Selasa, 12 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Metropolis

Stop Kekerasan pada Perempuan

| editor : 

BERBAGI PESAN: Siti Nur Jazilah alias Lisa membagikan leaflet anti kekerasan kepada pengendara yang melintas.

BERBAGI PESAN: Siti Nur Jazilah alias Lisa membagikan leaflet anti kekerasan kepada pengendara yang melintas. (Dika Kawengian/Jawa Pos)

JawaPos.com- Puluhan dokter bergerak mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan. Dalam kampanyenya, para dokter dari Program Studi Psikiatri Fakultas Kedokteran Unair itu mengajak serta pasien face-off Siti Nur Jazilah alias Lisa dalam kampanye tersebut. Mereka berpesan agar kekerasan seperti yang dialami Lisa tidak lagi menimpa para perempuan Surabaya.

Nama Lisa mencuat ketika menjalani operasi wajah beberapa tahun silam. Wajahnya yang semula cantik jadi rusak karena disiram air keras oleh suaminya. Di luar Lisa, sebenarnya banyak perempuan lain yang mengalami nasib serupa. Entah yang sudah tertangani maupun belum ketahuan sama sekali.

Aksi yang bertajuk Stop Kekerasan pada Perempuan itu berlangsung mulai pukul 10.00 dari depan Fakultas Kedokteran Unair. Seluruh peserta mengenakan pakaian daerah dan membawa poster yang mengingatkan agar tidak sampai terjadi kekerasan terhadap perempuan. Kehadiran Lisa juga turut menjadi perhatian. Sebab, dia terlibat langsung membagikan leaflet kepada pengendara yang melintas.

Lisa mengaku beruntung karena selama ini mendapatkan banyak dukungan. Tim dokter memberikan perawatan untuk menyembuhkan luka fisik maupun psikisnya. ”Sekarang saya sudah bisa jalan-jalan dan berkarya membuat kalung,” ujarnya.

Ditemui di tempat yang sama, dokter Nalini Muhdi SpKJ(K) sebagai koordinator acara mengaku prihatin lantaran setiap tahun peringatan Hari Kartini hanya simbolis. ”Cuma lomba masak atau lomba fashion show. Tapi, ada esensi perjuangan Kartini yang dilupakan,” katanya.

Menurut dia, perjuangan seharusnya juga diwujudkan agar perempuan memperoleh rasa aman. Maklum saja, selama ini di lingkungan domestik dan komunal, mereka kerap mendapatkan tekanan. Bentuknya bisa kekerasan fisik hingga kekerasan seksual. ”Menurut data WHO, Indonesia menempati peringkat pertama dalam kasus kekerasan seksual pada ranah komunitas,” ucap Nalini.

Dia melanjutkan, kekerasan seksual yang paling banyak adalah pemerkosaan. Jumlahnya bisa mencapai 1.0036 kasus yang dilaporkan. Tentu yang belum dilaporkan jauh lebih banyak. ”Bahkan, sekitar 12 perempuan Indonesia mengalami pemerkosaan setiap hari,” beber Nalini.

Sayangnya, kendati menjadi korban kekerasan, para perempuan tidak berani berbicara. Mereka hanya memendam apa yang dialaminya. Bahkan, banyak korban yang tidak mendapatkan pembelaan. ”Sebanyak 93 persen kasus pemerkosaan di Indonesia tidak dilaporkan,” lanjutnya.

Pemerkosaan, kata Nalini, dilakukan oleh orang terdekat korban. Keluarga yang seharusnya melindungi ternyata justru menjadi predator yang mengerikan.

Nalini berbagi tip pencegahan pemerkosaan. Salah satunya membentuk rasa percaya diri dan tampak kuat. Perempuan sering menjadi korban karena dianggap lemah.

Sementara itu, Prof dr Budi Santoso SpOG(K) menyatakan bahwa selama ini di lingkungan pendidikan seperti kampus, pihaknya berusaha meningkatkan rasa aman. Salah satunya adalah dibuatnya peraturan agar setiap mahasiswa berpakaian sopan. ”Berpakaian sopan kan mengurangi pemicu pelecehan seksual,” ujar Budi. (lyn/c6/git)

Sponsored Content

loading...
 TOP