Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Metropolis

Ajak Napi Teroris Belajar Menulis

| editor : 

TUANGKAN ISI HATI: Dari kiri, Hisyam alias Umar Patek, Choirul Ichwan, dan Asep Jaya pada Rabu (14/6) mendengarkan pengarahan dari Mira Noormila dan Intan Savitri.

TUANGKAN ISI HATI: Dari kiri, Hisyam alias Umar Patek, Choirul Ichwan, dan Asep Jaya pada Rabu (14/6) mendengarkan pengarahan dari Mira Noormila dan Intan Savitri. (Chandra Satwika/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Upaya deradikalisasi terus dilakukan pihak Lapas Kelas I Surabaya. Rabu (14/6) enam napi teroris mendapat pelatihan menulis.

Pelatihan tersebut dimaksudkan untuk menggali perasaan para napi. Mereka diajak untuk bisa mengungkapkan unek-unek yang selama ini terpendam, lalu menumpahkannya lewat tulisan. ’’Isi hati bisa dicurahkan lewat cerpen, puisi, atau bahkan naskah pertunjukan,” jelas dr Mira Noormila, pemateri dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Yang paling dasar, para napi teroris itu diajari teknik menulis terlebih dahulu. Lalu, mereka diminta untuk langsung mempraktikkannya. Mereka pun terlihat antusias.

Kepala Lapas Kelas I Surabaya Riyanto menyatakan, kegiatan deradikalisasi tersebut merupakan bentuk kerja sama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan BNPT. Kegiatan itu dilaksanakan secara rutin dan sesuai kebutuhan. ’’Ini bagian dari kegiatan memonitor para narapidana teroris,” jelasnya.

Dalam kasus narapidana teroris, pihaknya mengakui belum mampu melakukan pembinaan secara spesifik. Selama ini pembinaan yang dilakukan hanya berupa kegiatan-kegiatan kerja dan rohani. Untuk masalah yang berkaitan dengan penanaman ideologi, pembinaannya masih kurang. Karena itu, diperlukan seorang ahli. ’’Diharapkan, mereka bisa segera meninggalkan gerakan radikal,” tuturnya.

Meski demikian, lanjut Riyanto, masih ada napi teroris yang belum mau sepenuhnya berubah. Setidaknya ada tiga napi teroris yang mendapat pembinaan khusus. Tetapi, dia optimistis mereka bisa berubah secara perlahan. ’’Pak Umar (Umar Patek, Red) itu dulu juga tidak langsung sembuh, perlu proses dan tiap orang tidak sama,” urai pria asal Kebumen tersebut.

Sementara itu, salah seorang narapidana teroris, Choirul Ichwan, memberikan tanggapan positif. Menurut dia, selama ini dirinya mendapat manfaat dari kegiatan tersebut. Bahkan, dia jadi punya pikiran untuk menulis sebuah buku.

Karena sikapnya yang mau berubah, dia pun dipastikan bebas setahun sebelum masa penahanannya berakhir. Padahal, selama ini para teroris sangat sulit mendapatkan remisi. ’’Alhamdulillah, saya sudah mengajukan permohonan remisi dan memenuhi semua persyaratannya,” kata pria yang akan bebas pada 8 Agustus itu. (aji/c7/git)

Sponsored Content

loading...
 TOP