesla mengungguli dua raksasa otomotif Amerika lainnya, Ford dan General Motors.

Tren mobil listrik tersebut membuat pelaku otomotif di Indonesia menghadirkan Tesla di tanah air. Salah satunya, Prestige Image Motorcars yang percaya diri memboyong Tesla ke Indonesia. ”Kendaraan listrik adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari. Pada masa depan, semua mobil menggunakan motor listrik. Mobil listrik sangat irit dari sisi maintenance dan dari sisi pemakaian sehari-hari,” ujar Presiden Direktur Prestige Image Motorcars Rudy Salim.

Prestige sudah memasukkan dua jenis Tesla untuk dijual di Indonesia. Yaitu, Tesla Model S (sedan) dan Tesla Model X (SUV). Keduanya memiliki desain yang futuristis, fitur supercanggih, tenaga melimpah, dan tanpa emisi.

Tesla menawarkan beberapa jenis battery pack untuk semua produknya. Pilihannya, antara lain, 75, 75D, 90D, 100D, dan P100D. Huruf D menunjukkan mobil itu memiliki dual motor di depan dan belakang. Sementara itu, angka yang tertera pada tipe baterai Tesla merujuk pada daya mesin yang digunakan.

Tipe P100D adalah tipe tertinggi mesin Tesla dengan daya mesin 100 kwh. Jika dikonversikan, total tenaga yang mampu dimuntahkan mesin P100D setara 680 hp dengan torsi 1.072 nm. Artinya, setara dengan mesin Porsche 911 dan BMW M4 yang legendaris itu. Tenaga berlimpah tersebut membuat Tesla mampu berakselerasi dari posisi diam ke kecepatan 100 km/jam dalam waktu 2,5 detik saja!

Canggihnya lagi, semua sistem transmisi Tesla menggunakan single rasio gear. Artinya, tidak ada perpindahan gigi sehingga sangat kecil ada kemungkinan energy loss. Tenaga yang besar dengan sedikit moving partsberarti mobil listrik menjanjikan biaya perawatan yang lebih minim. ”Mobil listrik kurang lebih hanya perlu menelan biaya maintenance Rp 130 ribu sampai Rp 150 ribu setiap 350 kilometer. Angka itu lebih murah daripada biaya perawatan mobil bensin,” ujar Rudy.

Fitur Tesla S maupun Tesla X sama canggihnya. Layar selebar 17 inci di tengah dasbor menjadi otak utama kecanggihan kedua tipe Tesla. Dari displai itu, pengemudi dapat mengakses semua pengaturan di mobil. Mulai mengatur temperatur udara, suspensi, sampai memilih mode mengemudi.

Di sisi interior, Tesla Model S membawa suasana luxury khas sedan kasta atas. Kulit premium membalut di semua sisi. Mulai jok, trim, hingga setir.

Sementara itu, Tesla Model X dilengkapi pintu model falcon wing yang memudahkan penumpang naik turun mobil dalam kondisi parkir sempit sekalipun.

Urusan safety, Tesla dikenal dengan kecanggihan autonomus drive-nya. Sebanyak 12 sensor ultrasonik meng-cover 360 derajat yang memungkinkan mobil berjalan otomatis mengikuti navigasi meski fitur tersebut tentu belum dapat dioptimalkan sepenuhnya di Indonesia karena sistem yang belum terintegrasi.

”Pengembangan mobil listrik harus seiring dengan infrastrukturnya. Di negara maju sudah terdapat banyak sekali public charger sehingga pengisian listriknya mudah. Sayang, di Indonesia belum ada sama sekali,” ungkap Rudy. (agf/c25/noe)

Sponsored Content

loading...
 TOP