Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Health Issues

Kelainan Kromosom Bisa Dideteksi Sejak dalam Kandungan

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com – Para calon ibu dan orang tua pada umumnya sejak dini harus mulai memahami seputar penyakit kelainan kromosom. Saat ini, semakin banyak anak lahir dan tumbuh kembang dengan keterbelakangan mental. Hal itu ternyata dipengaruhi karena adanya kelainan kromosom.

Rupanya kondisi ini sebetulnya bisa dideteksi sejak dini. Baik itu Edward Syndrom ataupun Down Syndrom, pencegahannya masih bisa dilakukan sejak awal. Pencegahan dilakukan sejak anak masih di dalam kandungan.

Pemeriksaan awal pada wanita yang hamil, dilihat dari besarnya rahim yang tidak normal dan air ketuban yang berlebih. Pemeriksaan fisik pada bayi dengan melihat pola sidik jari yang tidak normal dan pemeriksaan melalui X-ray.

Untuk orang tua yang pernah memiliki anak dengan Trisomi 18 dan ingin memiliki anak kembali, penting untuk melakukan pemeriksaan kromosom terlebih dahulu karena risiko memiliki anak dengan Trisomi 18 bisa terulang lagi. Pencegahan yang paling baik adalah dengan melakukan pemeriksaan kromosom sebelum masa hamil, untuk mengetahui apakah ada yang tidak beres dengan jumlah kromosom yang terdapat pada sel orang tua.

Fanny Novia, seorang ibu yang melahirkan anak pertamanya, Valleria Elinor Huang mengidap penyakit kelainan kromosom Edward Syndrome atau dikenal pula dengan Trisomi 18. Valleria hanya dapat bertahan selama 3 minggu saja sejak kelahirannya.

“Di kehamilan kedua, saya cepat mengambil tindakan untuk melakukan pengecekan kromosom, dan hasilnya negatif. Kromosom normal dan bayi saya sudah lahir dalam kondisi sempurna,” katanya dalam keterangan tertulis saat diskusi dengan Bank Darah Tali Pusat Cordlife, Senin (20/3).

Begitu pun untuk Down Syndrome. Penyakit ini juga bisa dideteksi sejak dini. Pencegahannya, terutama untuk ibu yang pernah memiliki anak Down Syndrome atau hamil pada usia di atas 40 tahun, harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya. Terutama di awal kehamilan, karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. (cr1/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP