Rabu, 18 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Hukum & Kriminal

Simak! Kritik Keras untuk Polisi yang Suka Main Tembak

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok JawaPos.com)

JawaPos.com - Bambang Widodo Umar selaku pengamat kepolisian buka suara atas insiden penembakan yang dilakukan Brigadir K terhadap sebuah mobil yang memuat enam orang di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Menurut dia, kesalahan dari Brigadir K sangat fatal.

"Kalau kita lihat, itu kan terlalu cepat dia mengambil kesimpulan apakah itu perampok atau bukan. Padahal kan itu orang mau kondangan, kemudian ada pelanggaran lalu lintas, namun polisi terlalu reaktif sampai nembak," kata dia ketika dikonfirmasi, Jumat (21/4).

Menurut dia, apabila hanya pelanggaran lalu lintas, polisi tidak boleh mengeluarkan tembakan apalagi sampai membabi-buta. "Polisi itu boleh nembak, kalau jiwanya terancam. Kalau enggak terancam, ya enggak boleh dilawan. Kalau orang lari ya enggak boleh‎ dilawan," sambung dia.

Dia menilai bahwa apa yang dilakukan Brigadir K adalah sebuah kesalahan prosedur. Bahkan atasan dari Brigadir K sendiri bisa disalahkan atas kejadian itu.

"Iya bisa (atasan disalahkan). Karena Polri itu, pendekatannya itu pendekatan kekerasan. Polisi itu kan seperti di Lampung, begal-begal ditembak mati, kemudian difoto si pelaku, itu kan pendekatan kekerasan. Bunuh, bunuh, bunuh. Itu harus diubah, Presiden harus memberikan instruksi ke Kapolri, jangan menggunakan kekerasan, apalagi represif dalam menegakkan hukum," papar dia.

Seharusnya, kata dia, polisi menggunakan pendekatan preveentif karena itu kata dia penting sekali. "Kalau begini terus, bawahan ngikutin-ngikutin aja. Nah, atasan, presiden harus mengingatkan kepada kapolri, 'hei, jangan lagi kapolri, menggunakan pendekatan represif atau kekerasan," tegas dia.

Pasalnya, lanjut dia, kejadian kekerasan semacam ini sudah sering terjadi. "Dari bawahan ya diusut, kapolresnya diusut. Kalau ada kesalahan ya ditindak atau dicopot," pungkas Bambang. (elf/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP