Sabtu, 16 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Giovanni Alif dan Ikan Cupang; Hobi yang Jadi Pundi-Pundi

| editor : 

JADI DUIT: Giovanni Alif menunjukkan ikan cupang koleksinya. Hobi yang ditekuni itu telah membawanya menjadi salah seorang eksporter ikan cupang.

JADI DUIT: Giovanni Alif menunjukkan ikan cupang koleksinya. Hobi yang ditekuni itu telah membawanya menjadi salah seorang eksporter ikan cupang. (Ghofuur Eka/Jawa Pos/JawaPos.com)

Hobi bisa jadi sumber pundi-pundi bagi yang menjalani secara tekun. Giovanni Alif Dyer Wahjudy sudah menunjukkannya. Kecintaan pada ikan cupang membawanya menjadi jawara cupang hingga ke luar negeri.

GALIH ADI PRASETYO

TANPA bosan. Itulah yang ditunjukkan pria lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga ini. Dia mantap memilih ikan cupang sebagai hobi sekaligus sumber pundi-pundinya.

Bahkan, hobinya itu telah membawa Giovanni Alif Dyer Wahjudy langganan juara kompetisi ikan cupang. Baik di kancah regional maupun nasional. Pasar ekspor pun kini tengah dijajaki pria berkacamata tersebut. ”Ikan cupang itu enggak ada matinya. Perputaran uangnya juga cepat,” terang Giovanni.

Sejak kecil Giovanni menyukai ikan mungil dengan ekor rumbai tersebut. Eksotika ikan cupang selalu membuat Giovanni kesengsem. Tidak pernah bosan. ”Bahkan, dulu rumah sampai penuh sama ikan cupang,” kenangnya.

Kecintaan Giovanni bertahan hingga memasuki bangku SMP. Di sanalah Giovanni mulai mencoba untuk mengembangbiakkan ikan cupang miliknya. ”Nyoba ternak berhasil. Awal dulu cuma berhasil hidup 40–50 ekor,” ujar pria kelahiran Surabaya itu.

Waktu itu, sama sekali tidak ada pikiran untuk menjadikan hobi tersebut sebagai ladang bisnis. Semua dijalani atas dasar kegemaran pada ikan mungil itu. Hingga akhirnya ada tengkulak yang datang untuk membeli cupang hasil budi dayanya. ”Padahal, awal orientasinya cuma dipakai sendiri. Meski cuma sedikit, tetap ada yang beli waktu itu,” ucapnya.

Hal itu membuat Giovanni mulai berani untuk terus mengembangkan cupang. Pesanan pun semakin banyak. ”Akhirnya, kerja sama budi daya sama paman,” imbuhnya.

Saat ini budi daya ikan cupang diserahkan kepada pamannya. Selain pertimbangan lokasi, Giovanni mempertimbangkan kualitas air yang digunakan. ”Ikan cupang untuk hias, misalnya, enggak bisa pakai air sumur. Kalau di rumah, saya pakai air galon. Minimal galon isi ulang,” ujarnya.

Budi daya ikan cupang itu sekarang berada di Medan. Selain pasokan air bersih lancar, sang paman bisa turun langsung. ”Sekarang ngirim dari Medan. Biasanya, per bulan minimal seribu sampai 2 ribu ekor,” terangnya.

Di Surabaya Giovanni tinggal menyortir ikan. Cara kerjanya pun lebih efektif. ”Bisa fokus nyortir dan ngejual,” ujarnya.

Ikan hasil kiriman tersebut memiliki berbagai kualitas. Di situlah Giovanni berperan sebagai penyortir. Dia mengklasifikasi jenis ikan, apakah ikan hias atau aduan. Termasuk memilih untuk ekspor yang harus memenuhi kualifikasi tersendiri. Oleh karena itu, Giovanni tidak bisa serta-merta mengekspor ikan yang kualitasnya biasa-biasa saja. ”Minimal yang diekspor itu sudah pasti masuk nominasi kalau dilombakan,” terangnya.

Dengan begitu, dia mampu menjaga kualitas dan kepercayaan konsumennya di luar negeri. ”Kalau ada yang kualitas super, langsung saya e-mail gambarnya dan kirim ke sana. Saat ini saya ekspor ke Amerika,” ungkap Giovanni.

Pengiriman dilakukan dengan membungkus ikan dalam kantong plastik dan ditambahkan oksigen. Setelah itu, ikan ditaruh dalam boks styrofoam dan dikirim. Ikan akan melalui proses karantina. Hingga sampai Amerika mungkin dibutuhkan waktu tujuh hari. ”Dan ikan itu tidak dibuka atau diberi makan sama sekali. Ikan cupang itu kuat,” terangnya.

