Kamis, 21 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Kalbar Miskin Sinyal, Operator Seluler Diminta Bangun BTS 

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Pixabay.com)

JawaPos.com - Wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) rupanya masih miskin sinyal. Area yang tak memiliki sinyal (blankspot) di sana masih mendominasi. Meskipun, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) telah memasang Base Transceiver Station (BTS) di 30 titik yang fokusnya ke kawasan tapal batas Kalbar.

Kepala Dinas Perhubungan dan Kominfo (Dishubkominfo) Kalbar Anthony Sebastian Runtu mengatakan, tak perlu jauh-jauh ke perbatasan. Di daerah Sompak, Kabupaten Landak, saat ini masih termasuk area blankspot. "Sebenarnya kita sudah minta bantuan dari Telkomsel tapi belum bisa," ujarnya, Senin (20/3).

Dalam upaya mengatasi area blankspot ini, menurut dia, tak bisa berpangku kepada pemerintah saja. Sebab, satu buah menara (tower) membutuhkan regulasi yang jelas. "Selain itu tentunya kita juga sangat membutuhkan bantuan operator-operator untuk menangani hal ini," terangnya.

Anthony tak memungkiri operator seluler memang membutuhkan laba. Hanya saja, pihaknya berharap operator juga mau membantu mengatasi area blankspot di pedalaman-pedalaman Kalbar. "Profit it’s oke. Itu tak masalah, ya cuma kami meminta untuk operator tolonglah dibuat juga untuk kepentingan masyarakat, tak semata-mata hanya untuk bisnis," pinta dia.

Wilayah di Kalbar, lanjutnya, saat ini sudah tak ada lagi daerah kosong penduduk. Contohnya di sepanjang jalan dari Pontianak menuju Sambas. Hal ini berarti di setiap wilayah saat ini memang membutuhkan akses komunikasi yang jelas.

"Penyebaran penduduk sudah mulai merata, dan saat ini kita semua adalah pengguna media sosial yang menduduki tingkat ke 6 di dunia. Jadi kalau bicara profit, masyarakat sekarang adalah masyarakat yang tak bisa pisah dengan komunikasi," papar Anthony.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tingkah laku masyarakat yang jika tidak membawa handphone akan terlihat seperti mati kutu, tak berdaya. "Padahal dulu enggak gitu, ya karena sekarang komunikasi telah menjadi kebutuhan dasar," ujarnya.

Saat ini masalah utama untuk memberantas blankspot yakni minimnya BTS. "Pemerintah tetap bangun, tapi kita juga butuh bantuan swasta lah, kalau cuma berharap pada pemerintah itu gak bisa. Karena pemerintah kan gak bisa cari untung, kalau swasta bisa," tutur Anthony.

"Kita liat saja orang-orang di pedalaman itu, pada naik gunung atau manjat pohon yang tinggi. Kirain mau ngapain, rupanya nyari sinyal. Ya solusinya itu tadi, bangun aja BTS di situ," sambungnya.

Sementara itu, Pengamat Sosial Pontianak, Syarifah Ema Rahmania sepakat dengan Anthony. Ia menyebut bahwa pengaruh blankspot memang sangat luar biasa. "Seharusnya masyarakat bisa dapat informasi penting, tapi akan sangat terhambat karena daerahnya termasuk area blankspot," tuturnya.

Di satu sisi, blankspot juga akan mempengaruhi produktivitas pendidikan dan menjadi faktor penurunan dalam sektor perekonomian. Sebab, saat ini peran media sosial cukup besar.

"Ya karena media sosial sekarang sudah menjadi alat utama untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan perekonomian di Indonesia, khususnya Kalbar. UN aja sekarang udah pakai sistem online, gimana kalau itu daerah kena blankspot?" tanya Ema.

Untuk itu, dosen FISIP Untan ini sangat mendukung program dari pemerintah dan pihak terkait untuk memberantas area blankspot di Kalbar. "Kominfo saat ini berjanji dan sudah melaksanakan untuk membangun BTS-BTS dan itu dibuktikan di sejumlah wilayah perbatasan tidak lagi menumpang jaringan negara tetangga," pungkasnya.

Memang, kedatangan Menteri Kominfo Rudiantara ke kota Pontianak beberapa hari lalu bukan hanya untuk mendeklarasikan masyarakat antihoax di Kalbar. Ia juga memberikan harapan akan adanya perbaikan infrastruktur telekomunikasi di Kalbar.

Salah satu konsep yang mengatasi area blankspot yang terus didengungkan Rudiantara adalah Palapa Ring. Ini pun sempat disinggungnya saat menghadiri acara Ignition dari Gerakan 1000 startup pada minggu (19/3) di Balai Petitih, Kantor Gubernur Kalbar, Jalan Ahmad Yani Pontianak.

“Palapa Ring itu bagaimana memastikan bahwa tahun 2019 itu semua ibu kota kabupaten dan kota di seluruh Indonesia harus sudah mengakses internet berkecapatan tinggi,” bebernya.

Palapa Ring sendiri adalah megaproyek pembangunan infrastruktur yang menjangkau 34 provinsi dan 440 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Jaringan serat optik yang dibangun dalam proyek ini panjangnya mencapai 36.000 Km.

Hingga saat ini, setidaknya ada sekitar 400 ibu kota kabupaten dan kota yang telah mengakses internet berkecepatan tinggi. Namun, Rudiantara memastikan proyek yang diinisiasi sejak 2014 ini tidak berhenti sampai di sana saja. “Karena indonesia inikan semuanya, bukan cuma 400 ibu kota kabupaten dan kota itu,” ujarnya.

Untuk Kalimantan, titik mula pembangunannya di Singkawang. “Nanti dari sana dikoneksikan ke Pontianak dan se-Kalimantan,” tambah Rudiantara. Kenapa Kalimantan jadi prioritas? Ia menjawab daerah perbatasan memang fokus dari kementerian yang dipimpinnya.

“Ada tiga, yakni di Kalimantan ini perbatasan dengan Malaysia, di Papua berbatasan dengan Papua Nugini dan di Nusa Tenggara Timur dengan Timor Leste,” pungkasnya. (Rizka/Iman/iQbaL/fab/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP