Sabtu, 23 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Koarmatim Uji Coba Mesin Hibah Jepang

Olah Air Campur Solar untuk Bahan Bakar Kapal Perang

| editor : 

EFISIENSI: CEO Eneco Holdings, Yasuhiro Yamamoto bersama Letda Firson Asis menjelaskan kinerja Enico Plasma Fusion yang menggabungkan 50 persen solar dengan air  menjadikan bahan bakar kepada tamu undangan Senin (8/5) saat diujicoba.

EFISIENSI: CEO Eneco Holdings, Yasuhiro Yamamoto bersama Letda Firson Asis menjelaskan kinerja Enico Plasma Fusion yang menggabungkan 50 persen solar dengan air menjadikan bahan bakar kepada tamu undangan Senin (8/5) saat diujicoba. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos/JawaPos.com)

Bahan bakar minyak masih dianggap sebagai penyumbang polusi udara. Karena itu, berbagai inovasi dilakukan, termasuk oleh Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). Mereka Senin (8/5) mengadakan uji coba alat bernama Eneco Plasma Fusion (EPF).

ALAT EPF berfungsi mencampur air dengan solar. Polusi karbon dioksida yang dihasilkan bahan bakar campuran air tersebut diklaim mampu berkurang hingga 50 persen. EPF merupakan hibah dari Eneco Holdings, perusahaan dari Jepang. Saat ini alat itu juga digunakan di Jepang. Alat dengan panjang 10 meter dan tinggi 2 meter tersebut akan menyuplai bahan bakar kapal perang.

RAMAH LINGKUNGAN: Yasuhiro Yamamoto (kanan) memberikan tur singkat Eneco Plasma Fusion kepada para tamu di gedung Eneco Plasma Fusion Koarmatim.

RAMAH LINGKUNGAN: Yasuhiro Yamamoto (kanan) memberikan tur singkat Eneco Plasma Fusion kepada para tamu di gedung Eneco Plasma Fusion Koarmatim. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos/JawaPos.com)

EPF mengolah air dan bahan bakar dengan perbandingan 50:50. Air dan solar bakal mengalami beberapa proses. Air diolah dengan teknologi plasma. Teknologi tersebut mengolah air menjadi molekul dan melepaskan kandungan oksigen. Selanjutnya, hidrogen yang tersisa diolah dan dicampur dengan bahan bakar. Akhirnya, alat itu menghasilkan 100 persen bahan bakar tanpa mengurangi sifat bakarnya. EPF mampu mengolah berbagai jenis bahan bakar. Termasuk bahan bakar berat seperti solar, kerosin, dan biodiesel fuel (BDF).

Presiden Direktur Eneco Holding Yasuhiro Yamamoto menjamin bahan bakar yang dihasilkan tidak akan bermasalah terhadap mesin. Bahkan, dia menggandeng perusahaan asuransi untuk menjamin jika terjadi kerusakan. ”Saat ini kami dapat pesanan dari Spanyol, tapi untuk avtur,” ungkap pria asal Jepang tersebut.

Kini alat itu tersimpan di gedung Eneco Plasma Fusion Koarmatim, Ujung, Surabaya. Dalam uji coba tersebut, Yasuhiro memimpin dan menjelaskan langsung cara kerja alat itu. Untuk Indonesia, alat tersebut masih berkualitas standar. Di Jepang, EPF bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan. Misalnya, mengolah jenis minyak lain.

Alat senilai Rp 14 miliar itu merupakan hibah murni kepada Koarmatim. Diharapkan, alat tersebut bisa menjadi terobosan baru. Terutama dari sisi ekonomi. ”Dengan alat itu, kami bisa menghemat pengeluaran untuk kebutuhan bahan bakar,” ujar Komisaris Eneco Holdings Bambang Sulistyo.

Dalam uji coba tersebut, hadir Kepala Dinas Material Perbekalan (Kadismatek) Koarmatim Kolonel Laut (T) Budiyono dan Letkol Laut (KH/W) Uciek Darmayani sebagai Pamen Slog Koarmatim. Potong tumpeng menjadi penanda uji coba.

Mesin tersebut tergolong canggih. Semua berjalan secara otomatis. Bahkan, untuk menjaga keamanan, pengawasan bisa dikontrol dari jarak jauh. ’’Alat ini ada aplikasinya, jadi bisa dikontrol dari mana pun, bahkan dari luar negeri,” jelas Yasuhiro.

Jika diteropong dengan menggunakan mikroskop, minyak dan air yang sudah diproses akan terlihat menyatu. Pada teknologi konvensional, partikel minyak akan mudah pisah. Itu terjadi karena teknologi plasma yang diterapkan.

Di Jepang, memang ada pabrikan serupa yang memproduksi alat seperti EPF. Namun, EPF milik Eneco Holdings diklaim sebagai satu-satunya yang lulus tes dan memegang lisensi dari Jepang. ’’Alat ini juga sudah lolos uji di lab migas di bawah Kementerian ESDM,” ujar Bambang.

Jaminan khusus juga diberikan Eneco Holdings kepada Koarmatim. Alat tersebut mampu bekerja selama empat tahun. Selama empat tahun itu pula, tiap hari alat tersebut mampu menghasilkan output hingga 12 ribu liter. ’’Kalau masih abu-abu (meragukan, Red), alat ini tidak akan saya bawa ke sini,” kata Bambang.

Produksi minyak bumi yang melimpah di Indonesia tidak berarti konsumsi bisa berlebihan. EPF diharapkan mampu memperpanjang jumlah cadangan minyak bumi Indonesia. (gal/c7/c16/oni/sep/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP