Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Bongkar Bisnis Prostitusi Online Penyedia Janda

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Wahyu Kokang/Jawa Pos)

JawaPos.com- Polisi membongkar prostitusi online di Blitar dengan tersangka Agustina. Perempuan 36 tahun itu menyediakan perempuan-perempuan yang rata-rata ibu rumah tangga (IRT). Namun, para perempuan seksi itu sudah berpisah dari suami mereka dan menjadi janda nakal. Baik yang sudah mempunyai anak maupun belum.

’’Iya, dari hasil pemeriksaan, semua perempuan nakal ini merupakan janda. Kebanyakan masih muda,’’ kata Kasatreskrim Polres Blitar Kota AKP Heri Sugiono.

Motif mereka terjun ke dunia prostitusi online, terang Heri, tidak jauh dari kebutuhan ekonomi semata. Mereka hanya ingin mengumpulkan pundi-pundi dari bisnis esek-esek itu secara mulus tanpa bisa terendus polisi. Namun, bisnis tersebut tetap terbongkar.

Sementara itu, dari pemeriksaan, belum diketahui apakah ada pelajar di antara para pemberi nikmat sesaat itu. Mereka merupakan warga asli Blitar. Rata-rata sudah mahir dalam bisnis haram itu.

Nah, berdasar percakapan atau chat mucikari alias Agustina, warga Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo, tarif mereka dipatok tinggi. Mulai Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Namun, ada yang menawar hingga Rp 250 ribu.

Bahkan, Agustina bisa menetapkan tarif hingga Rp 1 juta untuk perempuan yang tergolong ’’spesial’’. Usia mereka 20 tahun hingga 30 tahun.

Berdasar chat itu, peran Agustina sangat jelas. Dia menawarkan anak buahnya hingga mengantarkan ke hotel di Kota Blitar yang telah disepakati. ’’Semua urusan, mulai uang hingga pembayaran, di-handle langsung oleh mucikari. Jadi, anak buah tinggal terima untung,’’ tambah Heri.

Para pelanggan atau pemburu kenikmatan itu beragam. Mulai warga biasa hingga karyawan ekspedisi. Bahkan, ada yang terang-terangan booking meski dalam bulan puasa. Sementara itu, ’’eksekusi’’ dilakukan saat sore dan malam.

Ya, anggota Polres Blitar Kota terus mengusut dan mendalami bisnis prostitusi online tersebut. Sebab, praktik haram itu baru pertama ada dan terungkap di Blitar.

Agustina pun kini dijebloskan ke tahanan Polres Blitar Kota. Menurut polisi, Agustina tak bekerja sendiri, melainkan bersama jaringan.

’’Ya, tak tertutup kemungkinan ini adalah jaringan. Kami terus mendalami,’’ tegas perwira berpangkat tiga balok di pundak itu.

Menjamurnya prostitusi online, menurut dia, tidak lepas dari kecanggihan teknologi. Terutama ponsel, smartphone, hingga tablet yang sekarang dimiliki hampir semua orang.

Di samping itu, beragam media sosial dan media chatting kini semakin mudah diakses di ponsel pintar. Hal itulah yang dimanfaatkan perempuan-perempuan nakal penjaja tubuh atau mucikari untuk mencari pundi-pundi.

’’Memang, prostitusi online ini sulit terlacak. Karena itu, kami harus jeli membaca perkembangan gadget dan bentuk pemanfaatannya,’’ terang Heri.

Dia menyatakan, bisnis prostitusi online berbeda dengan prostitusi konvesional. Para mucikari atau perempuan penjaja tubuh yang berkecimpung di dunia prostitusi online tak ingin disebut pekerja seks komersial (PSK). ’’Mereka ingin disebut perempuan biasa,’’ ujar polisi ramah itu. (sub/ziz/c5/diq)

Sponsored Content

loading...
 TOP