Menurut dia, kualitas ikan cupang Indonesia sangat bagus bagi pasar luar negeri. Di Amerika, terutama di Miami dan California, ikan cupang miliknya sangat disukai. ”Di sana dipakai untuk kontes ikan cupang juga,” ucapnya.

Kualitas ikan cupang di Amerika tidak bisa sebagus di Indonesia. Sebab, cuaca di Amerika kurang cocok. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki cuaca tropis. Karena itu, warga Amerika harus memakai matahari buatan, heater atau pemanas, lampu ultraviolet, dan sebagainya.

Menurut dia, cuaca di Indonesia sangat membantu membentuk kualitas ikan cupang. Untuk meningkatkan kualitas misalnya, ikan setiap hari harus dijemur. ”Tiap hari harus dijemur 10–15 menit. Itu biar bulunya buka,” ujarnya.

Pada dasarnya, ikan cupang terdiri atas tiga jenis. Yaitu, ikan cupang alam, ikan cupang hias, dan ikan cupang aduan. Masing-masing punya karakteristik dan keunikan sendiri. Misalnya, ikan cupang hias lebih mengedepankan penampilan dan rumbai ekor. ”Ikan cupang hias kalau dilombakan itu ganteng-gantengan,” terang Giovanni.

Salah satu yang terkenal dari ikan cupang adalah sebagai ikan aduan. Jenis ikan aduan itu punya bentuk dan postur yang lebih simpel. Ekornya pun biasa tanpa rumbai seperti yang dimiliki ikan cupang hias. ”Ikan cupang aduan memang didesain untuk bertarung sampai mati. Kalau lomba ikan aduan, penentuan menangnya kalau enggak mati, ya salah satunya lari,” ujarnya.

Ikan cupang alam sekarang semakin sulit dicari. Sebab, habitatnya terbatas. Sebaran ikan cupang alam berada di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. ”Untuk sekarang belum bisa menyediakan cupang alam. Soalnya, sangat sulit carinya,” terang Giovanni.

Semua jenis ikan cupang hias dan aduan berasal dari hasil persilangan ikan cupang alam. Persilangan itu membutuhkan waktu lama untuk memperoleh spesies yang istimewa. ”Ikan cupang alam itu bergigi paling tajam, tapi mentalnya kurang tangguh. Maka, sekarang sedang diupayakan untuk dikembangkan jadi ikan aduan. Tapi, ya masih butuh waktu yang lama, bisa sampai 7–8 kali persilangan,” ujar pria 25 tahun itu.

Sekarang Giovanni berfokus menjual ikan cupang di pasar ikan Gunungsari. Di sana, dia memiliki sebuah outlet khusus ikan cupang. Berbagai kualitas ikan cupang tersedia. Mulai yang harganya puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu. ”Yang paling murah biasanya Rp 25–50 ribu. Yang paling mahal bisa sampai Rp 300 ribu. Untuk kualitas ekspor sampai USD 80 per ekor,” jelasnya.

Ikan cupang memiliki banyak keunggulan. Salah satunya soal perawatan. Makanannya juga cukup mudah. Diberi cacing beku mau. Cacing sutra juga oke. Uget-uget alias jentik nyamuk pun disantap. Dalam kondisi normal, ikan cupang mampu bertahan hingga dua minggu tanpa makan.

Untuk event khusus seperti kontes ikan hias, biasanya ikan cupang harus disalon dulu. Ekor ikan dipotong biar rapi. Tapi, tidak semua kontes ikan cupang membolehkan hal itu. Proses perapian tersebut biasanya sekitar dua pekan sebelum lomba. Setelah dipotong, ekor itu akan tumbuh lebih rapi. Untuk biaya nyalon tersebut, per ikan dipatok Rp 25 ribu–50 ribu.

Saat ini ada tiga negara pengekspor ikan cupang terbesar. Yakni, Thailand, Malaysia, dan Kamboja. Menurut Giovanni, saat ini banyak ikan cupang dari Thailand yang masuk Indonesia. Warnanya lebih bagus. ”Mereka di sana bisa menghasilkan ikan yang bagus karena dukungan pemerintahnya. Durian aja bisa jadi durian montong,” ujarnya.

Giovanni pun berharap pemerintah bisa memberikan perhatian bagi komoditas ikan hias di Indonesia. Salah satunya ikan cupang. Sebab, menurut dia, ikan cupang memiliki pasar yang sangat besar. ”Perputaran ikan cupang cepat. Apalagi ikan aduan. Kalah menang, ya harus ganti ikan,” katanya. (*/c6/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP