Jumat, 20 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Women's

Jenis Tumor Otak Berikut Banyak Diderita Perempuan

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Pixabay)

JawaPos.com - Dinamisnya hormon perempuan mengandung konsekuensi. Selama ini, hampir semua perempuan merasakan sisi psikis dengan manifestasi menjadi moody.

Namun dari sisi fisiknya, sisi hormonal perempuan juga bisa memicu terjadinya tumor otak meningioma. Spesialis bedah saraf RSUD dr Soetomo Prof Dr dr Abdul Hafid Bajamal SpBS (K) mengatakan, angka kejadian tumor meningioma memang lebih banyak terjadi pada perempuan. ’’Perbandingan antara perempuan dan kali-laki, 2:1,’’ ungkap dokter yang akrab disapa Hafid ini.

Dalam seminggu, paling tidak Hafid menemukan 2 pasien baru tumor meningioma. Dalam seminggu pula, selalu ada pasien berjenis kelamin perempuan. Menurut Hafid, hal ini berkaitan dengan faktor hormonal.

Salah satu teori menyebutkan, kadar hormon estrogen dan progesterone tidak seimbang. Dimana, kadar estrogen terlalu banyak dan mendominasi. Keadaan itu memicu sel-sel di selaput otak yang bernama arachnoid cap cell berproliferasi alias tumbuh secara abnormal.

Biasanya, tumor tumbuh membesar ke arah dalam. ’’Namun, ada juga tumor yang tumbuh membesar kelur, masuk ke tulang, bahkan keluar dari tulang,’’ tuturnya. Tumor yang tumbuh ke dalam itulah menekan batang otak. kondisi itulah yang membuat pasien merasakan nyeri kepala yang hebat.

Bila tumor tumbuh terus hingga mengenai batang otak, saraf mata dan lainnya. Pasti pasien juga merasakan gangguan penglihatan, gangguan penciuman, kejang, hingga penurunan kesadaran.

Menurut Hafid, acapkali dia menemui pasiennya yang mengalami tumor meningioma setelah hamil. Serta pada perempuan-perempuan yang menggunakan kontrasepsi jenis suntik. ’’Artinya, KB bukan pencetus. Tapi dia memprovokasi terjadinya tumor ini,’’ ulasnya.

Hal ini terkait genetik. Seorang perempuan yang punya ’bakat’, bila menggunakan kontrasepsi suntik bisa memprovokasi terjadinya tumor. ’’Kalau sedang hamil, situasi hormon perempuan memang lebih dinamis. Tapi tidak semua perempuan hamil, lalu bisa tumor. Bergantung genetik,’’ tegas Hafid. (ina/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP