Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Finance

Efek Donald Trump, USD Diprediksi Terus Menguat

| editor : 

Nilai tukar dolar AS (USD) menguat terhadap mata uang negara-negara lain di dunia termasuk Indonesia.

Nilai tukar dolar AS (USD) menguat terhadap mata uang negara-negara lain di dunia termasuk Indonesia. (Dok. Jawa Pos)

JawaPos.com - Efek terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS masih terasa. Nilai tukar dolar AS (USD) pun menguat terhadap mata uang negara-negara lain di dunia. Salah satunya Indonesia. Kemarin (8/2) kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) ditutup melemah tipis ke Rp 13.337 per USD setelah sebelumnya sempat menguat pada Selasa (7/2) di level Rp 13.332 per USD.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D. W. Martowardojo menyatakan, saat ini dunia tengah menghadapi ketidakpastian. Terutama terkait kebijakan fiskal dan kekhawatiran dunia akan kebijakan Trump yang cenderung proteksionis terhadap perdagangan global. 

"Yang kami perhatikan bukan hanya rupiah, tapi juga melemahnya yuan yang tahun lalu hampir 7 persen. Itu juga akan berdampak ke negara lainnya," kata Agus kemarin.

Di dalam negeri, dia memprediksi rupiah akan terpengaruh harga minyak dunia. Prediksi harga minyak dunia sempat meleset dari USD 42 per barel menjadi USD 47. Naiknya harga tersebut juga terjadi saat pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan satu harga BBM. 

Hal itu cukup memengaruhi inflasi pada Januari 2017. Dari perkiraan BI yang awalnya 0,64 persen, angka tersebut menjadi terealisasi 0,97 persen. "Tapi, ekonomi dunia potensi tumbuh 3,4 persen, dari yang sebelumnya kami perkirakan 3,2 persen. Ini akan memengaruhi nilai tukar juga," lanjutnya.

Chief Economist Bank Mandiri Anton Gunawan menambahkan, penguatan dolar tidak hanya terjadi pada rupiah dan yuan, tetapi juga yen. Terutama menjelang pertemuan Trump dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. (rin/c21/noe) 

Sponsored Content

loading...
 TOP