Jumat, 15 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Health Issues

Ketika Darah Tergolong Rhesus Negatif, Perlakukan Khusus meski Bukan Penyakit

| editor : 

KUNJUNGAN: Pengurus Komunitas Rhesus Negatif Indonesia didampingi Dewan Kehormatan PMI Totok Sudarto (duduk tengah) Selasa (6/6) di redaksi Jawa Pos.

KUNJUNGAN: Pengurus Komunitas Rhesus Negatif Indonesia didampingi Dewan Kehormatan PMI Totok Sudarto (duduk tengah) Selasa (6/6) di redaksi Jawa Pos. (Mahesa Indra/Jawa Pos/JawaPos.com)

Berita Terkait

JawaPos.com – Agnes Wulandari, 40, ingat betul perjuangannya melahirkan anak ketiga empat tahun lalu. Hemoglobin (Hb) darahnya drop di angka tiga. Pada detik-detik melahirkan, dia baru diketahui sebagai penyandang rhesus negatif.

Saat itu dia mengalami pendarahan hebat. Sedangkan ketika akan ditransfusi, tubuhnya menolak. Hal seperti itu tidak pernah dialami pada kehamilan pertama dan kedua. ”Kakak-kakaknya lancar,” jelasnya saat berkunjung ke redaksi Jawa Pos bersama RNI Jatim-Bali kemarin (6/6).

Pengalaman serupa dimiliki Yoe Bing. ”Banyak perempuan yang mengetahui rhesus negatif itu setelah melahirkan anak kedua tapi bermasalah atau hamil (dengan riwayat, Red) sering keguguran,” tuturnya. Agnes dan Yeo Bing merupakan anggota Rhesus Negatif Indonesia (RNI) Jawa Timur-Bali.

Rhesus negatif bukanlah penyakit. Rhesus merupakan penggolongan darah yang memiliki atau tidak memiliki antigen D. Orang yang dalam darahnya mempunyai antigen D disebut rhesus positif. Jika tidak dijumpai antigen D, disebut rhesus negatif.

Penyandang rhesus negatif memiliki kehidupan yang sama dengan orang kebanyakan. Hanya, ketika membutuhkan darah, mereka harus lebih berhati-hati. Sebab, jika rhesus tidak cocok, bisa terjadi pembekuan darah yang berakibat fatal. Salah satunya adalah kematian penerima darah.

Selain itu, perempuan rhesus negatif pada kehamilannya memerlukan perlakuan khusus. Apalagi sudah kehamilan kedua atau lebih seperti Agnes dan Yoe Bing. Dokter Khanisyah Erza Gumilar SpOG membenarkan hal tersebut. ”Ada yang di kehamilan kedua atau lebih tidak berhasil. Selalu keguguran,” ujar dokter yang berpraktik di RS Unair tersebut.

Erza menyayangkan banyaknya pasutri yang tidak punya persiapan untuk kehamilan. ”Tahu-tahu hamil saja. Padahal, kalau ibunya punya rhesus negatif, perlu perhatian,” ujarnya. Pada kehamilan pertama, memang biasanya sang ibu tidak mengalami masalah. Sebab, sang ibu belum memiliki antibodi.

Nah, ketika melahirkan pertama itu, tubuh ibu sudah memproduksi antibodi. Antibodi tersebut menganggap si janin benda asing yang patut dibasmi. Akhirnya bisa mengakibatkan keguguran.

”Perempuan dengan rhesus negatif sebenarnya tidak perlu khawatir,” jelas alumnus FK Unair itu. Alasannya, untuk mengatasi antibodi yang memusuhi si janin, dokter spesialis kandungan akan menyuntikkan obat immunoglobulin. Biasanya disuntikkan ketika usia kandungan sekitar tujuh bulan. Setelah itu, kandungan akan aman.

Lalu, bagaimana ibu yang sudah ketahuan menyandang rhesus negatif? Erza menyarankan sang ibu datang ke dokter kandungan subspesialis fetomaternal. Tujuannya, memeriksakan kondisi janin. ”Setelah dinyatakan aman, bisa selanjutnya di spesialis kandungan yang biasanya,” tuturnya.

Yang perlu diperhatikan lagi adalah sebelum melahirkan. Jika ada risiko pendarahan, sebaiknya melahirkan di rumah sakit tipe A. Sebab, mereka yang memiliki risiko pendarahan harus mendapatkan transfusi dengan rhesus negatif. ”Sebenarnya semua akan aman kalau sudah persiapan,” papar Erza. Dia menambahkan, jika sudah terdeteksi, di Surabaya sang ibu akan didampingi dua donor. Itu dilakukan untuk berjaga-jaga jika si ibu membutuhkan darah saat melahirkan. (lyn/c11/jan)

Sponsored Content

loading...
 TOP