Minggu, 22 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Perjuangan Saripudin untuk Sembuh, Dibuang Bertahun-tahun di Gubuk

| editor : 

Perjuangan Saripudin untuk Sembuh, Dibuang Bertahun-tahun di Gubuk

Perjuangan Saripudin untuk Sembuh, Dibuang Bertahun-tahun di Gubuk (Andri Wiguna/Radar Cirebon/JawaPos.com)

JawaPos.com - Sudah sebulan lebih Saripudin tergolek di ranjang perawatan. Dia yang awalnya lumpuh, lalu ditelantarkan keluarga, kini berangsur membaik. Kekuatan apa yang mendorong Saripudin sehat seperti sekarang? Berikut laporan wartawan Radar Cirebon (Jawa Pos Group), Andri Wiguna.

Sambil berbaring di tempat tidur, tangan kanan Saripudin (24) terus naik-turun. Di kepalan tangannya tergenggam air mineral kemasan gelas. Ternyata, dia tengah melakukan terapi kecil untuk merangsang syaraf-syaraf otot tangannya yang seperti lumpuh akibat lama tak digerakkan.

Hampir sekujur tubuh Saripudin lumpuh. Hanya tangan kirinya saja yang masih normal dan digunakan untuk aktivitas. Dua kakinya nyaris tak pernah digunakan untuk berjalan pasca kecelakaan hebat yang merenggut nyawa temannya tahun 2011 lalu.

“Ada fisioteapis yang datang memeriksa setiap hari. Ini salah satu gerakan yang diajarkan. Alhamdulillah perkembangannya lumayan. Sekarang lebih baik dari keadaan dua bulan lalu,” ujar Aris, salah satu anggota Karang Taruna Desa Cikulak, yang saat itu kebagian menjaga Saripudin di rumah sakit.

Tugas menjaga Saripudin di rumah sakit dibagi-bagi antara sesama anggota karang taruna. Hal tersebut dikarenakan keluarga Saripudin menelantarkannya. Bahkan sebelum dievakuasi ke RS Waled, Saripudin sempat tinggal di gubuk yang dibangun ayahnya di kebun. “Bisa dilihat sendiri. Faktanya memang begitu,” imbuh Aris.

Derita Saripudin terasa begitu lengkap. Sejak kecil hidup bersama sang ibu karena bercerai, Saripudin harus menerima kenyataan dia tidak bisa berjalan lagi ketika mengalami kecelakaan yang menewaskan temannya di Tangerang tahun 2011.

Setahun setelah kecelakaan tersebut, ibu kandungnya yang setiap hari mengurusinya meninggal dunia. Dia pun terpaksa ikut bapaknya dan pulang kembali ke tanah kelahirannya di Cirebon.

Saripudin pun hanya bertahan dua minggu di rumah bapaknya. Sang ayah menikah dan punya anak lagi. Sehingga, terpaksa memindahkan Saripudin ke sebuah gubuk yang jauh dari pemukiman. Alasannya, kondisi luka yang diderita Saripudin mengeluarkan bau busuk yang membuat seisi rumah tidak nyaman.

“Saya tinggal di gubuk sekitar dua tahun lebih. Makan seadanya, kadang dikirim bapak, kadang ada yang ngasih. Kadang juga nggak makan sampai tiga hari. Saya sudah pasrah. Saya mau sembuh. Kasihan teman-teman saya, mereka tulus ngurus saya lebih dari keluarga sendiri,” ujar Saripudin.

Tuhan berkata lain. Ketika Udin –sapaan Saripudin- pasrah, tinggal menunggu datangnya ajal, sejumlah pemuda dari kampungnya datang memberi bantuan. Udin diberi makan, tubuhnya dibersihkan, dan luka-lukanya pun diobati. Selanjutnya, Udin dirujuk ke rumah sakit dengan SKTM dari desa.

Kini kondisi Udin mulai membaik dan bisa pulang sambil berobat jalan. “Pulang juga tidak ke rumah. Kita siapkan sebuah kamar di tempat bekas sekolah TK. Lokasinya di dekat balai desa,” tutur Aris.

Sementara itu, Hj Suesih SE, Kasubag Humas RSUD Waled mengatakan, kondisi Saripudin sudah mulai membaik. Namun, Suesih meminta agar pihak-pihak yang menjaga Saripudin rutin memeriksakan dan mengontrol kondisinya ke puskesmas terdekat. “Tinggal berobat jalan. Kalau perkembangannya lumayan bagus. Luka-lukanya juga sudah mulai kering,” ungkapnya. (yuz/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP