Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Lia Zen, Runner-up Duta Kopi Indonesia dari Kementerian Koperasi dan UMKM

Biar Ada Empati, Ajak Peracik ke Perkebunan

| editor : 

BERPENGALAMAN: Lia Zen meracik kopi di kedainya yang berada di bilangan bundaran GOR Delta, Sidoarjo.

BERPENGALAMAN: Lia Zen meracik kopi di kedainya yang berada di bilangan bundaran GOR Delta, Sidoarjo. (Ghofuur Eka/Jawa Pos/JawaPos.com)

Terlahir dari keluarga petani kopi, Lia Zen tidak lagi menganggap kopi sebagai komoditas. Bagi dia, kopi adalah tradisi, penuh histori, dan menginspirasi. Berkat dedikasinya, dia menyandang gelar Duta Kopi Indonesia.

RESVIA AFRILENE

SEMERBAK mewangi biji-biji kopi sudah menjadi kawan lama bagi Lia. Terlahir di Lampung, daerah yang memang terkenal dengan kekayaan perkebunan kopinya, perempuan 35 tahun itu sangat menggandrungi kopi. Kopi tidak hanya menjadi bisnis yang kini digeluti, tetapi juga identitas bagi dirinya sebagai anak bangsa.

’’Kopi itu jiwa bagi kami. Saya dan masyarakat Lampung,” ujar Lia. Saat ditemui di kafe miliknya di bilangan bundaran GOR Delta, Lia memeriksa kesegaran biji-biji kopi yang disimpan rapi dalam stoples-stoples kaca. Setiap stoples diberi nama sesuai biji yang ada di dalamnya. Ada Kota Gede, Aceh Gayo, hingga Bali Kintamani.

Dia lalu membuka stoples berisi biji kopi Kota Gede. Stoples itu sedikit lebih kecil daripada yang lain. Kemudian, Lia mencium aromanya. Sambil memejamkan mata, Lia menilai kesegaran kopinya. ’’Masih masa fresh,” celetuknya, lalu menutup stoples.

Lia melakukan itu pada setiap stoples yang ada. Lia mengecek belasan stoples sebelum tiga peracik di kafenya memproses dan menyajikan kopi tersebut ke konsumen. Rutinitas itu dilakukan setiap hari. Lia memberikan contoh agar para peracik kopi yang dididiknya telaten memeriksa kesegaran biji kopi sebelum diseduh.

’’Premium tidak harus mahal. Premium itu ketika biji kopi tersebut diperlakukan dengan baik dan benar,” ujarnya.

Lia kemudian mempersilakan Jawa Pos merasakan kopi racikannya sendiri. Kopi paling spesial tentunya. Dia menyeduh biji kopi itu secara manual atau disebutnya manualbrew. ’’Pakai V 60 saja ya. Ini cara paling dasar yang peracik kopi harus bisa,” ujarnya sembari menuangkan air panas secara memutar di tisu khusus untuk manualbrew V 60.

Saat diseruput, asam nangka menyeruak ke lidah. ’’Itu namanya yellow cattura. Pohonnya hanya ada 700 di Indonesia,” kata Lia, lantas tersenyum bangga.

Kedai kopi adalah dunia di mana Lia berkecimpung. Sebagai desainer dan manajer kafe yang memiliki banyak klien, Lia tahu betul proses industri hilir dari komoditas kopi. Namun, hal itu tidak membuatnya terlena. Lia terus getol mempelajari daerah-daerah yang menjadi pusat perkebunan kopi sejak 2011. ’’Kami yang di sini bisa untung lumayan dengan berbisnis kopi Indonesia. Tapi, begitu melihat nasib petani kopi kita, aku miris banget,” ujarnya.

Bukan hanya Lampung, kota kelahirannya, yang dia jadikan contoh. Istri Wahib Basir itu juga tidak jarang hiking bersama sang suami ke lereng-lereng gunung penghasil kopi. Tujuannya, mempelajari proses pertanian kopi. Di antaranya, kawasan Aceh yang ditinggali Suku Gayo di sekitar Danau Laut Tawar. Lalu, di lereng Gunung Dieng dan lereng Gunung Bromo.

Dia juga intensif mengawal proses perkebunan di Kampung Lereng Gombengsari, Banyuwangi. ’’Awalnya ya sekadar hiking. Hanya, kami berdua selalu mencari yang ada perkebunan kopinya, eh nggak tahunya ketemu yang menarik dan keterusan,” papar Lia, lantas tertawa ringan.

Berawal dari kenyataan bahwa para petani selalu asal memanen biji kopi dan menjualnya dengan harga yang sangat murah kepada tengkulak, Lia pun membulatkan tekad. ’’Aku pikir mereka bukan tidak bisa, tapi tidak tahu,” tegasnya.

Sejak itulah, Lia makin yakin bahwa edukasi ke petani kopi di Indonesia sangat diperlukan. Bahkan, mutlak. Jika tidak, bukan hanya sejarah dan tradisi yang lama-kelamaan luntur. Tapi, jiwa bangsa pun bakal hanyut. Berbekal pengalaman semasa kecil yang hidup di daerah perkebunan kopi, ditambah banyak ilmu yang didapat saat menggeluti bisnis kafe, Lia pun memulai proyek edukasi petani kopi. ’’Yang paling penting, mereka harus tahu cara menaikkan value added. Nah, aku kenalkan mulai red ceri sampai green bean,” jelas ibu tiga anak tersebut.

Menurut Lia, ada dua hal yang perlu diketahui para petani kopi. Pertama, kebutuhan biji kopi bermutu yang dipanen dengan benar. Kedua, pengetahuan akan proses pertanian kopi premium supaya harga jual tinggi. Dia pun tergerak memberikan penjelasan.

Dia mengatakan, proses panen kopi yang biasa dilakukan para petani adalah red ceri. Yakni, jika biji kopi sudah matang, warna kulitnya merah. Nah, biji tersebut memang sudah bisa dipetik dan dijual. Namun, jika diolah dengan sedikit lebih bersabar, harga jualnya bisa berkali-kali lipat.

’’Jadi, aku ajari. Red cerimetiknya harus dipilihin. Istilahnya petik merah,” ujar Lia.

Dia melanjutkan, biji kopi yang dipisah dari kulit tanduknya itu dijemur dulu sampai jadi gabah. Nah, jika pemilahan kulit tanduk gabah usai, itulah yang disebut green bean. Memang butuh proses lebih lama. Tapi, rasa, aroma, dan kualitas kopi dijamin akan jauh lebih spesial.

Saat ini, lanjut Lia, kopi premium seperti itulah yang dicari pasar. Dia bahkan mengajari penduduk yang mayoritas petani kopi cara memanfaatkan kulit biji kopi untuk diseduh. Hal itu dikenal dengan cascara.

Lebih serius lagi, Lia mendatangkan kawan-kawan warga negara asing untuk men-support kegiatan festival kopi. Acara tersebut diadakan pada 2016 di Kampung Kopi Lego, Desa Lerek Gombengsari. Bekerja sama dengan Komunitas Hiduplah Indonesia Raya (Hidora), dia menamakan agenda yang memadukan tradisi berkebun kopi, akulturasi kesenian, dan nilai komoditas unggulan itu dengan coffee trip.

’’Kami berhasil ngumpulin pemusik lokal yang berkolaborasi sama teman-teman musisi jazz dari Prancis,” kenang Lia semringah.

Alhasil, kampung yang dulu hanya mengirimkan kopi dari kebun mereka ke desa tetangga yang sudah memiliki pengusaha besar kini menjadi desa yang mandiri. Swadaya dan sadar wisata. Tulisan perjalanan dan program edukasi yang dia lakukan itu mengantarkan Lia menyabet gelar juara II Duta Kopi Indonesia dari Kementerian Koperasi dan UMKM. Judul esai dan presentasi From Red Ceri to Green Bean membuat para juri kagum dengan perjuangan perempuan muda yang bisa mengenali jenis kopi hanya dari aromanya tersebut.

Para peracik kopi yang direkrut pun selalu dia ajak ke perkebunan kopi. Lia ingin ada koneksi dan hubungan batin antara para petani kopi dan peracik kopi. ’’Bisnis nggak akan long life tanpa empati,” ucap Lia. (*/c7/hud/sep/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP