Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Children's

Waspadai Potensi Obesitas Bagi Anak Lahir Dengan Berat Badan Rendah

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Pixabay.com)

JawaPos.com - Para orang tua harus rajin memantau tumbuh kembang anak, mulai dari  baru lahir hingga balita. Perkembangan berat dan tinggi badan anak harus dipantau secara berkala, agar tidak terjadi berat badan kurang atau lebih.

Terutama ketika sang buah hati terlahir dengan kondisi berat badan rendah. Hal itu justru berpotensi menjadi obesitas di kemudian hari. "Anak yang lahir Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) berisiko obesitas lho ke depannya. Padahal lahirnya BBLR. Normalnya tubuh tak bisa mengendalikan antara demand dan supplynya. Karena itu anak-anak yang underwight risiko obesitas," kata Dokter Spesialis Konsultan Tumbuh Kembang–Pediatri Sosial, dr. Ahmad Suryawan, Sp.A(K) dalam bincang bersama Nutricia Sari Husada, Rabu (26/4).

Jika sudah obesitas, maka berisiko dengan penyakit tak menular lainnya seperti hipertensi dan diabetes serta penyakit kardiovaskular.  Tak hanya itu, anak yang memang sudah obesitas sejak kecil juga menghadapi risiko yang sama. "Karena itu berat badan anak jangan kurang jangan lebih," tegas pria yang akrab disapa Wawan ini.

Hal senada diungkapkan Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dr. Yoga Devaera Sp.A(K). Dia menambahkan anak yang mengalami malnutrisi saat lahir cenderung mempunyai masalah penyakit tak menular. Anak BBLR secara janin mempunyai gangguan metabolik yang berbeda dibanding anak gizi baik.

"Seolah saat BBLR anak mengalami masa paceklik, tubuhnya akan hemat, untuk cadangan makanan yang paling penting saja. Saat lahir, tubuhnya sudah programming atau terbentuk. Ketakutan akan menghemat justru nantinya menimbun lemak dan obesitas," katanya.

Karena itu anak yang kegemukan saat tumbuj besar tidak diiringi dengan tinggi badan yang cukup. Saat dewasa, anak menjadi dewasa dengan tubuh pendek tetapi gemuk.

"Karena itu pentingnya di dua tahun pertama jangan sampai anak mengalami malnutrisi. Akan rugi bagi kesehatan jangka panjang. Harus ada keseimbangan," tegas Yoga. (cr1/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP