Selasa, 24 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Health Issues

Penderita Parkinson Tidak Boleh Diam

| editor : 

GERAKAN: Salah satu tanda Parkinson adalah tremor.

GERAKAN: Salah satu tanda Parkinson adalah tremor. (Allex Qomarulla/jawa pos/jawapos.com)

Selama ini kita mengenal parkinson sebagai penyakit tremor yang diderita almarhum Muhammad Ali. Penyebabnya, –kita menyimpulkan– bekas petinju itu sering terkena pukulan di bagian kepala. Itu tidak salah. Namun, sebagai penyakit degeneratif, penyebab pastinya tidak diketahui.
--- 
SEIRING dengan bertambahnya usia, organ-organ tubuh juga ikut menua. Termasuk otak yang mengalami penurunan fungsi. Penyakit parkinson muncul karena adanya proses degenerasi pada substansi nigra di otak tengah. Penyebab pasti degenerasi tersebut bersifat idiopatik atau tidak diketahui. Hal itu tidak dapat dicegah.

Dalam kasus Ali, parkinson disebabkan cedera pada otak. Otak memiliki beberapa bagian dan sekat yang punya fungsi masing-masing. Otak yang terlalu sering kena pukulan akan berputar atau bergeser dari sekatnya. ”Bergesernya otak dari sekatnya itu mengacaukan fungsi otak,” jelas dokter spesialis saraf dr Linardi Widjaja SpS(K).

Parkinson juga bisa dipicu dari bahan-bahan kimia. Misalnya, pestisida, herbisida, dan fungisida. Semakin sering seseorang terpapar bahan kimia tersebut, risiko terkena parkinson akan makin tinggi. Bahan itu bersifat racun bagi tubuh dan mengakibatkan degenerasi neuron serta kerusakan sel otak di substansi nigra. Alhasil, kadar dopamin pada otak menurun sehingga gerakan motoris manusia melemah.

Parkinson, lanjut dia, bisa diakibatkan faktor keturunan. Namun, hal itu cukup langka terjadi. Hanya 10–15 persen. ”Faktor genetik, cedera, dan bahan kimia itu bisa memunculkan gejala lebih dini. Misalnya, pada usia 40 tahun. Bergantung ketahanan tubuh dan seberapa lama akibatnya terjadi,” jelas alumnus FK Universitas Airlangga Surabaya tersebut

Gejala parkinson diawali dengan penurunan fungsi motorik. Ada tiga hal utama yang menjadi tandanya. Yakni, tremor atau gemetar, rigiditas atau kekakuan, dan hypokinesia atau perlambatan gerakan motoris. Ketiganya tidak selalu berurutan. Seseorang bisa mengalami gejala hypokinesia lebih dulu baru tremor atau sebaliknya.

Dalam stadium lebih lanjut, gangguan motoris akan disusul dengan gejala non-motoris. Yakni, gejala sensoris. Tanda-tandanya, daya penciuman menurun, lalu muncul gejala psikiatris yang berpengaruh pada mental dan mood. Seseorang akan jadi lebih mudah marah dan susah tidur. Selanjutnya, fungsi kognitif menurun. Kecerdasan mulai berkurang dalam tahap tersebut. ”Penderita mulai sulit mengambil keputusan. Puncaknya, parkinson akan berujung dementia atau pikun total,” jelasnya.

Sebetulnya, parkinson bukan jenis penyakit yang berbahaya. Hanya, gejala yang muncul sangat mengganggu kegiatan sehari-hari. Belum ada obat atau terapi yang bisa menyembuhkan dan mencegah degenerasi sel otak. Karena itu, treatment yang bisa dilakukan hanya sebatas mengurangi gejala.

Dokter Achmad Fahmi Baabud SpBS(K)Func menambahkan, resep yang umum diberikan meliputi L-DOPA. Yakni, obat yang berfungsi menggantikan kekurangan produksi dopamine dalam otak serta obat yang berfungsi mengaktifkan reseptor dopamine di otak. ”Intinya, obat-obatan tersebut digunakan agar sedikit dopamine dari tubuh bekerja optimal dan tidak terbuang,” paparnya.

Spesialis bedah saraf National Hospital Surabaya itu menjelaskan, pasien akan mendapatkan obat untuk mengurangi gejala lain seperti tremor. Bila pengobatan dan terapi belum membantu, dokter biasanya bakal mempertimbangkan tindakan operasi. Operasi yang biasa dilakukan adalah stereotactic brain lesion atau deep brain strimulation. ”Efektivitasnya sudah diakui, tapi tentu bergantung pada kondisi dan progres pengobatan pasien,” tegasnya.

Di samping pengobatan dan terapi, dukungan keluarga dan orang-orang terdekat juga bisa mendukung kesembuhan. Dokter Bambang Kusnardi SpS menambahkan, banyak orang yang salah kaprah tentang penanganan pasien. Penderita biasanya dilarang beraktivitas supaya tetap aman. ”Justru, pasien parkinson nggak boleh diem. Harus ada aktivitas supaya keseimbangan dan kontrol gerakannya membaik,” tandasnya.

Spesialis saraf National Hospital Surabaya itu menjelaskan, pendampingan pada pasien berfungsi membantu gerakan. Terutama bila pasien mengalami postural imbalance (ketidakseimbangan) dan perlambatan. Bambang menekankan, penderita parkinson memiliki kekuatan yang sama dengan sebayanya.

”Parkinson merupakan movement disorder. Jadi, masalahnya berada dalam kontrol gerakan, bukan yang lainnya,” imbuhnya. Bila ada dampak lain seperti gangguan memori atau bahasa, lanjut dia, hal itu dipicu gangguan kesehatan lainnya. (adn/fam/c16/na/tia)


Sponsored Content

loading...
 TOP